Anak-anak SD itu menyanyi setiap pagi sebelum masuk kelas, dan Lana sudah beberapa kali mendengarnya dari kejauhan tanpa benar-benar menyimak. Tembang dolanan — lagu permainan anak — terdengar riang, dinyanyikan sambil bertepuk tangan dan melingkar, seperti lagu anak-anak di mana pun. Tapi sejak ia mulai membaca catatan Mbah Surti, sejak kata-kata seperti utang dan tumbal mulai mengisi kepalanya, lirik lagu itu mulai terdengar berbeda.
Ia meminta Bayu izin masuk ke sekolah pagi itu, pura-pura ingin melihat-lihat kondisi bangunan untuk catatan tanahnya. Bayu, yang mengajar kelas itu, mengangguk dan membiarkannya berdiri di belakang. Lana menyalakan perekam suara di ponselnya — satu-satunya fungsi ponsel itu yang masih berguna di desa tanpa sinyal — dan menaruhnya di saku.
Anak-anak melingkar di halaman. Tangan-tangan kecil saling bergandengan. Dan mereka menyanyi.
Suaranya jernih dan riang dan sama sekali tidak takut, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka nyanyikan. Itu hanya lagu yang diajarkan ibu mereka, yang diajarkan nenek mereka, turun-temurun, sebuah lagu yang sudah ada lebih lama dari siapa pun yang masih hidup untuk mengingat dari mana asalnya.
Malam harinya, Lana duduk dengan kertas dan pena dan buku jawi Mbah Surti, dan ia memutar rekaman itu berkali-kali, menuliskan liriknya kata demi kata, lalu menerjemahkan yang bisa ia terjemahkan, dan mencari yang tak ia mengerti di catatan neneknya. Pelan-pelan, baris demi baris, lagu anak-anak itu membuka dirinya, dan Lana berharap ia tak pernah memintanya membuka.
Pitik walik saba kebon — itu baris pertama, polos, tentang ayam yang berkeliaran di kebun. Tapi baris berikutnya:
Sapa sing weruh, aja celathu. Siapa yang melihat, jangan berkata.
Banyu ireng njaluk getih. Air hitam meminta darah.
Pitung sumur, nem kang disebut. Tujuh sumur, enam yang disebut.
Sing ora ana, aja ditakon. Yang tidak ada, jangan ditanya.
Yen wis teka mangsane — kalau sudah tiba waktunya —
Bukak lawang, wenehana. Buka pintu, berikanlah.
Siji wae, ben kabeh slamet. Satu saja, agar semua selamat.
Lana meletakkan penanya. Tangannya gemetar. Ini bukan lagu permainan. Ini petunjuk. Ini ritual yang disembunyikan dalam bentuk paling tak berdosa yang bisa dibayangkan — di mulut anak-anak, di tepuk tangan dan lingkaran, agar tak pernah dilupakan, agar tiap generasi tumbuh dengan aturan-aturannya tertanam dalam tanpa pernah tahu artinya. Jangan menimba malam. Jangan bicara tentang sumur ketujuh. Dan saat waktunya tiba — buka pintu, berikan satu, agar semua selamat.
Berikan satu. Satu nyawa. Agar semua selamat.
Ia memutar rekaman itu sekali lagi, untuk memastikan ia tak salah dengar, untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya paranoia, hanya kelelahan, hanya pikiran yang sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan sehingga melihat ancaman di mana-mana.
Suara anak-anak mengisi kamarnya, riang, melingkar, bertepuk tangan. Siji wae, ben kabeh slamet. Dan kemudian — di bagian akhir lagu, di baris terakhir yang ia mainkan untuk kesepuluh kalinya, sesuatu yang tak pernah ia sadari saat berdiri di halaman sekolah itu tadi pagi karena suara anak-anak menutupinya —
Ada suara kelima.
Bukan anak-anak. Bukan suara Bayu yang mengawasi. Sebuah suara dewasa, dalam, parau, basah, bergabung dalam nyanyian itu, terlambat setengah ketukan dari yang lain, seperti seseorang yang menyanyi dari ruang yang jauh dan dingin. Suaranya datang seakan dari bawah, dari dalam tanah, dari arah yang Lana tahu — yang tubuhnya tahu — adalah arah sumur. Ia menyanyikan baris terakhir dengan kerinduan yang membuat darah Lana membeku:
Siji wae. Siji wae. Ben aku metu.
Satu saja. Satu saja. Agar aku keluar.
Lana mematikan rekaman. Lalu, dengan jari yang gemetar, ia menghapusnya — seakan menghapus file itu bisa menghapus suara itu dari telah ada, dari telah ikut bernyanyi sepanjang waktu di bawah suara anak-anak yang riang, sabar dan lapar dan menunggu untuk diberikan satu, hanya satu, agar ia bisa keluar.