Orland, Andres, dan Arsen sedang bersenang-senang dengan para gadis-gadis cantik di salah satu sudut club favorite The King's. Beberapa botol minuman beralkohol berserakan di meja mereka.
"Girl's, get out from here right now!!" perintah Milo yang tiba-tiba datang dengan wajah datar tapi mengintimidasi.
Membuat gadis-gadis dipangkuan Andres dan Arsen terlonjak kaget, menghentikan aktivitas make out mereka, lalu pergi begitu saja dengan wajah ketakutan. Mereka kenal baik dengan Milo juga anggota The King's yang lain, dan mereka masih cukup waras untuk nggak melawan titah sang tuan muda kalau masih ingin hidup tenang.
Arsen dan Andres yang kegiatannya terganggu pun Cuma bisa berdecak kesal. Lain dengan mereka, Orland dan pasangan mesumnya masih asik berciuman tanpa memperdulikan kehadiran Milo. Tanpa aba-aba Milo menarik gadis partner Orland itu dengan kesal, mencengkeram lengan gadis itu dengan erat.
"Don't you hear me b***h?? Pergi atau gue habisin lo sekarang juga!" ucap Milo lirih tapi penuh penekanan kepada gadis itu, membuat sang gadis menangis ketakutan lalu buru-buru pergi dari sana.
"Lo apa'an deh Mil, ganggu kesenangan orang aja!" decak Orland kesal kemudian menenggak minumannya.
Milo duduk di depan mereka, "Cukup seneng-senengnya, kita harus pikirin strategi supaya menangin tantangan cewek sialan itu!" ucap Milo serius.
Andres memandang Milo sejenak, kemudian dia menjentikkan jari, memanggil bodyguard yang berdiri di dekatnya. Nggak lama setelah itu, sang bodyguard menyerahkan sebuah map merah ke Andres lalu berpamitan kembali ke tempatnya.
Andres melemparkan map merah itu ke tengah-tengah meja mereka.
"Gue udah selidiki cewek yang nantangin kita itu, namanya Sunrise Maheswari. Anak 2 IPA 2 pindahan dari SMA negeri 24 sejak kelas 1 semester 2!" ucap Andres menjelaskan.
Arsen mengambil map merah itu untuk membaca data-data Sunrise yang sudah berhasil dikumpulkan oleh Andres. Milo mengernyitkan keningnya, merasa aneh. Kenapa murid SMA negeri justru pindah ke sekolah swasta? Kalau memang niat dari awal mau sekolah disini, kenapa harus susah-susah ikut tes masuk SMA negeri, lagi pula kedua sekolahnya itu masih satu kota.
"Tapi kayaknya kita nggak usah terlalu khawatir berlebihan, dia cuman cewek biasa kok. Nilai akademisnya juga standar aja, terakhir rapor sisipan kemaren dia peringkat 77 dari 120 siswa kelas 2 IPA!" lanjut Andres.
"Dia bukan cewek biasa kalo udah berani nantangin The King's Ndres...." ucap Milo dingin.
"Terus apa yang mesti kita lakuin guys? lo tau sendiri kan otak gue paling nggak bisa diandelin kalo soal akademis? Ngerepotin aja sih tuh cewek...!" Orland mendengus kesal.
"Kita harus atur strategi, gimanapun caranya....nilai ujian kita 3 bulan ini harus bagus, gue nggak yakin kalo tuh cewek bakalan woles-woles aja, dia juga pasti ngelakuin sesuatu untuk berusaha menang dari kita!" ucap Arsen penuh pertimbangan.
"Oh no...., belajar itu nightmare banget buat gue, otak gue bisa meledak!!" erang Orland frustasi.
"Siapa bilang kita harus belajar biar dapet nilai ujian bagus? kita punya kekuasaan kenapa nggak dimanfaatin?" ucap Andres sambil menyeringai lebar.
Mereka ber empat saling berpandangan satu sama lain, kemudian saling melempar senyum culas.
***
"Hai Sobatku yang imut-imut, ini gue bawain minuman khusus buat lo biar lo makin pinter dan bisa ngalahin The King's !" ucap Zafa berbinar waktu dia baru datang.
Sunrise memandang botol minuman yang dibawa Zafa dengan heran, isinya minuman berwarna hitam pekat mirip kopi tapi dengan ada bagian-bagian yang tidak larut dalam air.
"Apa'an nih Fa?" tanya Sunrise heran.
"Udah..coba aja dulu..." jawab Zafa sambil melepaskan tas kemudian duduk dibangkunya.
Nggak urung Sunrise pun menuruti ucapan sahabatnya itu, seteguk, dua teguk, kenapa rasanya aneh?
"Gimana – gimana? Enak nggak? Itu tuh air yang gue campur sama abu buku matematika yang gue bakar, berdasarkan artikel yang pernah gue baca, itu bisa ngebantu lo lebih pinter matematika!"
Ucapan Zafa kontan membuat Sunrise menyemburkan minuman di mulutnya hingga muncrat kemana-mana. Ya Tuhan...dimana otak sahabatnya ini? Kenapa IQ nya tiba-tiba bisa turun drastis?
"ZAFARANI VALERIA!!! LO UDAH GILA???" pekiknya sambil berusaha mengenyahkan sisa-sisa minuman sialan itu dari mulutnya.
