"Rise..,ke papan pengumuman yuk, denger-denger kemarin nilai rapor sisipan semester ini udah keluar loh!" ajak Zafa pada sahabatnya itu ketika bel istirahat berbunyi.
Di SMA Persada ini, memang setiap nilai rata-rata rapor siswa, baik itu rapor sisipan atau rapor semesteran, akan dipampang di papan pengumuman, dan diurutkan mulai dari peringkat yang terbaik sampai yang terburuk berdasarkan masing-masing jurusan.
Hal itu dilakukan untuk memacu daya saing para siswa supaya mereka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik. Yah...tapi sepertinya hal itu nggak berlaku untuk beberapa golongan siswa tertentu, yang nggak peduli dengan nilainya.
"Yaudah yuk, dari pada ntar keburu rame!" sambut Sunrise.
Mereka berdua pun akhirnya berjalan beriringan menuju papan pengumuman yang letaknya dekat dengan ruang guru. Begitu sampai di sana, Sunrise dan Zafa kompak menghentikan langkahnya saat melihat The King's juga sedang berdiri di depan papan pengumuman. Menghindari hal-hal yang nggak di inginkan, mereka lebih memilih untuk ngumpet di taman dekat papan pengumuman sampai The King's pergi dari sana.
"Wuahahahaha....gila-gila, parah banget lo Land, masa' lagi-lagi lo dapet nilai 2,00 ? lo pikir IPK?" Andres terkekeh geli waktu melihat nama Orland masuk deretan no.2 paling akhir di jajaran siswa-siswa IPS.
"Apa kata infotaiment coba kalo sampe mereka tau, seorang Orlando Adelio nilai rapor sisipannya dapet bebek? Hahahaha " Arsen ikut menimpali sambil tertawa ngakak, sementara Milo hanya tersenyum geli melihat kelakuan teman-temannya.
Orland yang merasa harga dirinya dilecehkan, memberengut lucu sambil kemudian mendekatkan dirinya ke papan pengumuman untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
"Kalian kan tau kalo gue keseringan bolos, lebih sibuk FTV!" ucapnya membela diri.
Sedetik kemudian matanya melotot tajam saat melihat nilai Arsen dan Andres, lalu tanpa disangka-sangka, dia menoyor kepala kedua temannya dengan kencang hingga Arsen dan Andres mendelik kesal.
"HAHAHHAAHA, lagak lo pada kayak yang udah paling pinter, noh....lo bedua nggak beda jauh kali' sama gue. Masing-masing dapet 2,50! Lumayan tuh kalo di universitas negeri udah termasuk bagus lah!" tawanya meledak seketika.
"Halah...apa pentingnya sih nilai, toh dapet nilai berapa aja juga nantinya gue yang bakal nerusin perusahaan bokap gue!" elak Andres.
"Yoi, bokap gue kan pejabat....perusahaan juga banyak, masa depan udah terjamin lah! Masa muda kayak gini yang penting seneng-seneng, yoi nggak bro?" Arsen menimpali omongan Andres sambil menepuk pundak Milo pelan.
"Nah Milo dapet berapa coba?" Orland kembali memeriksa daftar nilai di papan diikuti Arsen dan Andres, sedangkan Milo sendiri justru masih lempeng-lempeng aja sambil bersandar di salah satu tiang papan.
"Woahhhh.....gila, dapet 3,00 dia! cieh...gaya bener...." goda Orland.
"Nggak sia-sia lo rajin baca buku Mil, Cuma lo doang yang nilainya ada peningkatan" kata Andres.
"Kayaknya mesti syukuran nih kita,Dipikir-pikir lagi...nilai kita ber4 kalo dijumlahin totalnya 10 loh!" usul Arsen.
"Wah...bener-bener, lo bener Ar, eh tapi kali ini Milo yang traktir ya? Itung-itung nilai dia yang paling tinggi!" kata Orland.
"Beres, kalian atur aja mau dimana!" sahut Milo santai.
"Di club yang biasa ya? Jangan lupa cewek-cewek seksinya juga!" usul Andres.
"As you wish, dude!" ucap Milo sambil tersenyum tipis.
Kemudian mereka ber 4 berjalan sambil berangkulan menuju kantin, sesekali menertawakan sesuatu yang mereka bicarakan.
Beberapa menit setelah itu, Sunrise dan Zafa keluar dari tempat persembunyiannya sambil tertawa ngakak.
