Archen tidak langsung menjawab permintaan Teriyanto. Selama tiga hari, ia membicarakan pilihan itu dengan psikolog, Tira, dan pengacara. Semua orang memberi informasi, tetapi tidak seorang pun mengambil keputusan untuknya.
Pertemuan dapat dilakukan di ruang berkaca, dijaga petugas, dan direkam untuk kepentingan penyidikan. Archen boleh menghentikannya kapan saja. Teriyanto tidak akan mendapat keringanan hanya karena berbicara kepada anaknya.
"Kalau gue gak datang, apa keterangannya tetap bisa diambil?" tanya Archen.
"Bisa," jawab pengacara. "Dia sudah diperiksa penyidik. Permintaan bertemu lebih bersifat pribadi."
Itu berarti Archen tidak bertanggung jawab menyelamatkan perkara. Ia dapat memilih berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri.
Athena menunggu jawaban di kedai teh. Archen mengaduk minuman yang sudah dingin.
"Gue mau datang," katanya. "Bukan buat maafin. Gue mau lihat apakah gue bisa berada satu ruangan sama dia tanpa kembali jadi anak yang ketakutan."
"Siapa yang akan menemani?"
"Tante Tira dan psikolog. Lo gak usah ikut."
Athena merasa sedikit tersisih, tetapi menerima. Ini bukan semua bagian hidup Archen yang harus ia masuki.
Hari pertemuan tiba. Teriyanto duduk di balik meja dengan dua petugas di belakang. Rambutnya memutih dan tubuhnya jauh lebih kurus daripada ingatan Archen. Ia tampak sadar.
"Archen," panggilnya.
"Saya datang untuk mendengar. Bukan untuk memaafkan."
Teriyanto menunduk. Ia mulai menceritakan malam kematian Sita. Wiratama menekan dirinya karena Sita menyimpan salinan transaksi. Damar datang mengambil dokumen. Teriyanto yang marah dan mabuk menyerang Sita sebelum Damar tiba.
"Tidak ada orang yang menyuruhku memukul mamamu," katanya. "Itu perbuatanku."
Archen menggenggam sisi kursi.
"Kenapa ambulans terlambat?"
"Damar menelepon Wiratama. Mereka mencari dokumen lebih dulu. Aku... aku masih marah dan tidak menolong."
"Mama masih hidup?"
Teriyanto menangis. "Masih bernapas."
Archen ingin melempar kursi. Ia menggunakan isyarat yang disepakati. Psikolog meminta pertemuan dihentikan sementara. Petugas membawa Teriyanto keluar.
Di ruang terpisah, Archen muntah dan menangis. Tira tidak menyentuhnya sampai diminta. Setelah dua puluh menit, Archen memilih kembali untuk satu pertanyaan terakhir.
"Mama menulis supaya saya tidak menyalahkan diri. Apa Papa pernah tahu saya menyalahkan diri?"
"Aku tahu setelah persidangan. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa kamu tidak bersalah."
"Sekarang saya tahu tanpa bantuan Papa."
Teriyanto mengangguk.
Archen berdiri. "Saya berharap Papa memberi keterangan lengkap kepada penyidik. Bukan untuk saya. Karena itu tanggung jawab Papa."
Ia keluar sebelum Teriyanto menjawab.
Di halaman fasilitas, Archen menatap langit. Ia tidak merasa menang. Pertemuan itu memberinya kebenaran, tetapi juga gambar baru yang akan dibawa ke terapi.
Athena menunggu kabar dari sekolah. Archen hanya mengirim: Selesai. Gue aman. Butuh waktu sendiri.
"Oke. Gue di sini kalau nanti mau bicara," balas Athena.
Malamnya Archen membuka buku resep Sita. Ia menemukan catatan kue kesukaannya saat kecil. Untuk pertama kalinya setelah pertemuan, ia mengingat mamanya bukan sebagai korban di lantai rumah, melainkan perempuan yang pernah tertawa ketika tepung memenuhi dapur.
Ia meminta Bi Ijah membantu membuat resep itu akhir pekan nanti.
Kebenaran dari Teriyanto memang penting. Namun Archen tidak mau suara pelaku menjadi suara terakhir yang mendefinisikan hidup Sita.
