Sunrise berjalan ke arah kelasnya dengan kesal, dia marah. Marah karena Arsen, cowok angkuh yang nggak punya sopan santun itu sembarangan cium-cium dia. Emang sih, itu bukan ciuman pertamanya juga, tapi kan tetep aja dia gondok setengah mati kalau ada seorang cowok kurang ajar yang bahkan bukan apa-apanya tiba-tiba mencium dia gitu aja. Ralat..., setelah hari ini, setelah kejadian ini, Sunrise nggak bisa lagi menganggap Arsen bukan apa-apanya. Karena mulai detik ini juga, Sunrise sudah mendeklarasikan Arsen juga anak-anak The King's yang lain sebagai musuh besarnya.
Tapi kenapa jantungnya justru mendadak deg-degan gini saat mengingat kejadian tadi? Kenapa di dalam hati kecilnya justru merasa senang medapatkan ciuman dari Arsen. Sunrise segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
'Nggak-nggak, gue nggak mungkin suka sama cowok sombong itu. Nggak boleh!!' batinnya.
Dia nggak boleh suka apalagi sampai jatuh cinta sama cowok badboy macem Arsen, yah...dia nggak mau jadi BSH nya Arsen nanti, mengingat Arsen bisa dengan gampangnya matahin hati cewek-cewek yang menaruh rasa sama dia. Karena bagi Arsen, cewek itu nggak lebih kayak sepasang sepatu. Seneng liat modelnya, dibeli, dipake, diinjek-injek, kalo udah kotor ya dibuang. Ngapain susah-susah nyuci tuh sepatu, beli baru aja lebih simple.
"Lo kenapa Rise, muka lo sumpek gitu?" Tanya Zafa saat melihat Sunrise berjalan kearah bangku mereka dengan muka dilipat-lipat.
Sunrise melemparkan tasnya dengan kasar ke meja, kemudian duduk di bangkunya.
"Gue lagi M.A.R.A.H banget sama Arsen!!" gerutunya sambil mendelik kesal ke arah Zafa.
"Lah kenapa?" Zafa yang memang lebih dulu datang dan masuk kelas otomatis nggak tau tentang kejadian antara Arsen dan Sunrise tadi.
"Dia...udah kurang ajar sama gue, udah ngelecehin gue!!" ucap Sunrise bersungut-sungut.
"Ngelecehin gimana?" Zafa mengangkat sebelah alisnya.
"Dia cium gue Fa....tanpa permisi, di bibir lagi!!!" Sunrise memekik frustasi, untung di kelas belum banyak siswa yang datang.
"HAH??" Zafa melotot nggak percaya, "Gue juga mau!!!!" sambungnya merajuk.
Sunrise terkejut dengan reaksi Zafa, apa sahabatnya itu udah sinting? Dimana-mana cewek mestinya marah dong kalo ada cowok kurang ajar nyium-nyium dia sembarangan, kok ini malah kegirangan pengen dicium juga. Eh tapi kalo cowok kurang ajarnya kayak Arsen gitu, siapa yang bisa nolak sih? Dalam hati kecil Sunrise aja sebenernya dia seneng, tapi mungkin masih malu aja buat ngakuin, gengsi.
"Lo sinting ya? " Tanya Sunrise heran.
"Ish...siapa sih yang bisa menolak pesona badboy setengah dewa macem Arsen, lo beruntung banget dah Rise, gue mau deh tukeran tempat sama lo!" cerocos Zafa.
"Elo....bikin gue makin bête tau nggak!!" balas Sunrise judes, kemudian dia meletakkan kepalanya pada meja lalu memejamkan mata, tidur sejenak sebelum bel masuk berbunyi. Dari pada mendengar ocehan Zafa yang makin ngelantur.
