"Duh udah laper banget nih, pak Tedy ini kapan kelarnya sih?" Zafa menggerutu di tempat duduknya saat kelas mereka sedang pelajaran matematika.
"Sabar kurang bentar lagi..." jawab Sunrise sambil tetap fokus mencatat materi dipapan tulis.
"Tumben amat lo betah pas matematika, biasanya lo yang kayak cacing kepanasan tiap pak Tedy muncul!" sindir Zafa.
"Hish, lo ini..., gue kan butuh amunisi buat ngalahin The King's, lo lupa?" Sunrise memekik pelan, takut suaranya terdengar oleh pak Tedy.
"Oh iya juga sih, eh terus ntar pulang sekolah kak Hugo jadi privat lo dirumah?" tanya Zafa.
Sunrise tersenyum sumringah ke arah Zafa, "Jadi dong...semalem langsung gue smsin alamat rumah gue, dan dia udah janji pulang sekolah ntar mau dateng!"
"Pulang sendiri-sendiri? Kok nggak barengan aja?" Zafa mengernyit heran.
"Nggak tau, nggak penting juga buat gue, yang penting dia mau ngajarin gue!" ucap Sunrise cuek.
Sekitar 10 menit kemudian, bel tanda instirahat berbunyi. Tanpa aba-aba Zafa langsung berdiri dari tempatnya bahkan sebelum pak Tedy keluar kelas.
"Ayo..ayo...., soto di kantin udah manggil-manggil nih!!" rajuknya lucu.
"Lo ke kantin duluan deh ya, gue kebelet pipis..." Sunrise meringis kecil.
"Yah....lo gitu amat Rise!" ucap Zafa sambil memberengut.
"Lo seneng kalo gue ngompol? Udah ah..sono ke kantin duluan, sekalian pesenin buat gue juga!"
"Ya udah deh..., tapi jangan lama-lama loh!" ucap Zafa pasrah.
"Iya..iya...."
Mereka berdua pun keluar kelas bersama-sama meskipun saat sampai di pintu kelas, mereka berpisah arah. Zafa langsung melenggang ke arah kantin sedangkan Sunrise menuju toilet cewek yang letaknya lumayan jauh dari kelas.
Sunrise merasa aneh saat perjalanan menuju toilet, seolah ada yang lagi ngikutin. Dia menoleh ke belakang, tapi ternyata nggak ada siapa-siapa yang kelihatan mencurigakan. Akhirnya dia melanjutkan perjalanannya ke toilet tanpa menghiraukan perasaan ganjilnya.
Sesampainya di toilet yang ternyata sepi, dia langsung masuk ke salah satu bilik didalamnya. Seusai membuang hajat, dia merapikan kembali seragam yang dipakainya. Tapi Sunrise tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran sebuah benda yang meledak-ledak dan memercikkan bunga api serta asap di dekat tubuhnya.
"ARRGHHHHH!!!!" Sunrise berteriak kencang sambil menghindari ledakan petasan itu.
Sialnya petasan itu terus meledak tanpa henti sampai menimbulkan asap pekat di dalam bilik toilet yang ditempati Sunrise. Dia mengumpat kesal, siapa orang yang dengan kurang ajarnya masukin petasan saat dia sedang ke toilet.
"HAHAHAHAHAHAHAH......." tawa pecah seorang cowok di luar bilik membuat Sunrise naik darah, pasalnya dia tau betul milik siapa suara tawa yang begitu mengejek itu.
"ORLANDO ADELIO!!!! b*****t!!" umpat Sunrise kesal.
Dia berusaha membuka pintu toilet sambil terus menghindar dari percikan api petasan ketika dia dengar suara tawa Orland semakin menjauh. Dia harus bikin perhitungan dengan cecunguk The King's itu.
Begitu dia sampai di luar toilet, Sunrise lihat Orland tengah berlari menjauh sambil tertawa mengejek ke arahnya.
"Kurang ajar, awas lo!!" Sunrise berusaha mengejar Orland yang kini berlari ke arah kantin.
Namun karena langkah Orland yang panjang-panjang sementara langkahnya lebih mirip kurcaci, Sunrise ketinggalan jauh dibelakang. Begitu sampai di kantin, dia lihat Orland sudah duduk santai sambil tertawa bersama ketiga anggota The King's yang lain di singgasana kebesaran mereka. Dengan amarah yang meledak-ledak seperti petasan tadi, Sunrise berjalan menghampiri Orland.
