Lana tidak punya banyak ingatan tentang ibunya. Itu selalu menjadi lubang dalam dirinya—bukan luka yang berdarah, tapi ruang kosong di mana seharusnya ada wajah, suara, tangan yang menyisir rambut. Ia berusia tujuh tahun saat ibunya "pergi", dan yang ia ingat hanya potongan: aroma minyak kayu putih, lagu yang disenandungkan di dapur sempit kontrakan kota, dan kepergian yang tak pernah dijelaskan oleh saudara jauh yang membesarkannya.
"Ibumu pulang ke desa," kata mereka. "Lalu tidak pernah kembali."
Bertahun-tahun Lana mengira itu artinya ibunya meninggalkannya. Memilih desa daripada anaknya. Itu pula akar dari ketakutannya yang terdalam—ditinggalkan, lagi dan lagi, oleh orang yang seharusnya tinggal.
Tapi sekarang, dengan lembar-lembar catatan Mbah Surti di dada, ingatan-ingatan itu mulai bergerak. Mengatur ulang dirinya. Seperti potongan-potongan yang selama ini ia susun dengan urutan salah.
Ia duduk di emperan joglo sepanjang sore, menutup mata, dan memaksa dirinya kembali. Bukan ke versi yang diceritakan orang lain. Ke versi yang tubuhnya simpan.
Dan perlahan, ia ingat.
Ia ingat perjalanan. Bukan ke kota—dari kota. Mobil bak terbuka yang menggoyang-goyang di jalan berkelok. Ibunya memeluknya erat, terlalu erat, dan Lana kecil mengeluh karena gerah. Ibunya tidak menjawab. Wajahnya pucat, matanya menatap ke depan ke arah desa yang muncul dari kabut, dan tangan ibunya gemetar di bahu Lana.
Ia ingat jembatan kayu di atas air hitam. Kali Suwung. Ibunya menggumam sesuatu saat mereka menyeberang—doa, atau permohonan, Lana tak bisa membedakan.
Ia ingat gerbang desa. Dan di gerbang itu, ibunya turun dari mobil, berlutut, memegang kedua bahu Lana, dan menatapnya dengan mata yang Lana sekarang—dua puluh tahun kemudian—akhirnya mengenali sebagai mata seseorang yang sedang berpisah selamanya.
"Kamu tunggu di sini, ya, Nduk," kata ibunya. "Mbah datang jemput kamu. Kamu ikut Mbah. Jangan ikut Ibu ke dalam. Apa pun yang terjadi, jangan ikut Ibu ke dalam."
"Ibu mau ke mana?"
Ibunya tidak menjawab itu. Ia hanya mencium kening Lana, lama, dan saat ia menarik diri, Lana merasakannya—
—tangan ibunya basah. Bukan keringat. Lebih dingin, lebih licin. Seperti tangan yang baru ditarik dari air. Dan ada bau. Bau yang waktu itu tak Lana kenal, bau yang ia kira bau sungai.
Lumpur sumur.
Lana membuka mata di emperan joglo, terengah, jantungnya menggebrak tulang rusuknya. Bau itu. Bau yang sama dengan telapak tangannya sendiri sekarang. Ibunya, dua puluh tahun lalu, di gerbang desa, sudah membawa bau itu. Sudah ditandai. Sudah ditarik pulang.
Dan Lana ingat lebih banyak sekarang, karena begitu satu pintu terbuka, yang lain mengikuti. Ia ingat menunggu di gerbang dalam dingin yang semakin pekat. Ia ingat seorang perempuan tua—Mbah Surti, ia tahu sekarang, Mbah Surti yang wajahnya tak pernah ia ingat sampai detik ini—datang menjemputnya, menggenggam tangannya dengan kuat, dan membawanya bukan ke dalam desa, tapi langsung ke mobil lain, supir lain, kembali ke kota. Mbah Surti tidak membiarkannya melihat ke belakang. Setiap kali Lana kecil mencoba menengok ke arah desa, ke arah ibunya pergi, tangan tua itu memutar wajahnya ke depan.
"Jangan lihat ke belakang, Nduk," kata Mbah Surti waktu itu. Suara yang sama yang sekarang kadang ia dengar dari dalam beton. "Tidak ada yang perlu dilihat di belakang. Yang ada cuma di depan. Hidupmu di depan."
Dan dari kejauhan, saat mobil mulai bergerak, Lana ingat—samar, samar sekali, tapi ada—ia mendengar suara. Bukan jeritan. Lebih buruk dari jeritan. Suara timba yang turun, tali sumur yang berderit, air yang membelah. Suara yang sekarang ia dengar tiap malam dari halaman belakang.
Suara ibunya turun.
Lana terduduk di emperan, dan air mata mengalir tanpa ia rasakan, sampai ia ingat peringatan Mbah Jum—ia masuk lewat air mata—dan ia menyeka pipinya dengan panik, dengan kasar, seolah bisa menghapus pintu yang sudah terlanjur terbuka.
Ibunya tidak meninggalkannya. Ibunya menyelamatkannya.
Ditarik pulang oleh utang yang tak bisa ia lawan, ibunya menggunakan napas terakhir kebebasannya untuk meletakkan Lana di gerbang, jauh dari mulut sumur, dan menyuruhnya jangan ikut ke dalam. Mbah Surti menjemput, membuang Lana kembali ke kota seperti membuang benih jauh dari tanah beracun, berharap—berdoa—ia tak akan pernah tumbuh akar di Karangwungu.
Dan dua puluh tahun kemudian, surat warisan menariknya pulang. Akar itu tumbuh juga. Tanah beracun itu memanggil benih yang ia buang.
Lana menatap ke arah rumpun bambu kuning, ke arah sumur yang menyimpan ibunya, dan untuk pertama kalinya kemarahan mengalahkan ketakutan dalam dirinya. Bukan kemarahan panas yang membakar. Kemarahan dingin, jernih, yang mengeras seperti besi tua—logam yang, kebetulan, adalah salah satu dari sedikit hal yang ditakuti yang di bawah.