***
Di kelas 2 IPS 3
Arsen masuk ke kelasnya sambil senyum-senyum sendiri sementara tangannya masih memegangi pipi yang tadi ditampar Sunrise. Dia berjalan ke bangkunya di iringi tatapan heran teman-teman sekelasnya, yang nggak biasa melihat dia tersenyum se-aneh ini. Biasanya dia selalu menampakkan wajah judesnya dimanapun berada, kecuali saat lagi ngumpul bareng anggota The King's atau lagi ngebully korbannya.
Dia kemudian duduk di bangku sebelah Milo yang tengah asik membaca. Andres yang duduk di bangku depannya segera menyadari keanehan yang terjadi pada diri Arsen, dia menyenggol-nyenggol lengan Milo yang tertumpu di meja, memberi kode dengan mengedikkan dagunya ke arah Arsen. Milo yang segera paham pun menoleh ke seatmatenya tersebut.
"Kenapa lo?" Tanya Milo singkat.
"Nggak papa..." jawab Arsen singkat sambil terus cengar-cengir.
"Lah..mulai gila lo? Cengar – cengir dari tadi begitu ditanyain bilang nggak apa-apa?" tambah Andres.
Belum sempat Arsen menjawab, Andres dan Milo dikejutkan dengan kedatangan Orland yang berlarian seperti dikejar satpol PP. Orland buru-buru menaruh tasnya dimeja kemudian duduk di kursi yang sebangku dengan Andres.
"Ar, gue denger dari anak-anak barusan lo ditampar Sunrise, bener?" Tanya Orland heboh yang membuat Milo dan Andres mengernyit heran.
"Iya..." Jawab Arsen santai sambil tetap tersenyum dan mengelus pipi bekas tamparan itu.
"Ngapain dia lo sampe bisa ditampar gitu?" Tanya Andres antusias.
"Gue cium paksa bibirnya, abis gue gemes dia nggak bisa diem!" jawaban Arsen kontan membuat ketiga sahabatnya melotot kaget.
"Gimana rasanya?" Tanya Orland.
"Manis..., rasa apel!" jawab Arsen sambil senyum-senyum sendiri.
"Bukan itu bego!! Maksud gue gimana rasanya ditampar cewek? Baru kali ini kan ada cewek yang berani nampar lo waktu lo cium? Biasanya mereka malah nyodorin diri minta dicium. Gila....gue salut sama tuh cewek, dia berhak dapet standing applaus dari gue!" ucap Orland takjub sambil bertepuk tangan pelan.
Milo dan Andres Nampak frustasi, Andres bahkan menjambak pelan rambut jabriknya sementara Milo menghela nafas berat kemudian meletakkan buku yang dibacanya.
"Ditampar di depan umum malah cengar – cengir gini? Gue rasa otak lo ikut geser saking kerasnya tamparan tuh cewek ya?" Tanya Andres sarkas.
"Gue seneng aja bisa bikin dia marah, dan lo tau...ini pertama kalinya ada orang yang berani ngelawan gue sepanjang sejarah gue hidup!" jawab Arsen santai.
"Reputasi lo men...pikirin reputasi lo!" Orland geleng-geleng.
"Lo pikir apa yang udah lo lakuin kemarin? Lo sama Arsen itu sama aja. i***t!!" ucap Milo dengan pedasnya, membuat Orland memberengut kesal.
"Tenang aja, ditampar satu cewek nggak bakal bikin reputasi gue ancur kok. Justru terlihat lebih manusiawi, selama ini gue nunggu-nunggu ada orang yang berani ngelawan gue, tapi nyatanya nggak ada. Dan sekarang, gue punya mainan seru! Nggak bakal gue biarin dia lolos gitu aja, kita harus menangin tantangan itu. Dan kalo sampai kita menang, gue bakalan bikin dia minta ampun sama gue!" ucap Arsen sambil menyeringai licik.
"Serah lo deh!" timpal Milo cuek, kemudian memungut bukunya kembali, sedangkan Andres dan Orland saling berpandangan penuh arti.