Zafa yang melihat Sunrise berjalan mendekat buru-buru melambaikan tangannya, tapi dia terkejut saat Sunrise melewati mejanya begitu saja.
"Lohhhh???" Zafa cengo ditempatnya.
Ke empat anggota The King's mendadak berhenti tertawa waktu melihat Sunrise dengan wajah penuh emosi mendekat ke meja mereka.
"Lo....udah ngibarin bendera perang sama gue!!" ucap Sunrise penuh emosi dan penekanan dalam setiap katanya sambil menunjuk muka Orland.
Nggak ada lagi Sunrise yang takut-takut dengan anggota The King's, dia terlalu marah dengan kelakuan usil Orland. Ketiga anggota The King's lainnya menunjukkan raut muka bingung, sedangkan Orland masih nampak santai. Tapi semua berubah begitu Sunrise menumpahkan segelas es jeruk ke atas kepalanya.
Orland melongo kaget, nggak siap dengan perbuatan Sunrise yang benar-benar diluar prediksinya. Nggak jauh beda dengan Orland, ketiga temannya yang lain juga membeku di tempatnya masing-masing, speechless dengan tindakan Sunrise. Oh...dan jangan lupakan seisi kantin yang juga ikutan tegang menyaksikan adegan ini, bahkan ada beberapa anak yang merekam kejadian ini dengan ponsel mereka.
"Ini baru permulaan b******k!! Kalo sampe gue menangin tantangan kemaren, gue bersumpah bakal bikin hidup lo lebih buruk dari hari ini!" ancam Sunrise kemudian meninggalkan meja The King's begitu saja.
Bukannya langsung kembali ke kelas, Sunrise malah menuju tempat duduk Zafa dimana sudah tersedia dua mangkok soto ayam dan dua gelas es jeruk disana. Tanpa memperdulikan Zafa juga tatapan seisi kantin yang memandangnya dengan takjub, dia memakan sotonya seperti orang kesetanan.
"Are you okay ??" tanya Zafa ragu-ragu yang melihat sahabatnya seperti orang kesetanan.
"Fine..., nggak pernah gue ngerasa sebaik ini!" ucap Sunrise sarkas.
Dan Zafa pun hanya terdiam tanpa mau bertanya apa-apa lagi, dari pada ikut disemprot oleh sahabatnya ini.
"KALIAN LIHAT APA HAH?? ADA YANG LUCU??" bentak Arsen ke seisi kantin yang masih melihat kearah mereka.
Bentakan itu otomatis membuat seisi kantin berlarian kembali ke tempatnya masing-masing, tapi belum sampai mereka duduk semuanya, Andres mendatangi seorang cowok yang duduk nggak jauh dari tempat mereka. Dan cowok yang didatangi Andres itu gemetar ketakutan.
"Ngerekam apa'an lo hah? Mau gue mampusin sekarang lo?" ancamnya ke cowok itu sambil merebut ponsel digenggamannya.
"A..ampun Ndres, maaf...." cicit cowok itu ketakutan.
Andres melepaskan cengkeramannya pada kerah baju cowok itu saat dia sudah berhasil mendapatkan ponselnya, setelah itu dia membanting ponsel tersebut sampai pecah berantakan. Seperti belum puas juga, kemudian dia menginjak-injak puing ponsel itu di iringi tatapan sedih pemiliknya. Baru setelah itu dia kembali lagi ketempatnya.
"Apa sih yang udah lo lakuin ke Sunrise sampe dia semarah itu?" tanya Arsen ke Orland yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya.
"Gue lemparin petasan waktu dia di kamar mandi!" ucap Orland ketus, dia masih merasa marah karena sudah dipermalukan Sunrise.
"Stupid!!" ucap Milo dingin sambil tetap menyantap gado-gado didepannya.
"Ck..., lo nggak mikir apa reputasi lo bakal anjlok setelah ini, gimana kalo sampe masih ada anak yang punya rekaman kejadian tadi dan di upload ke internet? Nggak Cuma wibawa The King's yang abis, karir lo juga bakal tamat!!" omel Andres.
"Gue nggak nyangka dia bakal seberani ini ke gue!!" kilah Orland.