"Idiot....dapet nilai 3 udah bangga? Pake mau dirayain segala, bener-bener nggak ngerti gue cara kerja otak ajaib mereka!" ujar Sunrise sambil geleng-geleng kepala heran.
"Kayaknya otak mereka ketuker sama otaknya rumah makan padang deh Rise, hahahahah!" Zafa nggak berhenti tertawa juga.
"Modal tampang doang sih, otak sama dengkul sama-sama kopong!" ucap Sunrise sarkas, kemudian dia fokus mencari namanya dan nama Zafa dalam daftar anak-anak IPA kelas 2.
"Yes.....gue dapet 7.75 Rise, lumayan lah ya peringkat ke 55 dari 120 siswa!" ucap Zafa senang.
"Yah..gue cuman 6.85 Fa, cuman peringkat 77!" Sunrise mendadak mendung.
"Sabar...lo belajar lebih giat lagi dong, matematika lo terutama..." hibur zafa.
Memang di sekolah ini untuk mendapatkan nilai tinggi sangatlah sulit, mengingat murid-murid disini pintar-pintar dan langganan juara olimpiade. Jadi sebenernya dengan dapat nilai diatas 6 saja, mereka sudah setara dengan siswa yang mendapatkan nilai 8 di sekolah lain.
"Udah yuk...dari pada lo sedih terus, mending kita lihat madding sekolah, tadi pagi gue lihat anak OSIS ganti madingnya!" ucap Zafa mengalihkan perhatian.
"Ya udah yukk....." akhirnya Sunrise tersenyum senang.
***
Sunrise berdecak jengkel saat melihat madding sekolah edisi bulan ini, hasil karya anak OSIS yang menurutnya amat sangat nggak bermutu.
"Anak-anak pengurus OSIS yang baru ini otaknya pada sengklek atau gimana sih, masa' dari berbulan-bulan lalu yang masuk rubik hottes people orang-orang nggak mutu semua!" ucapnya sambil berkacak pinggang.
"Nggak mutu gimana sih Rise, mereka yang diliput emang anak-anak popular semua kok, lagi hot-hotnya. Vanessa, Ruby, Andres, Orland, Arsen, sekarang giliran Milo. Lengkap deh anggota The King's udah keliput semua!" Zafa mengabsen orang-orang yang pernah menempati rubik hottes people dengan berbinar, nggak peduli dengan ekspresi teman disebelahnya yang semakin mual dengan ocehannya.
"Yaa dan satu-satunya alasan mereka diliput Cuma karena mereka keren, ganteng, cantik, popular? Hell...dangkal banget otak anak-anak OSIS ini, kenapa nggak ngeliput Anjar kek misalnya, yang udah nyumbangin medali emas buat sekolah kita waktu event lomba robotic tingkat Asia tenggara 2 bulan lalu? Atau Niken yang udah menang olimpiade matematika se Jawa-Bali bulan lalu? Oh oke...kalo nggak mau ngomongin akademik, bisa kan ngomongin Rian yang abis menang olimpiade panahan di Athena 3 bulan lalu? Sekolah kita nggak kekurangan orang-orang berprestasi loh, kenapa malah ngeliput orang-orang nggak guna kayak gini sih?" Sunrise masih ngedumel sambil menatap madding di depannya.
"Yah...mereka sebagian kan juga bisa dibilang berprestasi Rise, Vanessa ketua cheers, Rubby model majalah remaja, The King's... lo tau lah, mereka cowok-cowok ganteng paling diminati di sekolah kita, apalagi Orland artis FTV lagi!" bela Zafa.
"Kayak gitu yang lo bilang prestasi? Jadi ketua cheers doang apa hebatnya? Mending kalo cheers sekolah kita sering menang lomba, kerjaannya aja cuman jadi tim hore tiap ada tanding basket. Jadi model majalah remaja itu juga bukan suatu prestasi buat gue, lo cukup hanya dengan beruntung aja punya wajah cantik. Dan The King's yang lo maksud itu? Nggak lebih dari sekumpulan cowok-cowok b******k sok cakep dengan IQ tiarap. Kayak gitu yang mau dibangga-banggain? Pantes aja Indonesia nggak maju-maju, generasi mudanya lebih milih berlomba-lomba jadi popular sih dari pada berlomba-lomba jadi pinter!" sungutnya.