***
Kejadian tampar menampar antara Sunrise dan Arsen sepertinya sudah menyebar seantero sekolah. Terbukti saat Sunrise dan Zafa hendak pergi ke kantin, sepanjang jalan nggak henti-hentinya mereka berdua menemukan segerombolan anak tengah berbisik-bisik menyebut nama Arsen dan Sunrise.
"Heran gue, ngomongin orang kok nanggung amat! Itu bisik-bisik tapi kayak di loudspeaker, kenapa nggak sekalian aja ngomong langsung mumpung disini ada orangnya!" umpat Zafa kesal.
"Udah nggak usah diladenin, nggak penting!" ucap Sunrise lalu menggeret Zafa agar berjalan lebih cepat.
Sesampainya dikantin, ternyata kantin sedang penuh-penuhnya. Sial memang mereka berdua, karena tadi guru Agama memberikan ulangan dadakan, sehingga jam istirahat mereka terpotong. Mata Zafa menangkap ada tempat kosong di bangku pojokan sana, yah..siapa juga yang mau menempati bangku yang letaknya tepat di belakang singgasana The King's saat dikantin. Terlebih lagi sekarang anggota The King's sedang dalam formasi lengkap disana, ditambah seorang cewek cantik yang diketahui Zafa bernama Rubby. Senior kelas 3 yang juga model majalah remaja, dan merupakan salah satu most wanted girls di sekolah ini. Dan sekarang ini, Rubby sedang nemplok di lengan Arsen bagai ulat. Sedangkan Arsen sendiri hanya cuek sambil menyantap baksonya.
"Rise duduk disana aja yuk..." kata Zafa sambil menunjukkan bangku itu ke Sunrise setelah memesan 2 porsi bakso dan es teh.
Sunrise mendengus kesal, apa nggak ada bangku lain selain harus dekat-dekat dengan cowok-cowok resek itu?
"Nggak ada tempat lain apa, gue males deket mereka. Apalagi deket Arsen!" keluhnya.
Eh...apa iya males deket Arsen? Kenapa jantungnya justru malah lompat-lompat nggak karuan dan dia merasa...gugup? Apalagi saat matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan Arsen yang kemudian tersenyum miring padanya. Dia buru-buru membuang muka, wajahnya sudah terasa panas.
'Ya Tuhan...ini nggak bener, harusnya gue marah sama dia. Bukan malah salting begini!’ umpatnya dalam hati.
"Nggak ada tempat lain Rise, ayolah gue laper. Lagian masa' lo takut sama mereka? Kalo kita menghindar nanti mereka malah besar kepala, bersikap biasa aja! Oke..oke...? stay cool!" dan tanpa aba-aba lagi Zafa menarik Sunrise dengan paksa ke arah bangku tersebut.
‘ Stay cool gundulmu!!' rutuk Sunrise dalam hati.
Mau nggak mau Sunrise hanya bisa pasrah saat Zafa menghelanya duduk di bangku itu, tepat berseberangan dengan Arsen dan seorang cewek yang tengah kegatelan meluk-meluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Arsen. Entah kenapa bukan hanya wajahnya saja yang kini terasa panas, tapi hatinya juga.
Eh tapi tunggu dulu, sepertinya dia familiar dengan cewek yang kini duduk diantara Arsen dan Andres itu. Sunrise berpikir sejenak, kemudian dia melotot lebar saat berhasil mengingat siapa cewek itu.
"Fa, lo tau siapa cewek di sebelah Arsen itu?" bisik Sunrise ke Zafa.
"Itu kak Rubby, yang model majalah remaja itu loh.." balas Zafa dengan berbisik juga.
"Itu cewek yang waktu itu gue pergokin ML sama Andres di ruang penyimpanan!" bisikan Sunrise kali ini sukses membuat Zafa memekik kaget.
"HAH ??serius lo?" Zafa kelepasan.