Kesaksian Teriyanto memperkuat permintaan pemulangan Wiratama. Negara tempat Wiratama berada bersedia menahan sementara setelah bukti penghalangan pertolongan dan pencucian uang dikirim.
Pengacaranya melawan. Ia menyatakan kondisi mental Teriyanto membuat kesaksiannya tidak dapat dipercaya. Penyidik menjawab dengan rekaman server, catatan transaksi, dan keterangan Damar yang saling mendukung.
Archen tidak mengikuti setiap perkembangan. Setelah pertemuan, mimpi buruknya meningkat. Dalam mimpi, Sita terus memanggil ambulans yang tidak pernah datang. Psikolog membantunya mengingat bahwa rekaman adalah masa lalu, bukan peristiwa yang sedang terjadi.
Athena mulai sibuk menghadapi wawancara universitas. Ia merasa bersalah membicarakan kampus ketika Archen sedang berduka.
"Kalau lo berhenti mengejar masa depan setiap gue sedih, hubungan kita akan berhenti di tempat," kata Archen.
"Tapi gue gak mau terlihat egois."
"Pergi wawancara bukan egois."
Athena berangkat ke Yogyakarta bersama bundanya. Archen tidak ikut. Mereka mencoba pola jarak jauh selama tiga hari sebagai latihan. Panggilan malam pertama gagal karena Athena tertidur. Archen sempat panik ketika pesannya tidak dibalas, tetapi menunggu sampai pagi sesuai kesepakatan.
"Sorry, gue kecapekan," kata Athena.
"Gue sempat takut. Tapi gue gak kirim dua puluh pesan."
"Kemajuan besar."
Wawancara Athena berjalan baik. Ia menjelaskan minat pada psikologi komunitas tanpa menggunakan kisah Archen sebagai alasan. Ketika ditanya tokoh yang memengaruhi, ia menyebut bundanya dan pengalaman pindah sekolah.
Archen menjalani wawancara fakultas hukum pada hari yang sama di Jakarta. Pewawancara bertanya apakah kasus keluarganya akan memengaruhi objektivitas.
"Pasti memengaruhi cara saya melihat hukum," jawab Archen. "Tugas saya bukan berpura-pura tanpa pengalaman, tetapi belajar agar pengalaman itu tidak menggantikan bukti."
Kheanu juga mengirim pendaftaran jurusan bisnis di Jakarta. Ia memilih kampus yang memungkinkan tetap membantu toko. Ratih mendorongnya mendaftar ke tempat lebih jauh, tetapi Kheanu memang ingin membangun usaha keluarga, bukan karena dipaksa.
Jessie menunggu hasil beasiswa. Hubungannya dengan ayah semakin dingin. Ibunya diam-diam membantunya menyiapkan dokumen, lalu meminta Jessie tidak memberi tahu.
"Mama juga takut Papa?" tanya Jessie.
Ibunya tidak menjawab langsung. "Mama terlalu lama membiarkan Papa menentukan semuanya."
Jessie mengenali pola yang berbeda dari keluarga Archen, tetapi sama-sama membuat satu orang kehilangan suara. Ia tidak ingin kebebasannya dibangun dengan meninggalkan ibunya sendirian.
"Kalau Jessie diterima, Mama mau ikut konseling keluarga?"
Ibunya mengangguk pelan.
Di perpustakaan, Niko melihat Jessie terus memeriksa surat elektronik.
"M-menunggu pengumuman gak bikin datang lebih cepat," katanya.
"Gue tahu. Tapi jari gue gak tahu."
Mereka tertawa. Kheanu datang membawa pesanan guru dan menjaga percakapan tetap biasa setelah ciuman beberapa minggu lalu. Jessie menghargai ruang itu meski perasaannya tumbuh.
Menjelang akhir pekan, kabar pemulangan Wiratama diterima. Ia akan dibawa kembali dalam pengawalan dua minggu kemudian.
Pada hari yang sama, Athena menerima surat kelulusan universitas Yogyakarta.
Ia menatap layar sambil bahagia dan takut. Mimpi yang diinginkannya kini nyata, begitu pula jarak yang selama ini hanya mereka bicarakan.