Bau itu mulai dari telapaknya.
Lana pertama kali menyadarinya setelah mimpi menimba pertama, berminggu lalu — bangun dengan telapak tangan yang berbau lumpur, bau dasar sumur, bau air yang busuk dan tua. Ia mengiranya sisa mimpi, kotoran yang menempel saat tidur. Ia mencucinya. Bau itu hilang sebentar, lalu kembali.
Sekarang ia tak bisa lagi berpura-pura.
Bau itu tidak hilang. Ia mencuci tangannya dengan sabun cuci piring, dengan sabun mandi, dengan abu dapur seperti yang dilakukan orang-orang tua, dengan air jeruk nipis yang katanya menghilangkan amis. Ia menggosoknya sampai kulitnya merah dan perih. Bau itu surut sementara di bawah aroma sabun dan jeruk, tapi begitu sabun mengering, ia kembali, lebih pekat dari sebelumnya — bau lumpur hitam, bau air yang berdiri diam di kegelapan selama ratusan tahun, bau yang sekarang ia kenali karena ia sudah menciumnya di celah beton sumur ketujuh, di rambut basah dalam buku, di mimpi-mimpinya.
Dan kulitnya mulai berubah.
Di pagi hari ketujuh sejak ia berhenti bisa menyangkal, Lana memeriksa telapaknya di bawah cahaya jendela dan melihat lepuhan-lepuhan halus muncul di permukaannya. Kecil, sebening embun, tersebar seperti tetesan keringat yang membeku di bawah kulit. Saat ia menekannya, ia tidak sakit — tapi dari dalamnya merembes cairan jernih dengan bau yang sama, bau sumur, seakan kulitnya sendiri telah menjadi semacam mata air kecil yang merembeskan sesuatu yang seharusnya tertahan di dalam tanah, jauh di bawahnya.
Ia menunjukkannya pada Bayu, yang wajahnya memucat dan berkata ia akan membawa Lana ke Mbah Jum, ke dukun di dusun seberang, secepatnya, besok pagi.
Malam itu adalah malam terakhir Lana bisa berbohong pada dirinya sendiri.
Ia berbaring di kamarnya, terjaga, telapak tangannya yang melepuh diletakkan di atas dada, menatap langit-langit kayu joglo yang gelap. Listrik masih padam. Hanya ada cahaya bulan samar yang menembus celah jendela, dan suara serangga malam, dan di kejauhan, gemericik Kali Suwung. Ia hampir tertidur, melayang di tepi kesadaran, ketika ia mendengarnya.
Namanya.
Mula-mula begitu pelan ia mengira itu bagian dari mimpi yang mulai datang. Lana. Tapi kemudian lagi, lebih jelas, dan ia terjaga sepenuhnya, jantungnya berhenti.
Suara itu datang dari belakang rumah. Dari halaman. Dari balik rumpun bambu kuning. Dari bawah cor beton sumur ketujuh — dari dalam tanah, teredam, naik melalui lapisan beton dan garam dan paku berkarat dan kafan bertulis rajah, seperti suara seseorang yang memanggil dari dasar yang sangat, sangat dalam.
"Lana."
Ia mengenal suara itu.
Ia tidak seharusnya mengenalnya. Ia hanya punya kenangan samar — sepotong wajah, tangan yang basah, suara timba, perasaan ditinggalkan di sebuah gerbang dalam kabut. Tapi tubuhnya mengenalnya sebelum pikirannya bisa menolak, mengenalnya dengan kerinduan dan kehancuran yang sama yang ia rasakan saat melihat wajah di dalam genangan hujan, saat mencium rambut basah dalam buku. Suara seorang ibu. Suara ibunya. Memanggil namanya dari dalam sumur, lembut, mengiba, penuh cinta yang sudah lama menunggu untuk diberikan.
"Lana, Nduk. Sini, Nduk. Ibu di sini. Ibu nggak pergi ke mana-mana. Ibu nungguin kamu dari dulu."
Lana berdiri dari ranjang sebelum ia sadar ia bergerak, kakinya membawanya ke pintu kamar, ke tangga, menuruni anak tangga kayu yang dingin, menuju pintu belakang, menuju suara itu, karena suara itu adalah segala yang ia inginkan sepanjang hidupnya tanpa pernah berani mengakuinya — bukti bahwa ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan, bahwa ada seseorang yang menunggu, bahwa ia milik seseorang, milik suatu tempat.
Tangannya menyentuh kunci pintu belakang. Telapaknya yang melepuh berdenyut, dan dari celah pintu, kabut malam merembes masuk membawa bau lumpur, bau sumur, bau yang sama dengan tangannya — dan untuk satu detik panjang, Lana berdiri di sana, di ambang, antara dalam dan luar, dengan suara ibunya memanggil dari kegelapan, dan ia tahu, ia tahu dengan kejernihan yang mengerikan, bahwa jika ia membuka pintu itu dan berjalan keluar, ia tidak akan pernah kembali.
Tangannya berhenti di kunci. Telapaknya, yang melepuh, yang berbau, yang sudah ditandai, menempel pada logam dingin itu, dan air menetes dari celah-celah kulitnya ke lantai kayu.
"Lana." Suara itu memanggil lagi, sangat lembut sekarang, sangat sabar. "Buka pintunya, Nduk."