Ia tak bisa lagi menundanya. Pada sore hari keempat itu, dengan tangan masih dingin dari Sumur Pengilon dan dengan keberanian yang ia paksakan, Lana memutuskan untuk akhirnya mendekati hal yang sejak tiba telah ia hindari: rumpun bambu kuning di belakang joglo, dan apa pun yang berdiri di baliknya.
Bambu itu rapat. Bukan bambu hijau biasa yang tumbuh di mana-mana di desa, melainkan bambu kuning keemasan, ruas-ruasnya pendek dan padat, ditanam — Lana bisa melihatnya sekarang — dalam barisan yang sengaja, melingkari satu titik, pagar hidup yang rapat sampai sulit ditembus pandang. Daun-daunnya kering keemasan walau musim belum kemarau, gemerisik pelan walau tak ada angin.
Ia mencari celah. Menemukan satu di sisi yang menghadap pintu belakang joglo — celah sempit di antara dua rumpun, seperti gerbang yang dengan sengaja disisakan, jalan masuk yang hanya boleh dilalui oleh yang tahu. Ia menyibak. Bambu menggores lengannya. Ia melangkah masuk ke dalam lingkaran bambu.
Dan di sana ia berdiri.
Sumur ketujuh.
Tidak seperti sumur lain. Tak ada kerekan, tak ada timba, tak ada bibir sumur batu yang ramah tempat orang menciduk air. Yang ada hanya lingkaran. Mulut sumur, lebar sekitar satu setengah meter, ditutup rapat oleh cor beton tebal — bukan tutup yang bisa diangkat, melainkan pengecoran permanen, beton yang dituangkan langsung menyumbat liang itu sampai rata dengan tanah dan sedikit menggunduk, seperti tambalan pada luka yang terlalu dalam.
Dan beton itu bertabur benda-benda.
Garam. Lana mengenalinya — butiran-butiran kasar yang ditanam ke dalam permukaan beton saat masih basah, sebagian sudah larut dan meninggalkan lubang-lubang kecil, sebagian masih utuh berkilau. Garam, mengelilingi seluruh permukaan dan menebal di tepi.
Paku. Paku-paku besi tua, panjang, berkarat menjadi cokelat-merah, ditancapkan ke dalam beton dengan kepala menghadap ke atas, puluhan jumlahnya, membentuk pola — bukan acak, Lana melihat, melainkan pola melingkar yang berpusat, seperti jari-jari roda, seperti rajah dari besi.
Dan kain. Di antara garam dan paku, terselip dan setengah membatu ke dalam beton, potongan-potongan kain putih yang dulu mungkin putih — kain kafan, otaknya menamainya dan ia berharap ia salah — bertulis huruf-huruf Arab dan aksara Jawa yang sudah pudar, rajah, jimat, doa yang dituliskan untuk mengunci sesuatu.
Lana berdiri di tepi lingkaran beton itu, dan untuk waktu yang lama ia tak bisa bergerak. Ini bukan sumur yang ditutup karena kering atau berbahaya. Tak ada yang menutup sumur kering dengan garam, paku, dan kafan berajah. Ini adalah segel. Seseorang — keluarganya, neneknya, leluhurnya — bersusah payah dengan beton, besi, garam, dan mantra, untuk menyegel sumur ini bukan agar orang tak jatuh ke dalam.
Melainkan agar sesuatu di dalam tak bisa keluar.
Ia berjongkok perlahan. Mendekatkan tangan ke permukaan beton — tak menyentuh, hanya mendekat. Dan ia merasakannya.
Hangat.
Tanah dan beton di sekeliling sumur ketujuh hangat, sementara seluruh desa dingin dan berkabut. Bukan hangat matahari — matahari hampir tenggelam, dan ke sini cahayanya tak pernah benar-benar masuk lewat bambu. Hangat dari bawah. Hangat seperti tubuh. Seperti sesuatu yang bernapas pelan di kedalaman, dan napasnya naik lewat pori-pori beton.
Dan lembap. Permukaan beton itu berkeringat. Tetes-tetes air menggantung di butiran garam, merembes keluar dari celah-celah halus di sekeliling paku — air dari bawah, mendesak naik melewati segel, perlahan, sabar. Lana mengulurkan satu jari, akhirnya, dan menyentuh satu tetes itu.
Dingin. Tetesannya dingin walau betonnya hangat — air yang naik dari kedalaman yang tak pernah kena matahari. Dan baunya, saat Lana mendekatkan jarinya ke hidung, membuat perutnya berbalik: anyir, amis, busuk-manis, bau air yang menyimpan sesuatu yang dulu hidup, bau lumpur dasar sumur yang seharusnya tak pernah dihirup siapa pun.
Bau itu menempel di jarinya. Ia menggosoknya ke celananya. Bau itu tinggal.
Di atasnya, daun bambu kuning gemerisik tanpa angin. Di bawahnya, sangat pelan, ia merasa — bukan mendengar, merasa, lewat telapak kakinya, lewat tulangnya — getaran. Naik-turun. Teratur.
Seperti napas.
Lana mundur keluar dari lingkaran bambu secepat ia bisa tanpa berlari, dan ketika ia akhirnya berdiri kembali di halaman belakang joglo, di udara dingin yang biasa, ia menyadari bahwa selama berada di dalam sana ia tidak sekali pun berani membelakangi sumur itu. Tubuhnya tahu, jauh sebelum pikirannya mengaku, bahwa ada yang tak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan.