Lana memutuskan, dengan logika seorang arsitek yang terbiasa membaca denah sebelum membangun, bahwa untuk keluar dari tempat ini ia harus memahaminya dulu. Maka pagi berikutnya ia keluar mencari air bersih — kran di joglo hanya mengeluarkan udara dan suara berdeguk — dan menemukan, alih-alih, seseorang yang akhirnya mau bicara.
Bayu namanya. Lana memergokinya di depan SD desa, sebuah bangunan rendah berdinding kapur kusam, sedang menambal genteng yang bocor dengan tangannya sendiri. Lelaki muda, sekitar usianya, kaus oblong dan celana pendek, kulit cokelat matahari. Yang membuat Lana berhenti adalah caranya berbicara ketika ia bertanya soal air — bukan ramah-dingin seperti yang lain, bukan menunduk, melainkan menatap lurus dan menjawab dengan bahasa Indonesia yang lancar, sedikit terdidik.
"Sumur joglo Mbah Surti memang nggak buat dipakai," kata Bayu, turun dari bangku. "Mbak ambil air di Sumur Tengah aja, dekat balai. Mari saya antar. Hati-hati, jalannya licin."
Di perjalanan, sambil menenteng jeriken kosong, Bayu bercerita bahwa ia lahir di Karangwungu, sempat kuliah pendidikan di kota, lalu pulang jadi guru honorer. "Setengah orang sini, setengah orang sana," katanya tertawa kecil, tapi tawanya tak benar-benar sampai ke matanya. "Jadi saya ngerti kenapa Mbak bingung. Desa ini... banyak aturannya. Yang nggak ditulis di mana-mana."
"Misalnya?" Lana memasang telinga. Ini yang ia butuhkan. Data.
Bayu memperlambat langkah, menengok kiri-kanan sekilas — kebiasaan, Lana mulai menyadari, yang dimiliki semua orang di sini sebelum mereka bicara — lalu menurunkan suaranya.
"Satu. Jangan menimba air sesudah magrib. Dari sumur mana pun. Air malam itu 'bukan punya kita', kata orang tua-tua. Kalau kehabisan, tahan sampai subuh."
Lana teringat suara kerekan tengah malam itu. Bulu kuduknya meremang. Ia tak mengatakannya.
"Dua. Tutup jendela waktu magrib. Sebelum bedug. Semua jendela. Kalau perlu, kasih garam di ambangnya." Bayu mengangkat bahu seakan minta maaf atas hal yang ia sendiri tak sepenuhnya bisa jelaskan. "Saya tahu kedengarannya kuno. Tapi di sini orang ngelakuinnya tanpa mikir, kayak nutup pintu kulkas."
"Tiga?"
Bayu berhenti total. Mereka sudah dekat Sumur Tengah, di pelataran balai desa, dan di seberang sana beberapa warga sedang berkumpul. Ia menunggu sampai tak ada yang dalam jarak dengar, lalu bicara nyaris berbisik.
"Tiga, yang paling penting. Jangan pernah menyebut 'sing ngisor'. Yang di bawah. Jangan dibahas, jangan ditanya, jangan dihitung." Matanya menatap Lana tajam, peringatan yang tulus. "Apalagi—" ia ragu, "—apalagi soal yang di belakang rumah Mbah Surti. Mbak ngerti maksud saya?"
Lana menatapnya balik. Rumpun bambu kuning. Sumur bercor. Yang ketujuh. "Saya nggak ngerti apa-apa, Bayu," katanya jujur. "Itu masalahnya."
Bayu membuka mulut, seakan akan mengatakan sesuatu yang besar — lalu menutupnya lagi. "Nanti," katanya pelan. "Nggak di sini."
Mereka mengisi jeriken di Sumur Tengah. Air keluar dingin dan jernih, dan Lana, yang kehausan, hampir menciduknya dengan tangan untuk minum — tapi Bayu memegang pergelangannya, lembut tapi cepat. "Direbus dulu," katanya. Hanya itu. Lana menarik tangannya.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati halaman belakang SD, tempat anak-anak kelas kecil sedang bermain dalam lingkaran, bergandengan tangan, berputar. Mereka menyanyi. Tembang dolanan, lagu permainan anak-anak Jawa, dengan melodi sederhana yang naik-turun riang.
Lana tersenyum — adegan yang manis, normal, anak-anak bermain — sampai ia mendengar liriknya.
Suaranya ceria, tapi katanya bukan kata anak-anak. Bahasa Jawa lama, halus, yang hanya separuh ia mengerti. Tapi yang separuh itu cukup. Cidhuken banyu... ngombe sing ngisor... Ambilkan air... beri minum yang di bawah... Yen ora diwenehi... njaluk dhewe... Kalau tidak diberi... ia minta sendiri... Siji saben... Satu setiap...
Anak-anak itu berputar makin cepat, tertawa, menyanyi tentang memberi makan sumur, dengan wajah polos yang sama sekali tak mengerti apa yang mereka nyanyikan — atau, Lana berpikir dengan ngeri yang dingin, justru mengerti, lebih dari semua orang dewasa yang sengaja melupakan.
Ia menoleh ke Bayu. Wajah Bayu tegang, rahangnya mengeras. Ia menatap anak-anak itu dengan ekspresi yang bukan kegelisahan biasa — melainkan duka, dan ketakutan lama, ketakutan yang punya nama.
"Lagu itu," kata Lana pelan. "Liriknya tentang—"
"Jangan diterjemahkan, Mbak," potong Bayu, suaranya serak. "Tolong. Kalau Mbak terjemahkan, Mbak ikut mengingatnya. Dan begitu kita ingat... lebih susah lupa."
Anak-anak terus berputar. Lagu itu berputar bersama mereka. Dan jauh di belakang joglo, di balik bambu kuning, Lana bisa bersumpah ia mendengar — sangat samar, di bawah suara anak-anak — sesuatu yang lain ikut bersenandung pelan, dari dalam tanah, dari bawah beton, suara yang sudah lama hafal lagu itu.