"Nggak usah teriak juga dodol!!" pekik Sunrise pelan sambil membungkam mulut Zafa.
"Maaf..maaf..." Zafa memelankan suaranya sambil cengar cengir menatap sekitar.
Tiba-tiba saja obrolan mereka terhenti karena interupsi abang tukang bakso yang mengantarkan pesanan mereka.
"Makasih ya mas!!" ucap Zafa pada sang penjual bakso.
"Sama-sama mbak" balas si tukang bakso kemudian berlalu dari tempat itu.
"Gue ada ide buat bikin The King's malu..." ucap Sunrise sambil menyeringai licik.
"Lo jangan macem-macem deh, nanti nyawa kita terancam!" larang Zafa.
"Udah tenang aja, percaya sama gue!" kata Sunrise mantap.
"Serah lo deh, hidup gue ditangan lo pokoknya!" Zafa memberengut pasrah kemudian mulai menyantap baksonya.
"Ehem..." Sunrise berdeham lebay hingga kelima orang di bangku seberangnya itu menoleh kearahnya.
"Gue baru tau loh, ternyata...selain sharing kebrengsekan, ternyata kalian suka sharing cewek juga? Hm...terus abis sama Arsen besok giliran siapa? Milo? Atau Orland?" ucap Sunrise lantang yang membuat suaranya bisa didengar jelas oleh kelima orang itu, tapi nggak cukup jelas untuk didengar penghuni kantin lain karena jarak yang lumayan jauh.
Ke empat cowok ganteng itu juga Rubby melotot kaget dengan alasan yang berbeda-beda.
"Maksud lo apa hah? Sebrengsek apapun kita, tapi kita nggak pernah sharing cewek!" ucap Orland emosi sambil menghadapkan badannya ke arah Sunrise, mengingat tadi dia dan Milo duduk membelakangi Sunrise.
"Haram hukumnya buat kami ngencanin cewek bekasnya sahabat kami sendiri!" tambah Arsen dengan raut wajah songongnya.
Sunrise memutar bola matanya dengan dramatis, "Oh...ya? Kok sekarang lo ngencanin cewek bekasnya Andres?" ejek Sunrise.
Andres dan Rubby memucat di tempatnya, sedangkan Arsen melirik Rubby seolah meminta penjelasan.
"Enggak kok Ar, suer deh!" ucap Rubby dengan takut-takut ke Arsen, kemudian dia memandang Sunrise dengan tatapan benci, " Maksud lo apa ngomong kayak gitu? Gue kenal lo aja enggak!"
"Sebenernya gue juga nggak kenal lo sih kak, tapi...lo udah kenalan sama si coco kan? Kecoak gemuk ginuk-ginuk yang gue lemparin ke bukit kembar lo waktu gue mergokin lo sama Andres lagi kuda-kudaan di ruang penyimpanan!" ucapan Sunrise yang bener-bener dalam nada mengejek itu sukses membuat Andres yang sedang mengunyah somay tersedak di tempatnya.
Bagaimana reaksi Rubby? Wuah...sudah pasti mukanya merah padam menahan malu .
"Pergi dari hadapan gue b***h!!" perintah Arsen dingin dengan wajah yang benar-benar menyeramkan.
"Tapi Ar..." Rubby merajuk.
"PERGI GUE BILANG!!!" teriakan Arsen membuat Zafa dan Sunrise melonjak kaget ditempatnya.
Rubby akhirnya pergi dengan wajah berurai air mata setelah sebelumnya menatap Sunrise dengan penuh kebencian, seolah-olah berkata 'Awas lo, gue bakal bikin perhitungan sama lo!' Tapi toh Sunrise tetap cuek.
"Jadi lo orang yang udah ngerjain gue waktu itu??" ucap Andres penuh emosi.
