halo semua maaf ya kalau ceritanya agak membosankan, tapi semoga kalian bisa suka dengan ceritaku.
selamat membaca.
—oOo—
Sunny tertangkap basah setelah menguping pembicaraan orang lain.
"A..anu gu..gue gak sengaja nguping kok." ucap Sunny.
"anjir kenapa gue jadi gagap sih." gumam kesal Sunny.
"Lo pikir gue bakal percaya dengan ucapan lo."katanya.
"ya..ya..ya terserah lo ya, kalau lo gak percaya. awas minggir gue mau pulang."ucap Sunny sambil melewati cowok menyebalkan itu dengan gaya cool padahal dalam hati ia merutuki dirinya. tetapi sebelum ia keluar, tangan kirinya di cengkram oleh Lighter.
"Lo Sunny atau jiwa orang lain? karena gak biasanya lo menjawab pertanyaan gue, ah bukan lagi lo gak pernah natap gue kek gini, karena lo selalu nunduk. ngaku lo!" ujar Lighter dengan curiga.
"b*****t, ketahuan nih gue?" batin Sunny.
"Dih, lo sering baca novel ya? ketahuan banget sih lo sering baca cerita gituan. eh ingat ya gue sering nunduk bukan berarti gue takut sama lo, ingat itu b******n!" tunjuk Sunny dengan emosi meluap kemudian ia berlalu pergi. Lighter yang menatapnya pergi langsung tersenyum miring.
"Hm, menarik."
—oOo—
Siang menjelang sore Sunny merogoh ponselnya di saku dan mencoba ngecek apa ia punya saudara untuk mengajaknya pulang dan ternyata benar kakaknya, Gara Maurent Munaroh. menyuruhnya ke arah lokasi parkir mobil yang terletak di samping pos satpam.
menurut Glency yang merasuki tubuh Sunny, kalau saudaranya si cowok agar-agar itu sering galak sama adiknya walau gak terlalu sering namun ada kalanya ia penyayang sama keluarga dengan adiknya. Gara salah satu sahabat Lighter namun ia berada di posisi tertua alias kakak kelas Lighter dan Sunny. Gara juga mempunyai wajah bak garis tampan.
oke,skip aja.
Sunny kemudian membuka pintu mobil dan melihat Gara sedang menatap tajam kearahnya, lantas membuat Sunny segera mempercepat pergerakannya untuk duduk ke kursi penumpang.
"Jangan lupa pakai seatbell."kata Gara terus mulai mengemudikan mobilnya. Sunny kemudian melakukan perintah abangnya. di sepanjang perjalanan mereka hanya bisu lalu dihiasi dengan lagu yang bikin Sunny merinding.
Di kesunyian malam ini
'Ku datang menghampiri
Dirimu yang pernah berjanji
Sehidup dan semati
Kuingin bersama
Berbaring di dadamu
Lupakan khianat yang lalu
Di kekelaman hati ini
Kan kutagih sumpah mati
Yang kau bisikkan ke rambutku
Melambai tanpa arti
Kuingin bersama
Berbaring di dadamu
Lupakan khianat yang lalu
"bisa-bisanya lo,Bang, kok masang lagu film pengabdi setan. udah sunyi tambah horor"batin Sunny merinding.
Menatap rumah minimalis yang tampak memiliki halaman cukup luas dan sejuk serta nyaman mungkin.
rumah Sunny asli begitu asri karena bangunan rumahnya mempunyai furniture sederhana tetapi berkelas. Sunny berjiwa asli Glency memasuki pelataran rumah dan mengucapkan salam.
Gara mengernyit heran karena biasanya adiknya kalau sudah pulang bukan mengucapkan salam namun langsung teriak untuk menyuruh asisten rumah tangga buat buka pintu. tadi juga ia berpikiran kenapa adiknya di mobil tidak berceloteh manja seperti biasanya juga.
"Aneh." Gara mengelengkan kepala melihat sikap adik bungsunya itu. lalu pintu rumah terbuka dan mereka masuk ke dalam bangunan minimalis.
Glency terbuai lagi dengan ruang tamu Sunny asli yang begitu memukau. karena semua berpadu keestetikan.
"bisa-bisanya Sunny lo gak ngerasain gimana hidup jadi anak estetik."gumamnya.
Glency menarik langkah menuju tangga ke lantai dua, dari ingatan tubuh Sunny asli kalau kamarnya berada di lantai atas. ketika melihat papan bernama Sunnyara A. Munaroh ia pun membuka pintu kamar.
"anjir ternyata gak ruang tamu,gak dapur dan juga kamar sangat mengestetik. gak sama dengan kamar gue bikin gue mengsedih." ujar Glency.
tak lama kemudian ia membersihkan diri dan merebahkan diri ke ranjang empuknya. Sunny mulai memikir kembali bagaimana dengan keesokan harinya apa ia bakal kembali ke dunia aslinya dan berharap semua hanyalah mimpinya?
"tapi semoga itu hanya mimpi semata, karena gue gak mau ketemu lagi, Lighter si cowok rese itu." ujar Glency dan segera memejamkan mata karena ia sangat lelah hari ini.
—oOo—
Adzan maghrib berkumandang dan terlihat Glency bangun dari tidurnya kemudian menjalankan perintah Allah swt untuk shalat lima waktu. setelah shalat ia keluar dari kamar untuk makan malam.
Gara, laki laki itu sedang memasak untuk dirinya dan adik bungsunya. Fyi, Glency baru mengetahui kalau kedua orang tua Sunny semua berada di luar negeri karena ada pekerjaan bisnis, jadi mau tidak mau Sunny dengan Gara harus hidup berdua di Indonesia.
"Uni, gue minta tolong sama lo, belikan bawang putih dan bawang merah 1 kg dan cabe merah, di warung mpok reta." ujar Gara dengan memberikan uang tiga puluh ribu kepada Sunny dan diterima baik oleh Sunny palsu.
Sunny kemudian keluar dari rumah dan mencari warung mpok Reta. selepas membeli pesanan abangnya ia kemudian melangkahkan kaki untuk pulang, namun di pertengahan jalan ia tidak salah lihat nih.
"gila gue gak salah lihat nih?"
"A..anjir kenapa alur cerita berubah?"batin Sunny
"kek..keknya tidak mungkin deh. gue gak salah nih ye kan?"
Glency mengucek matanya sekali lagi dan kali ini bisa melihat jelas orang yang berada di sekitar 5 meter darinya.
"I..itu si Gita dan Sarah bukan? ko..kok mereka berdekatan git—" ucapan Glency terpotong karena ada yang menutupi matanya sehingga ia tidak bisa melihat adegan senonoh itu.
"A..asu woy gue mau lihat dong, aelah."
"Gak usah, lo masih polos. jangan mengumpat. gue gak suka."
tunggu, sepertinya Glency tau siapa yang berbicara di belakang sambil memeluknya.
Lighter Athkinson Muhammad.
?Kau membuatku bahagia, Di saat hati ini terluka, Kau membuatku tertawa, Di saat hati ini terbawa, Terbawa oleh cintamu untukku, Untuk kita -Yura Yunita (Berawal dari tatap) ?
Jangan lupa meninggalkan jejak ya seperti komen/saran/kritikan namun masih berbasis sopan ya.
kemudian jangan lupa untuk memberi vote cerita ini ya.
sampai jumpa ke chapter selanjutnya.