"Gue harus bikin perhitungan sama tuh cewek!!" Arsen bangkit dari duduknya.
"Duduk lagi atau lo mau reputasi kita bakal lebih ancur setelah ini!!!" perintah Milo dengan nada tajam.
Mau nggak mau Arsen menuruti keinginan Milo, karena gimanapun juga Milo adalah satu-satunya anggota yang masih bisa berpikir dingin sepanas apapun keadaan yang mereka hadapi.
"Kita nggak bisa diem aja Mil, lama-lama cewek itu bakal ngelunjak!" Arsen geram.
"Jangan suka bertindak ceroboh, lo mau senasib kayak Orland gini? Sunrise nggak bisa dianggep enteng!" kata Milo.
"Gimanapun caranya kita wajib menang dalam tantangan itu, kalo nggak tuh cewek bakalan makin ngerasa di atas angin!" tambah Andres.
***
"Hai kak Hugo, susah nggak nyari alamatnya tadi?" sapa Sunrise saat membukakan pintu rumah untuk Hugo yang baru saja datang.
Hugo masih pakai seragam lengkap saat datang ke rumah Sunrise, akhirnya dia menyanggupi juga permintaan gadis mungil yang ternyata merupakan sepupu dari Arlene, gadis yang sangat dicintainya.
"Nggak kok, kebetulan temen gue ada yang rumahnya daerah sini!" jawab Hugo sambil tersenyum tipis.
"Oh...., ya udah yuk masuk....." ajak Sunrise ke Hugo.
Setelah sampai di ruang keluarga, Sunrise segera mempersilahkan Hugo untuk duduk kemudian dia bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil buku-buku pelajaran sambil sekalian mengambil minuman dan sedikit cemilan untuk Hugo di dapur.
"Keluarga lo kemana, sepi amat?" tanya Hugo berbasa- basi.
"Ayah sama Ibu lagi di toko, kebetulan keluarga kami punya toko elektronik" jawab Sunrise sambil mulai membuka-buka bukunya.
"Adek, kakak??"
"Gue anak tunggal kak Hugo!" Jawab Sunrise sambil tersenyum tipis.
"Oh..."
"Bisa kita mulai sekarang belajarnya?" tanya Sunrise antusias.
Hugo hanya mengangguk kemudian melihat buku paket milik Sunrise.
"Kalo gue boleh tau, apa alasan lo nantangin The King's?" tanya Hugo sambil membaca-baca buku Sunrise.
"Gue nggak bisa ngasih tau sekarang, nanti aja kalo tujuan gue berhasil, yang pasti...niat gue baik kok kak!" jawab Sunrise lirih.
Hugo mendongak untuk menatapnya, "Apa ada hubungannya sama Arlene?"
Sunrise terkejut mendengar pertanyaan Hugo, tapi tak ayal dia mengangguk juga meski pelan.
"Lo cukup percaya sama gue, someday gue bakal kasih tau lo kok alasannya!" bujuk Sunrise.
Hugo kelihatan menimbang-nimbang, "Gue percaya sama lo, bilang sama gue kalo lo butuh bantuan lagi buat ngalahin mereka, apapun itu..gue yakin tujuan lo baik!"
Sunrise membulatkan matanya dengan dengan dramatis, dia nggak percaya Hugo akhirnya mau full mensupport dia.
"Serius kak??" tanya Sunrise nggak percaya.
"Iya, jangan lupa...mereka itu licik, lo harus pinter-pinter puter otak buat ngalahin kelicikan mereka!" ucap Hugo memperingatkan.
"Iyaa...gue tau kok kak, makasih ya tawarannya. Gue pasti bakal butuh bantuan lo banyak banget!!" ucap Sunrise sumringah.
Hugo hanya mengangguk sambil tersenyum manis, "Ya udah yuk mulai belajarnya!"
***
Pagi hari ini Sunrise menginjakkan kaki di sekolah dengan lebih bersemangat, mengingat kemarin dia sudah mendapatkan full support dari Hugo. Dengan begitu dia yakin jika semakin banyak orang yang membantunya, akan semakin gampang mengalahkan curut-curut The King's itu.
