Bayu yang mengusulkannya. "Ada dusun di hulu," katanya, sambil membentangkan peta lama yang ia salin dari catatan Mbah Surti. "Namanya Watugede. Tidak ada lagi di peta resmi. Tapi di catatan nenekmu, ia ada—dan di sebelahnya nenekmu tulis satu kata: 'pelajaran'."
"Pelajaran apa?"
"Itu yang mau aku tahu."
Mereka berangkat pagi, sebelum kabut benar-benar turun, menyusuri jalan setapak yang menanjak ke hulu Kali Suwung. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin sunyi hutan pinus—tidak ada burung, tidak ada serangga, hanya gesekan jarum pinus dan napas mereka sendiri. Air sungai di sebelah mereka, yang di desa berwarna hitam pekat, di sini berubah jernih, lalu—anehnya—berhenti sama sekali. Dasar sungai berbatu kering, seolah air ditarik mundur dari hulu.
Watugede muncul dari balik tikungan seperti tulang yang mencuat dari tanah.
Itu memang desa, dulu. Lana bisa melihat kerangkanya: pondasi-pondasi batu yang ditumbuhi lumut kering, tiang-tiang kayu yang menghitam dan runtuh, sisa-sisa pagar bambu yang sudah lapuk jadi serbuk. Tapi tak ada satu pun atap yang utuh. Tak ada satu pun rumah yang berdiri. Dan—Lana butuh waktu untuk menyadari apa yang membuat tengkuknya merinding—tak ada satu pun tanaman hijau. Rumput cokelat. Pohon mati berdiri. Tanah retak seperti keramik pecah.
"Kering total," bisik Bayu. "Seluruh dusun. Padahal di kanan-kirinya hutan masih hidup."
Mereka berjalan masuk pelan, langkah hati-hati seolah takut membangunkan sesuatu. Di tengah bekas dusun, Lana menemukan apa yang ia cari tanpa tahu ia mencarinya: sumur.
Bukan satu. Ada beberapa, tersebar, mulut-mulut sumur batu yang kini kering. Lana mendekati yang terdekat, menunduk ke dalam, dan menyalakan senter.
Tidak ada air. Hanya kedalaman gelap—dan di dasarnya, ditimpa cahaya senter, sesuatu yang putih.
Tulang.
Banyak tulang. Berserakan di dasar sumur kering itu, sebagian masih tersusun seperti kerangka, sebagian berserakan, tengkorak-tengkorak menatap ke atas dengan rongga mata yang kosong. Lana menghitung, lalu berhenti menghitung, lalu mundur dari bibir sumur dengan napas tersengal.
"Bayu. Sumur-sumur lain juga?"
Bayu sudah memeriksa yang lain. Wajahnya kelabu. "Sama. Semua. Penuh tulang."
Mereka menemukan jawabannya di reruntuhan rumah terbesar—mungkin rumah kepala dusun—pada sebilah papan kayu yang masih terbaca, ditatah dengan ujung besi panas, sama seperti kulit kerbau Eyang Kromo. Bayu membacanya, suaranya tercekat:
"Kami menolak. Tahun ini kami menolak memberi makan yang di bawah. Kami bilang cukup. Kami bilang lebih baik mati kelaparan daripada menenggelamkan anak-anak kami satu per satu. Maka kami timbun sumur ketujuh kami. Kami usir dukunnya. Kami pikir kami bebas."
Halaman papan berikutnya digores lebih dalam, lebih kasar:
"Kami salah. Dalam satu malam, air kami pergi. Semua sumur kering. Hujan tak turun lagi. Dan yang di bawah, yang tak kami beri makan, ia ambil sendiri—satu per satu, ia tarik kami ke dalam sumur yang sudah kering, dan tak ada air pun ia tetap menenggelamkan kami dalam dahaga. Yang menolak membayar, tetap membayar. Hanya lebih lambat. Lebih sakit. Lebih habis."
Bayu menurunkan papan itu. Tangannya gemetar.
"Ini peringatan," kata Lana pelan. "Mbah Surti membawa cerita ini ke joglo bukan sebagai sejarah. Sebagai ancaman. 'Ini yang terjadi kalau kamu menolak.'"
"Tapi nenekmu juga yang nyimpen catatan cara melawan," kata Bayu. "Dia kasih kamu dua-duanya. Ancaman dan senjata. Kayak dia ndak yakin kamu harus nyerah atau lawan."
Lana berdiri di tengah dusun mati, dan angin kering—satu-satunya angin di lembah yang biasanya tak berangin—berhembus lewat tulang-tulang di dasar sumur, dan untuk sesaat ia bersumpah ia mendengar mereka. Bukan kata-kata. Hanya desah panjang, koor lirih dari banyak kerongkongan yang sudah lama tak punya air maupun napas. Desah orang-orang yang berani menolak dan tetap kalah.
"Watugede menolak dan habis," kata Lana. "Karangwungu membayar dan bertahan. Itu cuma dua pilihan yang mereka tawarkan. Tenggelam cepat, atau kering pelan."
"Tapi pasti ada pilihan ketiga." Bayu menatapnya, dan dalam matanya ada harapan keras kepala yang membuat Lana ingin sekaligus memeluk dan menjauhinya. "Pasti ada cara yang bukan dua-duanya. Nenekmu cari itu seumur hidupnya. Mbah Jum masih nyari. Kita cari sama-sama."
Lana memandang ke arah hilir, ke arah Karangwungu yang tersembunyi di kabut jauh di bawah, dan tidak menjawab. Sebab ia mulai curiga—curiga dengan rasa dingin yang menetap—bahwa pilihan ketiga itu ada, tapi harganya bukan satu nyawa orang lain. Melainkan nyawanya sendiri.