"Ish...hidup lo terlalu serius Rise, sesekali kan kita juga butuh hiburan...kayak ngeliatin cowok-cowok ganteng macem ini!" Zafa cengengesan sambil menatap foto ke empat anggota The King's dengan mata berbinar.
"Cowok ganteng itu Cuma ada dua macem, kalo nggak b******k, ya dia homo! Udah gitu otaknya pasti cetek, pikirannya nggak jauh-jauh dari cewek seksi sama selakangan sih!" ucap Sunrise sarkas.
Zafa mendelik mendengar ucapan sahabatnya itu, buru-buru dia menoleh ke arah Sunrise. Lalu ketika Sunrise mulai ngomong panjang lebar, dia kembali lagi menatap foto di madding itu.
"Tuh liat aja contohnya, The King's! sok-sok'an lagaknya kayak yang punya sekolah aja, petantang petenteng berasa paling keren. Liat aja nilai akademisnya, dapet nilai 3 aja udah sujud syukur! Coba mereka bukan anak orang kaya, gue jamin udah pasti di tendang dari sekolah ini sejak kemaren-kemaren. Kerjaannya main cewek mulu sih!" Sunrise masih tetap kekeuh dengan pendapatnya.
"Ih...nggak semuua tau!! Itu si Milo nggak b******k kayak yang lain, dia malah paling cool, paling misterius dibanding yang lainnya, tapi juga tetep ramah sama siapa---" Zafa menghentikan ocehannya saat nggak sengaja melihat ke-empat cowok yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri entah dari kapan, di belakang Sunrise. "—aja" cicitnya lirih.
"Halah...taktik jadul, dikira semua cewek demen sama cowok sok misterius gitu. Padahal bisa jadi cowok kayak dia itu yang brengseknya paling parah, biasanya kan yang diem-diem lebih menghanyutkan!" Sunrise masih dengan semangat mencaci maki anggota The King's, tanpa menyadari bahwa Zafa sedari tadi sudah menarik-narik ujung bajunya dengan wajah pucat pasi dengan maksud memberitahukan sesuatu.
"Mereka di belakang lo, bego!!" cicit Zafa pelan karena Sunrise nggak juga peka akan kodenya.
Mata Sunrise membelalak lebar begitu mendengar ucapan Zafa, mati..mati...!! rutuknya dalam hati. Gimana bisa dia terus nyerocos saat ke-empat cowok dengan tampang setengah dewa itu tengah berdiri di belakangnya. Mau kabur udah nggak mungkin, mau minta maaf dia gengsi. Tadi aja semangat banget ngata-ngatain mereka, masa' iya begitu ada mereka langsung tiba-tiba minta maaf. Enggak..enggak, gengsi dong!!
Sunrise memberanikan diri menoleh ke arah belakang, di dapatinya Arsen dan Andres tengah memandangnya dengan tatapan membunuh, Orland malah cekikikan menahan tawa, tawa mengejek maksudnya...seolah-olah mengisyaratkan kata ' gotcha...ketauan lo!'. Dan Milo...., memandangnya dengan wajah datar sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
'Oke....tamat sudah riwayat gue!!' batin Sunrise.
"Bisa banget lo ngatain para cowok ganteng? Bilang aja lo minder karena nggak mungkin juga ada cowok ganteng yang ngelirik cewek macem lo gini, paling-paling tukang gorengan!" ucap Arsen dengan mulut tajamnya sambil memandang Sunrise dari ujung kaki hingga kepala dengan meremehkan.
'Hell....belum pernah makan bangku sekolahan nih mulutnya', Sunrise membatin geram.
"Lagian udah takdirnya gue sama temen-temen gue terlahir ganteng, terus salah gue? Salah temen-temen gue?" ucap Arsen lagi sambil menirukan sebuah dialog film.
"Nggak ada yang salah, cuman kayaknya sia-sia aja Tuhan ngasih lo wajah ganteng, kalo hanya buat lo jadi b******k dengan mainin hati banyak cewek!" ucap Sunrise sambil berusaha tetap tenang.
'Udah terlanjur juga, sekalian aja kelelep!' pikirnya.
"Belum pernah ngerasain ciuman maut kita sih guys, kalo udah juga paling ntar minta nambah!" ucap Andres dengan evil smirk-nya.
"Najis....mending gue ciuman sama p****t panci!!" umpat Sunrise, sementara Zafa semakin beku di sebelahnya.