Dia baru saja sampai gerbang sekolah ketika melihat sebuah motor ducati hitam melaju kencang dan hampir saja bertabrakan dengan sepeda motor butut milik tukang kebun sekolah yang kebetulan akan keluar gerbang. Pengendara motor ducati itu sekuat tenaga mengerem kendaraannya supaya nggak terjadi tabrakan, tapi sayang bagian depan bodi motor mahalnya itu tetap menyerempet motor bebek butut tersebut.
Pak Amin sang tukang kebun terlihat panic di tempatnya, ketakutan mengingat dia tau persis siapa pemilik motor sport mahal tersebut.
"Motor mahal gue!!!!" pekik sang pengendara saat melihat bagian depan motornya sambil melepas helm.
"Heh..pak Amin, gimana sih kalo nyetir liat-liat dong!! Baret nih motor mahal gue!" bentak sang pemilik motor ke tukang kebun yang sudah sepuh itu.
"Ma...maaf den Arsen, saya ndak sengaja....." ujar pak Amin gemetaran.
"Nggak sengaja- nggak sengaja, mangkanya kalo bawa motor jangan meleng aja! Ganti kerusakan motor gue, 5 juta!!" ucapan Arsen kontan membuat pak Amin kaget, dari mana dia punya uang sebanyak itu.
"Ta..tapi den, saya nggak punya uang sebanyak itu" ucap pak Amin sedih.
"Ck..., gue nggak peduli pak!!" Arsen berdecak kesal.
"Katanya anak orang kaya, kalo nggak punya duit buat biaya pemeliharaan motor, nggak usah belagak pake motor mahal, naik sepeda kebo aja!" sindir Sunrise yang tiba-tiba aja sudah ada di dekat pak Amin.
Amarah Arsen tersulut mendengar kata-kata Sunrise, "Ngapain lo ikut campur urusan gue???" bentak Arsen ke Sunrise.
"Gue nggak bakalan ikut campur kalo aja emang pak Amin yang salah, nah gue lihat dengan mata kepala gue sendiri dalam keadaan sadar 100%, elo yang bawa motornya meleng, ini area sekolah bukan area balap liar, jangan se enak jidat lo main kebut-kebutan!!" pekik Sunrise nggak kalah emosi.
"Udah..udah..., aden sama non ini ndak usah bertengkar, saya yang salah kok!" lerai pak Amin.
"Bapak nggak salah, jadi bapak nggak perlu ganti rugi sepeserpun sama cowok sombong yang nggak tau sopan santun ini, bapak pergi aja...biar saya yang urus masalah ini!" ucap Sunrise kalem ke pak Amin.
"Tapi non..."
"Udah..bapak percaya aja sama saya" ucap Sunrise lembut.
Pak Amin nggak kuasa menolak ucapan Sunrise, akhirnya dia pergi juga dari tempat itu setelah kembali meminta maaf kepada Arsen yang wajahnya tegang diselimuti emosi.
"Gimana? Masih mau minta ganti rugi juga?" tantang Sunrise sambil bersendekap saat pak Amin sudah nggak kelihatan lagi.
Arsen mendengus geli, "emang lo mau ganti?" ejeknya.
"Sure..., itupun kalo lo nggak tau malu, cukup tau aja gue kalo ternyata Arsen The King's nggak sekaya yang digembor-gemborin, berapa nomer rekening lo? Gue transfer sekarang juga!" tantang Sunrise kemudian dia merogoh ponsel di saku rok abu-abunya.
"Banyak omong lo!!!" ucap Arsen spontan sebelum dia tiba-tiba mencium bibir Sunrise cepat hingga gadis itu nggak sempat menolak.
Sunrise tertegun saat merasakan bibirnya dilumat dengan paksa oleh Arsen dengan kurang ajarnya. Untung dia segera sadar hingga dengan cepat dia berontak dari cengkraman Arsen kemudian reflek menampar pipi mulus Arsen hingga kemerahan, kontras dengan kulit putihnya.
"b******k LO!!! Sekali lagi lo kurang ajar sama gue, gue potong burung lo!!" teriak Sunrise marah kemudian dia berjalan cepat meninggalkan Arsen disitu.
Arsen hanya tersenyum kecil sambil mengelus bekas tamparan Sunrise dipipinya, dia bahkan nggak menghiraukan puluhan pasang mata disekitarnya yang menyaksikan seorang Arsenio, leader The King's pertama kalinya ditampar cewek.