Untuk menjual tanah, Lana butuh tahu apa yang ia jual. Maka pada hari keempat, ia melakukan apa yang paling ia kuasai: memetakan.
Ia membawa buku sketsa, pensil, dan pita ukur, berjalan menyusuri desa di bawah matahari pucat yang nyaris menembus kabut. Ia menggambar batas-batas tanah, mengukur jarak, menandai patok. Tanah joglo ternyata luas — jauh lebih luas dari yang ia kira, membentang ke belakang melewati rumpun bambu kuning, sebidang lahan yang anehnya tak digarap apa pun, tak ditanami, hanya tanah kosong yang lembap.
Dan saat ia memetakan posisi desa untuk menentukan nilai strategis tanah — dekat ke balai? dekat ke jalan? — ia mulai menandai sumur-sumur sebagai penanda. Sumur, di peta desa kuno mana pun, adalah pusat orientasi.
Ia menandai Sumur Lor di utara, dekat masjid. Sumur Kidul di selatan, dekat pemakaman. Sumur Wetan di timur, di pinggir sawah. Sumur Kulon di barat, menempel hutan pinus. Sumur Tengah, di pusat desa, dekat balai. Dan Sumur Pengilon, di sisi yang lebih rendah, dekat mata air, airnya terkenal jernih.
Ia menghubungkan keenam titik di kertas dengan garis pensil tipis.
Pensilnya berhenti.
Keenam sumur itu tidak tersebar acak. Mereka membentuk lingkaran. Lingkaran yang nyaris sempurna — Lana mengukur ulang dengan jangka di buku sketsanya, tak percaya — jarak tiap sumur ke pusat hampir sama persis. Enam titik di tepi sebuah cakram raksasa yang menutupi seluruh desa.
Dan pusat lingkaran itu, titik tepat di tengah, jatuh tidak di Sumur Tengah seperti yang ia kira. Sumur Tengah hanya dekat pusat, tidak persis. Pusat lingkaran yang sebenarnya — Lana menelusuri garis-garis bantu dengan jari yang mulai dingin — jatuh di tanahnya. Di belakang joglo. Di balik rumpun bambu kuning.
Di sumur ketujuh.
Enam sumur warga melingkari sumur ketujuh seperti enam tiang pagar mengelilingi satu titik di tengah. Seperti penjaga yang berdiri membentuk lingkaran. Seperti — dan pikiran ini datang tanpa diundang, dingin dan jelas — seperti enam paku yang dipakukan di sekeliling sesuatu agar ia tak bisa keluar.
Lana menatap petanya lama. Otak arsiteknya menolak kebetulan. Tata letak ini disengaja. Seseorang, entah berapa generasi lalu, menggali enam sumur di posisi geometris yang presisi mengelilingi satu titik pusat. Ini bukan desa yang tumbuh organik. Ini denah. Ini rancangan.
Tapi merancang apa?
Tangannya gemetar saat ia menutup buku sketsa. Ia memutuskan untuk memeriksa satu sumur lebih dekat, untuk meredam dugaan gilanya dengan fakta. Sumur Pengilon yang paling dekat dari posisinya kini, dan airnya jernih, katanya. Ia berjalan ke sana.
Sumur Pengilon berada di cekungan tanah dekat mata air, dikelilingi pohon-pohon kecil, dan benar — airnya jernih luar biasa. Tak seperti sumur lain yang gelap di kedalaman, air Sumur Pengilon memantulkan langit dengan sempurna, permukaannya seperti cermin yang dipasang mendatar di mulut sumur. Pengilon. Cermin. Nama yang tepat.
Lana mencondongkan badan ke tepi sumur batu, menatap ke bawah. Dan di permukaan air yang tenang, wajahnya memandang balik. Rambut tergerai, lingkaran hitam di bawah mata karena kurang tidur, kerudung yang masih ia pakai. Wajahnya sendiri, lelah dan cemas.
Lalu wajah di air itu tersenyum.
Lana tidak tersenyum.
Ia merasakannya sebelum ia memahaminya — otot-otot wajahnya sendiri tetap diam, tegang, mulutnya terkatup — sementara di permukaan air, sepersekian detik di belakang seharusnya pantulan bergerak bersama, wajahnya melengkungkan bibir ke atas, perlahan, ke dalam senyuman yang lebar dan basah dan penuh, senyuman yang tak pernah ia perintahkan, senyuman yang menatapnya balik dari dalam air dengan mata yang — ia bersumpah — sedikit lebih gelap dari matanya sendiri.
Lana terlonjak mundur. Pita ukurnya jatuh ke tanah berkelontang. Ketika ia memberanikan diri menengok kembali ke air, hanya beberapa detik kemudian, riak telah menyapu permukaan dan pantulan telah kembali menjadi miliknya — wajah pucat, mulut ternganga, mata membelalak ketakutan.
Lana yang asli. Berdiri kering di tepi sumur, bernapas cepat, jantung memukul-mukul.
Sementara di kedalaman, jauh di bawah cermin air yang kini bergoyang pelan, ia tidak bisa lagi memastikan apakah pantulannya benar-benar sudah berhenti tersenyum.