"Biasanya nih, haters kayak gini justru sebenernya fans berat kita loh!" ucap Orland sang artis FTV sambil cengengesan memandang Sunrise yang wajahnya sudah merah padam.
"Hidup lo kebanyakan drama, dasar artis wannabe!!" timpal Sunrise sambil memutar bola matanya jengah.
"Berani juga nih cewek...." ucap Orland kesal.
Milo yang sedari tadi Cuma diam, tiba-tiba berjalan mendekati Sunrise dengan tenang dan masih dengan wajah tanpa ekspresi. Kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Sunrise yang sudah menahan rasa gemetar di kakinya akibat berlagak sok galak di depan mereka.
"Jadi menurut lo gue paling b******k? Diem-diem menghanyutkan? Oke..kita lihat aja nanti, sekuat apa sih lo bertahan supaya nggak hanyut dalam pesona gue?" ucap Milo tepat di depan bibir Sunrise yang sudah menegang, kemudian secara perlahan dia menarik tubuhnya dan berbalik arah menuju ketiga temannya.
"Nggak usah sok ngancem gue deh, buktiin dong kalo kalian emang bukan sekedar cowok-cowok b******k dengan IQ tiarap!!!" tantang Sunrise yang membuat ke 4 cowok itu berhenti melangkah.
"Jadi mau lo apa?" tanya Arsen dengan alis yang naik sebelah.
"Rapor smester ganjil 3 bulan lagi, kita lihat siapa diantara kita ber 5 yang peringkat sekolahnya paling atas, kalo kalian kalah...kalian harus berhenti jadi cowok-cowok useless yang kerjaannya cuman mainin cewek sama ngebully orang, dan harus jadi cowok baik-baik sampai lulus dari sini!" tantang Sunrise.
"Kalo kita menang, dapet apa?" tanya Orland.
Sunrise menegang sambil meremas tangan Zafa yang sudah sedingin es disampingnya, diam-diam merutuki diri sendiri kenapa sampe mulutnya lancang nantangin cowok-cowok stress ini.
"Anything you want!" ucap Sunrise kemudian setelah beberapa kali menghembuskan nafas berat.
Ke empat anggota The King's menyeringai lebar mendengar ucapan Sunrise.
"Jangan sampe lo nyesel sama ucapan lo sendiri!" pesan Milo sebelum mereka ber empat pergi meninggalkan tempat itu, di iringi tatapan memuja para cewek di sepanjang perjalanan.
Tubuh Sunrise meluruh ke lantai seketika sambil dia menjambak pelan rambutnya sendiri, "Gue pasti udah gila!!!" pekiknya frustasi.
"Yes..., you are!" balas Zafa sambil tetap memandang kepergian 4 cowok keren itu dengan speechless .
***
"Duh Fa....mati gue! Gue harus gimana coba? Mana nilaii gue juga pas-pasan lagi, sok-sok'an nantangin mereka!" Sunrise memekik frustasi sambil membenamkan kepalanya ke meja, untung guru mereka belum datang.
"Lo sih pake kebawa emosi tadi, hm...tapi lo nggak usah khawatir, paling nggak nilai lo kan lebih mendingan dari pada mereka!" hibur Zafa.
"Tapi kalo mereka curang gimana? Lo kan ngerti track record mereka..., apa gue batalin aja ya tantangan gue?" Sunrise menggembungkan pipinya sebal.
"Kalo lo batalin, mereka bakalan besar kepala dan ngira lo takut sama mereka. Kalo mereka curang, lo harus bisa antisipasi mulai dari sekarang!" ucap Zafa sambil tersenyum misterius.
Sunrise melirik ke arah Zafa kemudian ikut menyeringai kecil, "Lo bener, nilai gue emang pas-pasan, tapi gue jauh lebih cerdas dibanding mereka! Lo bakalan bantuin gue kan?"
"Pasti lah.....nggak usah khawatir, ntar pulang sekolah lo temuin mereka lagi, kasih rules yang lebih jelas!" balas Zafa dengan semangat.
Sementara itu di kelas 2 IPS 3....
"Gila..kita serius nih mau ngeladenin tantangan cewek tadi?" tanya Orland.
"Itu kan cewek yang waktu itu di kantin bukan sih?" tanya Andres.
"Yoi..., ladenin lah! Harga diri men...." jawab Arsen.
"Gimana menurut lo Mil?" tanya Andres.
Milo memandang teman-temannya bergantian dengan tenang, "Libas lah, dia udah lancang dengan berani nantangin kita!" ucapnya kemudian kembali membaca buku di tangannya.