"Hehehe...ya namanya kan juga usaha!" Zafa nyengir dengan wajah tanpa dosa.
"Sekalian aja lo suruh gue makan kertas nyet!!!" Sunrise geram, bener-bener nggak habis pikir sama jalan pikiran Zafa yang kadang-kadang suka bertindak di luar nalar.
"Ya maap Rise, gue kan Cuma niat bantuin lo!" ucap Zafa menyesal.
"Sejak kapan pola pikir lo jadi primitive gini sih?" Sunrise geleng-geleng sambil membersihkan cipratan-cipratan air bekas semburannya.
"Kayaknya sejak gue mulai desperate jadi jomblo deh!" ucap Zafa frustasi yang otomatis membuat Sunrise terkekeh juga.
"Udah..mending lo bantuin mikir cara yang lebih normal aja biar gue bisa lebih pinter dalam waktu singkat!" kata Sunrise.
Zafa menggembungkan pipinya lucu, "Hm...gimana kalo lo minta tolong kak Hugo? Dia kan juara umum semester lalu Rise. Eh tapi dia mah terlalu sombong, gue nggak yakin dia mau bantuin lo!"
"Hugo Aimar, ya?" Sunrise terpekur.
Seketika dia membayangkan sosok cowok kharismatik yang merupakan kakak kelasnya itu, cowok manis dengan kulit kecoklatan sehat, nggak terlalu ganteng. Tapi kepintarannya nggak perlu diragukan lagi. Lagipula menurut Sunrise, Hugo bukannya sombong. Dia hanya terlalu pediam dan sedikit tertutup, nggak gampang akrab sama orang lain. Tapi Sunrise sepertinya tau senjata apa yang harus dia gunakan agar Hugo mau membantunya.
"Rasanya gue tau cara yang pas, biar Hugo mau bantuin gue!" Sunrise tersenyum kecil.
"Kalo gitu buruan lo datengin dia pas istirahat ntar, biasanya dia jam-jam istirahat gitu ada di perpustakaan!" saran Zafa.
"Oke deh....." Sunrise tersenyum penuh kemenangan.
***
Bel istirahat yang baru aja berbunyi membuat Sunrise buru-buru melompat dari bangkunya, dia sudah bertekad untuk minta bantuan Hugo dan mendatangi Hugo saat jam istirahat ini.
"Gue nyari Hugo dulu ya, lo kekantin duluan aja!" pamitnya pada Zafa.
"Rebes bos!!" jawab Zafa sambil member hormat.
Sunrise melangkahkan kakinya ke kelas 3 IPA 1, kelas kakak kelasnya yang bernama Hugo Aimar itu. Sesampainya di kelas itu, ternyata murid-muridnya sudah pada keluar kelas, hanya tersisa beberapa yang tinggal.
"Maaf kak, lihat kak Hugo nggak ya?" tanya Sunrise kepada seorang cewek yang baru keluar dari kelas itu.
"Hugo ? oh tadi sih ke arah perpus!" jawab cewek itu ramah.
"Perpus ya? Oke deh... makasih banyak ya kak infonya!" balas Sunrise dengan ramah.
Sunrise bergegas melangkahkan kakinya ke perpustakaan, sesampainya disana dia menemukan Hugo yang tengah berdiri di rak buku-buku sains sambil memilih-milih buku. Dihampirinya Hugo kemudian ditepuknya pundak Hugo dengan pelan hingga dia menoleh.
"Halo kak Hugo, kenali gue Sunrise" ucapnya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya.
Hugo hanya menaikkan satu alisnya heran, "Gue nggak nanya!" ucapnya datar kemudian kembali fokus pada buku-buku di rak.
Gezz...Sunrise menghembuskan nafas berat, kesal juga dengan reaksi Hugo.
'Sabar Rise, sabar....semuanya demi janji lo sama 'dia' !' batinnya.
"Kak, gue nggak mau basa basi nih! Gue kesini karena gue butuh bantuan lo untuk ngajarin gue akademik, gue rasa lo pasti udah denger kan soal gue yang nantangin The King's? dan gue mohon lo bersedia bantu gue kali ini!" ucap Sunrise tanpa jeda.
"Terus apa peduli gue, ngapain juga gue mesti bantuin lo?" ucap Hugo acuh.
"Lo harus bantuin gue, karena gue rasa lo satu-satunya orang yanag tepat untuk bantuin gue!"
"Gue nggak ada urusan sama lo, maupun sama The King's!" Ucap Hugo masih dengan datar kemudian berjalan meninggalkan Sunrise yang terpaku di tempatnya.
"Gue sepupunya Arlene Hanjani!!! Lo pasti kenal sama dia kan?" teriak Sunrise pada akhirnya yang membuat langkah Hugo membeku.
Sunrise tersenyum saat melihat Hugo berbalik memandang ke arahnya.
"0822 0855 0025 , catet nomer gue. SMS in alamat rumah lo, mulai besok tiap pulang sekolah, lo gue privat!" ucap Hugo datar kemudian meninggalkan perpustakaan.
Sunrise gelagapan buru-buru merogoh ponsel disakunya kemudian mencatat nomer Hugo. Akhirnya senjata yang dia simpan berguna juga.
"Yess...yess....mati lo semua The King's of useless people!!" pekik Sunrise girang.