Malam pertama Lana di joglo, rumah itu bernapas.
Ia tidak bermaksud menginap. Rencananya menginap di kota kecamatan dan bolak-balik. Tapi jalan ke kecamatan menembus jembatan Kali Suwung yang renggang itu dalam gelap, dan tak ada penginapan di desa, dan ketika tahlil bubar para tetangga, dengan keramahan yang tak bisa ditolak, sudah menggelar kasur tipis di amben joglo, menyiapkan kendi air, dan pergi sebelum magrib seakan ada janji yang harus mereka kejar di rumah masing-masing.
Maka Lana sendirian sekarang, di rumah yang lebih tua dari kakek-buyutnya.
Joglo itu besar dan gelap. Empat tiang utama — soko guru, demikian para tetangga menyebutnya — berdiri di tengah, batang jati hitam yang tebal, berukir motif tumbuhan yang sudah aus. Atap menjulang tinggi ke kegelapan di atas, struktur kayu bersusun rumit yang dalam keremangan lampu teplok tampak seperti tulang rusuk binatang raksasa yang menelannya. Dinding gebyok berukir. Lantai tanah yang dilapis ubin tua, dingin di telapak kaki.
Lana memeriksa ruangan satu per satu, lampu senter ponsel di tangan karena listrik, kata tetangga tadi, "ndilalah sering pejah" — sering mati. Ada ruang depan yang lapang. Ada pringgitan. Lalu, di belakang, tiga senthong — tiga kamar berjajar.
Dua senthong di kiri dan kanan terbuka, kosong, hanya berisi lemari tua dan tumpukan kain. Tapi senthong di tengah — senthong tengah — terkunci.
Pintunya kayu tebal, daun pintu ganda dengan kunci gembok besi yang sudah berkarat menjadi cokelat-jingga. Lana menarik gemboknya. Tak bergeming. Di sela daun pintu yang renggang, ia mengintip dengan senter, tapi hanya melihat kegelapan dan secercah benda-benda yang tak ia kenali — kendi-kendi, mungkin, dan sesuatu yang berkilau samar seperti logam atau air.
Dan baunya. Kemenyan. Pekat. Lebih pekat dari di pelataran tadi. Bukan asap baru — bau yang sudah meresap ke kayu selama bertahun-tahun, bertumpuk dan tumbuh sampai menjadi bagian dari rumah itu sendiri. Bau itu menyelinap keluar dari celah pintu seperti napas, dan ketika Lana mendekatkan wajahnya untuk mengintip lagi, ia merasa — ini gila, ia tahu ini gila — ia merasa ada yang bernapas balik dari dalam. Hawa lembap menyentuh pipinya.
Ia mundur. "Listrik. Genangan air. Lembap," katanya keras-keras, seakan dengan menamai gejala fisiknya ia bisa menjinakkannya. Suaranya sendiri terdengar kecil di rumah sebesar itu.
Ia kembali ke amben di ruang depan. Mengunci pintu utama, walau kunci tua itu rasanya tak akan menahan apa pun. Berbaring. Menatap struktur atap yang menghilang dalam gelap. Dan rumah itu mulai bersuara.
Pertama, derak. Kayu jati menyusut di udara malam yang dingin — itu wajar, ia tahu, kayu memuai dan menyusut. Tapi deraknya teratur. Tik. ... Tik. ... Tik. Seperti langkah. Seperti seseorang berjalan pelan dari satu sudut joglo ke sudut lain, sangat hati-hati, di atas kayu yang ia kenal betul agar tidak terlalu berisik.
Lalu, lebih dalam ke malam — Lana tak tahu apakah ia sempat tertidur — datang suara kedua.
Suara dari halaman belakang.
Kreeek. Jeda. Kreeek. Jeda. Suara kerekan kayu yang berputar pada porosnya. Suara tali kasar yang menggesek kerekan, bergerak naik dan turun. Suara timba yang turun ke dalam sumur, membentur dinding batu, lalu — plung — menyentuh air jauh di bawah, dan diisi, dan ditarik kembali. Kreeek. Kreeek.
Seseorang sedang menimba air. Di halaman belakang. Tengah malam.
Lana terbangun penuh dalam sekejap, jantungnya berlari. Maling, pikirnya — pikiran yang masuk akal, pikiran kota. Ia meraih ponselnya, menyalakan senter, dan dengan keberanian yang lebih banyak datang dari amarah ketimbang nyali, ia berjalan menuju pintu belakang joglo, ke pintu yang menghadap lurus ke arah rumpun bambu kuning itu.
Suara timba terus berbunyi saat ia berjalan. Kreeek. Plung. Kreeek.
Ia membuka kunci pintu belakang. Membuka daunnya. Cahaya senternya melompat keluar ke halaman.
Suara itu berhenti seketika. Di tengah ayunan. Seakan dipotong.
Halaman belakang kosong. Tanah lembap berkabut. Rumpun bambu kuning berdiri diam di ujung, daun-daunnya tak bergerak walau Lana bisa merasakan suara timba seakan masih bergetar di udara. Dan di balik bambu, dalam gelap, ada bentuk gundukan rendah yang ia tahu, tanpa harus melihat dengan jelas, adalah mulut sumur.
Tak ada timba. Tak ada kerekan. Tak ada tali. Sumur itu — Lana akan menyadarinya keesokan harinya dengan ngeri yang dingin — disegel beton. Tak mungkin ada yang menimba air dari sumur yang tertutup cor.
Ia berdiri lama di ambang, senter teracung ke halaman yang kosong, menunggu suara itu kembali. Suara itu tak kembali. Hanya kabut yang merayap pelan dari arah bambu kuning, dan keheningan yang terasa terlalu penuh, terlalu sadar, seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan seseorang yang menahan napas begitu pintu dibuka.
Lana menutup pintu belakang. Memutar kunci. Mendorong gerendel sampai mentok. Lalu, karena tangannya tak mau berhenti, ia menyeret sebuah lemari kayu rendah untuk menahan daun pintu — pekerjaan yang sia-sia, ia tahu, terhadap sesuatu yang suaranya bisa datang dari sumur yang sudah dicor mati.
Ia kembali ke amben dan duduk memeluk lutut sampai subuh, mata terbuka, telinga menangkap setiap derak kayu. Suara timba tak terdengar lagi malam itu. Tapi sampai langit di celah gebyok mulai kelabu, Lana tak bisa melepaskan satu pikiran yang menetap dingin di dadanya: bahwa suara itu tadi nyata, sangat nyata, sampai ke plung air di kedalaman — dan tak ada satu pun tangan hidup di desa ini yang bisa membuatnya.