Arsen, Andres dan Orland menyeringai lebar begitu mendengar ucapan Milo. Kalau Milo sudah bilang setuju, itu artinya mereka bakal sekuat tenaga berusaha memenangkan tantangan itu gimanapun caranya. Karena yang sudah-sudah, Milo biasanya Cuma cuek dan nggak mau ambil pusing.
"Tapi kan kalo tantangannya nilai akademis, gue lemah men...lo tau sendiri nilai kita kayak gimana!" ucap Orland.
"Itu urusan gampang, tadi nggak ada ketentuannya kalo kita ber-empat harus lebih baik dari dia kan? Gue rasa satu dari kita aja cukup buat perwakilan, Milo bisa diandelin lah ya...tinggal poles sana sini dikit lagi!" timpal Arsen sambil melirik Milo.
Milo hanya acuh sambil meneruskan membaca, sedangkan mereka bertiga saling berpandangan penuh arti.
***
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, Sunrise dan Zafa buru-buru melangkahkan kaki ke kelas 2 IPS 3 untuk menemui para anggota The King's. Sesampainya disana, mereka berdua menyandarkan diri pada tiang penyangga di koridor tepat di depan pintu kelas, mengingat murid-murid kelas itu belum bubar.
Beberapa menit kemudian orang yang mereka tunggu mulai muncul satu persatu diantara kerumunan siswa-siswa lain. Arsen yang pertama kali menyadari kehadiran Sunrise dan temannya disana tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat ketiga temannya melakukan hal yang sama.
"Ngapain lo disini? Oh....gue tau, lo mau batalin tantangan konyol yang udah lo bikin itu ya?" ucap Arsen meremehkan sambil menghampiri Sunrise.
"Pede juga lo? Tapi sayangnya gue kesini justru untuk memperjelas tantangan gue tadi tuh..." ucap Sunrise sambil bersendekap santai.
"Maksud lo apa?" tanya Milo.
"Maksud gue, kalo ada satu....aja, diantara kalian ber 4 yang rankingnya lebih rendah dari pada gue, kalian kalah!" ucap Sunrise penuh penekanan.
The King's kaget dengan penuturan Sunrise, tapi dengan cepat mereka menormalkan kembali raut wajah mereka.
"Kenapa harus gitu? Lo nantang The King's kan? Jadi kalo salah satu dari kita menang, itu sama aja udah mewakili kita semua!" kata Andres.
"Well...lebih tepatnya gue nantangin kalian ber 4 secara personal sih, itupun kalo kalian berani. Atau... kalian takut Cuma dengan ngelawan satu cewek mungil kayak gue ini?" ejek Sunrise.
"Jangan sembarangan lo kalo ngomong....." Orland mulai terpancing emosi, namun dengan cepat ditahan oleh Milo.
"Buktiin dong kalo kalian nggak takut, dan semua orang yang ada disini saat ini menyaksikan kita, akan jadi saksi tantangan gue ke kalian!!" ucap Sunrise sambil memperhatikan sekelilingnya yang ternyata ramai anak-anak yang menonton, bagus..dengan begini dia jadi punya saksi.
"Kita nggak pernah takut sama lo, kita bakal buktiin kalo kita ber4 akan menang ngelawan lo!" ucap Arsen.
"Sure, inget baik-baik...kalo kalian kalah, nggak akan ada lagi The King's yang arogan, stupid, badboy, tukang buat onar, dan tukang mainin cewek!" kata Sunrise lantang hingga bisa didengar banyak orang disekitarnya.
Arsen tertawa kecil, "Itupun kalo lo menang, jangan kepedean dulu deh!"
"well..., let we see!!" ucap Sunrise penuh percaya diri.
"Dan kalo sampe lo kalah, gue bersumpah bakalan bikin lo nyesel pernah kenal kami, terutama gue!" ucap Milo dengan dingin sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Sunrise, berusaha mengintimidasinya.
"Sejujurnya gue pun nggak sudi kenal orang macem lo!" balas Sunrise penuh emosi dan nggak kalah dinginnya.
Hal itu membuat Milo terpaku, entah kenapa dia merasa kalau gadis mungil yang baru saja berlalu dari hadapannya ini seolah begitu membenci dia melebihi ketiga temannya yang lain, padahal kalo dipikir-pikir mereka berdua nggak saling kenal.