Notaris desa datang pukul sepuluh pagi, dan kedatangannya membuat Lana lega — pertama kalinya sejak tiba, ia bertemu seseorang yang membawa map plastik, pulpen, dan bahasa yang ia mengerti: bahasa hukum, bahasa surat, bahasa yang bisa diukur.
Namanya Pak Notaris Wirya, lelaki tua bertubuh ringkih dengan kacamata tebal, yang ternyata bukan notaris sungguhan dalam arti formal melainkan semacam juru tulis desa yang turun-temurun mengurus surat-surat tanah dan waris. Ia duduk di amben, membuka mapnya, menyusun kertas-kertas menguning dengan tangan yang sangat hati-hati, seolah kertas itu bisa pecah.
"Mbah Surti meninggalkan wasiat, Nak Lana," katanya. "Sah. Ditulis tangan, ada saksi, ada cap jempol. Tanahnya, rumahnya, semua diwariskan kepada Nak Lana, cucu satu-satunya dari garis langsung."
Lana mengangguk, mencondongkan badan. "Berarti saya bisa langsung urus penjualannya? Saya butuh tahu apa rumah ini dan tanahnya bisa cepat dijual. Saya harus segera kembali ke kota."
Pak Wirya tidak langsung menjawab. Ia membetulkan kacamatanya. Ia membalik satu lembar, menemukan paragraf yang ia cari, dan jarinya yang gemetar menunjuknya.
"Bisa," katanya pelan. "Tapi ada... pasal."
"Pasal?"
"Mbah Surti menuliskannya sendiri. Saya hanya menyalin dan menyaksikan." Ia membersihkan tenggorokan dan membaca, suaranya merendah seperti ada yang tak boleh mendengar: "'Rumah dan tanah ini hanya boleh dijual, dipindahtangankan, atau dilepaskan oleh ahli waris setelah ahli waris menetap dan menuntaskan kewajiban penjaga sebagaimana mestinya.'"
Hening. Asap kemenyan dari semalam masih menggantung samar di balok-balok atap.
"Kewajiban penjaga," ulang Lana. "Apa itu?"
Pak Wirya melepas kacamatanya, mengusapnya dengan ujung baju, lalu memakainya lagi — gerakan untuk mengulur waktu, Lana tahu, gerakan orang yang tak ingin menjawab. "Saya tidak tahu, Nak. Saya hanya juru tulis. Itu istilah... istilah keluarga Mbah Surti. Mungkin soal merawat rumah. Merawat makam leluhur. Hal-hal adat."
"Hal adat tidak ditulis dalam surat tanah, Pak."
"Di Karangwungu," kata Pak Wirya, dan untuk pertama kalinya ia menatap Lana lurus, dan di balik kacamata tebal itu matanya tampak takut, "banyak hal ditulis di tempat yang tidak biasa."
Lana mengambil kertas itu, membacanya sendiri. Tulisan tangan Mbah Surti — yang ini ia kenali, ia pernah melihat tulisan itu di sudut foto, di belakang wesel lama — kaku, miring, huruf-huruf yang ditekan dalam-dalam ke kertas. Pasal itu memang ada. Hitam di atas kuning. Tak terbantahkan.
Ia menelusuri sampai ke bawah, ke tanda tangan. Mbah Surti binti... lalu nama-nama leluhur yang tak ia kenal. Dan tanda tangan itu — guratan tinta yang membentuk nama neneknya.
Tinta itu basah.
Lana mengerutkan dahi. Ia menyentuhnya dengan ujung jari, ragu. Basah. Tinta hitam pekat yang menempel di kulitnya, melumur, seakan baru saja dituliskan beberapa menit lalu. Tapi kertas ini, kata Pak Wirya, ditulis berbulan-bulan lalu, saat Mbah Surti masih hidup dan menyiapkan kematiannya. Tinta tak mungkin basah setelah berbulan-bulan. Tinta mengering dalam hitungan menit.
"Pak Wirya," kata Lana, suaranya berusaha tetap datar, "tanda tangannya basah."
Pak Wirya tidak menunduk untuk memeriksa. Ia tidak menyentuh kertas itu. Ia hanya menatap Lana, lama, dan wajah tuanya kehilangan seluruh warnanya, dan dengan sangat hati-hati ia mulai membereskan kertas-kertasnya yang lain, menyusunnya kembali ke dalam map, tangannya gemetar lebih hebat dari sebelumnya.
"Sebaiknya," katanya, bangkit berdiri terlalu cepat untuk orang setua dia, "Nak Lana tidak terlalu lama menyentuh kertas itu. Dan—" ia berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh, "—jangan biarkan kertas itu menyentuh air. Tinta seperti itu... menyebar di air."
Lalu ia pergi, langkahnya tergesa menuruni tangga joglo, meninggalkan Lana sendirian dengan selembar kertas tua yang tanda tangannya basah, dan dengan satu kata yang kini menempel di pikirannya seperti tinta di jarinya, tak mau hilang: penjaga.
Menjaga apa? Dan dari siapa?
Ia menatap ke arah pintu belakang, ke arah rumpun bambu kuning, dan untuk sesaat ia merasa kertas di tangannya dingin, sedingin air yang baru ditimba dari kedalaman.