Dia bangkit dari kursinya dan hendak menerjang Sunrise, tapi segera dihalangi oleh Orland. Tapi sesaat kemudian Andres malah terhuyung jatuh gara-gara bogem mentah Arsen yang tepat mengenai pelipisnya.
"HOI...apa'an sih kalian, kayak anak kecil aja!" lerai Orland, dan Milo segera bangkit untuk menahan Arsen yang mulai lepas kendali.
"Kenapa lo nggak ngasih tau gue njing kalo Rubby itu bekas lo??" Tanya Arsen emosi pada Andres.
Sunrise dan Zafa hanya menonton keributan itu dengan santai ditempatnya, padahal seisi kantin yang lain malah tegang menyaksikan drama baru yang dibuat The King's.
"Gue nggak tau kalo lo lagi prospek dia..." jawab Andres sambil berusaha bangkit.
"Land..., buruan bawa Andres pergi dari sini!" perintah Milo yang langsung dibalas anggukan oleh Orland, setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan kantin.
"Jangan kayak gini Ar, cuman masalah cewek doang!" ucap Milo menasehati.
Arsen mengibaskan tangannya di depan wajah Milo dengan sebal, kemudian berjalan meninggalkan kantin. Milo yang melihatnya buru-buru mengikuti langkah Arsen setelah sebelumnya menghampiri meja Sunrise.
"Lo bener-bener cari masalah!" ucap Milo dingin.
"Like I care!" jawab Sunrise cuek bahkan tanpa memandang Milo.
Milo mati-matian menahan emosinya, menghadapi Sunrise memang bukan hal mudah. Dan baru kali ini persahabatannya diobrak - abrik oleh seseorang, lebih lucunya lagi, orang itu hanya sesosok cewek mungil biasa yang bahkan jauh dibawah level gadis-gadis yang biasa mereka kencani.
***
Pulang sekolah ini Sunrise harus pergi ke toko elektronik milik keluarganya, karena sang ibu sedang ada urusan dirumah nenek, terpaksa dia yang harus mengawasi para pegawai orang tuanya di toko. Dengan begitu, dia harus melewati jalan di belakang sekolahnya yang terkenal sepi dan rawan. Bisa aja sih naik bus dari halte di depan sekolah, tapi akan jauh memakan waktu yang lebih lama. Lagipula ini siang hari, apa yang harus dikhawatirkan, paling tidak ada beberapa orang yang masih lewat sana.
Setelah berpisah arah dengan Zafa, Sunrise melenggang melewati jalan Kenanga itu dengan santai. Situasi sejauh ini masih cukup aman, dia bahkan memasang earphone untuk mendengarkan lagu-lagu dari ponselnya. Tujuannya untuk mengurangi rasa gugup yang perlahan menghinggapi hatinya, ternyata setelah sekian lama, dia masih juga belum bisa menghilangkan trauma di pikirannya tentang jalan ini.
Dari kejauhan dia mendengar suara orang-orang berkelahi. Dia segera mencari spot yang aman untuk mengintip keadaan yang sedang terjadi. Mendadak hatinya diliputi perasaan cemas yang berlebihan. Sebuah pohon dipinggir jalan yang cukup besar dia jadikan tempat berlindung, untung saja tubuhnya kecil sehingga dia dengan mudah bisa bersembunyi disana.
Matanya membelalak lebar begitu menyadari bahwa sosok anak sekolah berseragam abu-abu yang kini tengah dihajar 5 preman itu adalah Milo. Dia menggigit kukunya dengan cemas, dia harus berbuat sesuatu untuk menolong Milo sebelum semuanya terlambat. Tapi bagaimana caranya?
"Think fast Rise, think....!!" gerutunya kesal.
Beberapa detik kemudian dia tersenyum lebar ketika berhasil mendapatkan ide. Dengan segera dia lepas earphone di telinganya. Kemudian mengutak – atik ponselnya mencari ringtone yang dia pikir dapat membantunya.
"Nggak sia-sia gue nyimpen ringtone aneh-aneh begini!" ucapnya saat dia berhasil menemukan ringtone yang dia maksud.
Segera dia bunyikan ringtone itu dengan volume maksimal di ponselnya, lalu dia berlari sekuat tenaga ke arah Milo dan preman-preman itu sambil berteriak kencang.
"Polisii.....ada polisi......!"
Teriakan Sunrise dan bunyi sirine mobil patrol polisi yang terdengar membuat para preman itu kocar kacir, dengan segera Sunrise menarik tangan Milo kemudian membawanya kabur berbalik ke arah jalan raya secepat mungkin sebelum para preman itu sadar kalau mereka sedang ditipu olehnya.
Setelah sampai di halte dekat sekolah mereka, Sunrise menghentikan aksi larinya ketika dia merasa keadaan sudah aman. Para preman itu nggak mungkin berani nyamperin kesini karena disini banyak orang, selain itu dekat dengan satpam sekolah juga.
Dia mengatur nafasnya yang terengah-engah, kemudian meninggalkan Milo yang juga masih kepayahan.
Milo terkejut saat tiba-tiba Sunrise menariknya untuk melarikan diri dari preman-preman yang berniat mengompasnya. Dia nggak menyangka bahwa gadis kecil itu bisa berbuat nekat, padahal bisa saja kejadian tadi justru membahayakan nyawanya. Yang lebih mengherankan lagi, kenapa dia mau menolong Milo yang notabene anggota The King's, yang tanpa gadis itu sadari sudah menjadi musuhnya dalam beberapa hari terakhir ini. Tapi kenapa Milo merasa ada yang ganjil dari kejadian ini?
Belum sempat dia berpikir lebih jauh, seseorang menyodorkannya sebotol minuman dingin. Dia mendongak untuk melihat siapa orang itu, dan dia kembali terkejut begitu mendapati Sunrise yang tengah bermandikan peluh di wajahnya menatap dia dengan pandangan datar. Tak ayal Milo menerima juga pemberian Sunrise itu karena dia memang butuh minum. Segera diteguknya minuman itu ketika Sunrise duduk di sebelahnya.
"Ngapain lo nolongin gue?" Tanya Milo dingin.
"Karena lo butuh pertolongan!" jawab Sunrise singkat sambil memandang kearah jalan raya.
"Tapi gue nggak butuh pertolongan lo!" ucap Milo judes.
"Dan gue nggak pernah milih-milih siapa orang yang mau gue tolong!" balas Sunrise datar.
"Nggak usah sok pahlawan lah jadi orang!" Milo mendengus meremehkan.
Sunrise memandang ke arah Milo kemudian tersenyum kecil, " Itulah bedanya gue dan lo, gue nolong orang karena memang gue pengen nolong, bukan untuk dianggep pahlawan"
"Gue nolong orang karena memang gue masih punya hati, dan gue sadar...gue nggak akan mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain sama sekali!" lanjut Sunrise.
"Nggak tau lagi kalo lo, Mungkin lo udah ngerasa kayak Tuhan kali ya? Jadi nggak perlu bantuan orang lain lagi, apa-apa bisa sendiri. Kasian gue sama lo, hidup lo pasti kesepian. Karena lo nggak pernah mau peduli sama orang-orang disekitar lo!" tutup Sunrise tajam.
Kemudian Sunrise meninggalkan Milo yang masih tertegun ditempatnya, dia naik ke bus yang baru saja datang bersama dengan beberapa penumpang yang lain. Biarlah harus memutar lebih jauh, yang penting nggak ketemu lagi dengan preman-preman sialan itu.
'Kasian gue sama lo, hidup lo pasti kesepian. Karena lo nggak pernah mau peduli sama orang-orang disekitar lo!'
Entah kenapa ucapan Sunrise barusan benar-benar menusuk hati Milo, dia merasakan nyeri di dadanya akibat perkataan itu.