"Kalian masih nggak mau baikan juga? Oh God...., jangan kayak anak kecil lah! Kita temenan udah dari kecil dan sekarang kalian musuhan cuman gara-gara rebutan cewek?" ucap Orland kesal.
Kini mereka ber empat tengah nongkrong di café milik keluarga Milo, gara-garanya Arsen dan Andres belum mau baikan sejak kejadian tadi siang di sekolah, bahkan mereka belum mau saling bicara satu sama lain.
Arsen hanya melirik sekilas kearah Orland yang kesal karena ucapannya nggak di dengarkan, dia menghirup rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskan asapnya kuat-kuat. Wajahnya terlihat memendam amarah. Lain Arsen, lain lagi dengan Andres. Dia hanya menatap minuman didepannya dengan pandangan kosong, menerawang entah kemana, dan wajahnya terlihat kusut.
Sedangkan Milo hanya memperhatikan teman-temannya satu persatu, lalu asik dengan pikirannya sendiri. Dia masih terbayang kejadian tadi siang, dimana Sunrise datang menyelamatkannya dari gerombolan preman-preman itu. Bukan itu saja, lebih tepatnya dia kepikiran dengan semua ucapan Sunrise tentang dirinya. Bagaimana bisa cewek yang bahkan baru dikenalnya itu berani mengguruinya.
"HOI...., gue lagi ngomong kali' !!" Bentak Orland hingga membuat ketiga sahabatnya kompak menoleh ke arahnya.
"Gue nggak akan semarah ini kalo cuman gara-gara cewek, apalagi Rubby juga nggak beda sama cewek-cewek murahan lainnya. Yang bikin gue marah, kenapa nih kunyuk satu nggak bilang sama gue dari awal? Kenapa harus Sunrise yang ngasih tau kita, kalo kayak gini cewek sialan itu bisa makin kesenengan karena merasa udah ngalahin kita!" gerutu Arsen.
"Gue harus bilang berapa kali sih sama lo? Gue nggak tau kalo lo juga lagi prospek si Rubby! Lo juga nggak bilang – bilang sama kita, biasanya kan lo selalu bilang!" ucap Andres berkilah.
"Gue deket sama Rubby baru njing, lagian lo sendiri juga nggak bilang kalo abis main sama dia!" balas Arsen nggak kalah sewotnya.
"Udah???" ucapan datar Milo membuat perdebatan mereka terhenti.
"Useless kalian berdua! Kalo kalian terus bertengkar kayak gini, yang ada Sunrise semakin girang karena dia udah berhasil ngerusak persahabatan kita!" lanjutnya.
"Milo bener, udah deh mending kalian baikan aja. Nggak enak kalo orang tau The King's saling musuhan, toh udah kejadian ini...mau diapain juga waktu nggak bakalan balik lagi!" tambah Orland.
Andres memandang Arsen dengan ragu, lalu kemudian mengulurkan tangannya, "Sorry bro, gue minta maaf..., gue yang salah!!"
Arsen yang tadinya berwajah tegang mendadak tersenyum kecil sambil menyambut tangan Andres, "Gue juga, sorry gue terlalu emosi tadi!"
"Nah...gitu kan enak dilihatnya!" ucap Orland sambil tertawa lebar.
Milo hanya tersenyum kecil kemudian berkata, "Jadi...udah sejauh apa kesiapan kita untuk menangin tantangan itu?"
"Gue udah kontak beberapa guru yang bisa di ajak kerja sama, tenang aja...ulangan harian minggu depan, gue pastikan nilai kita meningkat!" jawab Andres.
"Bagus deh kalo gitu..." ucap Arsen.
Dan pertemuan itu pun berlanjut membicarakan strategi-strategi yang akan mereka pakai untuk mengalahkan Sunrise dalam tantangan itu.
***
Keesokan harinya sepulang sekolah, Sunrise yang tengah menunggu bis langganannya di halte dekat sekolah dikejutkan dengan kehadiran Milo yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Ambil..." ucap Milo datar sambil menyodorkan sebuah amplop coklat kecil.
"Apa'an nih?" Tanya Sunrise sambil menaikkan satu alisnya.
Milo segera meraih tangan Sunrise lalu meletakkan amplop itu ditangannya, "Gue nggak suka punya utang budi sama orang lain, jadi setelah ini anggap aja kita impas!"
Tanpa menunggu reaksi Sunrise yang tengah bengong, Milo berlalu begitu saja meninggalkannya. Sunrise buru-buru membuka amplop ditangannya, dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa isi amplop itu adalah segebok uang dengan nominal 100.000 rupiah. Sunrise begitu emosi dengan tindakan Milo barusan, entah kenapa dia merasa tersinggung. Buru-buru dia berlari menyusul Milo yang belum begitu jauh.
"Berhenti lo...." cegahnya, lalu dia memposisikan diri berada di depan Milo hingga mengahalangi jalan Milo.
"Apalagi? Kurang?" Tanya Milo datar.
"Gue nggak butuh duit lo, lagian kalaupun gue pamrih atas pertolongan gue ke lo kemaren, gue lebih milih untuk minta nyawa lo sebagai gantinya!" ucapan ketus Sunrise membuat Milo terbelalak.
"Lo pikir apa yang bakal terjadi sama lo kemaren seandainya gue telat dateng? Bisa aja saat ini lo udah dikubur di dalem tanah gara-gara mati ketusuk sama mereka, nggak berlebihan kan kalo gue minta nyawa lo sebagai gantinya?" lanjut Sunrise.
Milo hanya terdiam mendengar ucapan gadis itu, apa dia benar-benar serius untuk meminta nyawanya sebagai ganti?
"Kenapa lo diem? Asal lo tau ya tuan muda, nggak semua hal di dunia ini bisa lo beli dengan uang orang tua lo! Gue juga bukan orang yang suka pamrih kok, jadi lo tenang aja. Gue nggak bakalan minta nyawa lo sebagai ganti gue nolongin lo kemaren, jadi lebih baik lo ambil lagi duit lo yang nggak guna ini!" ucap Sunrise sambil menyodorkan amplop itu kembali.
Milo hanya melirik amplop itu sebentar, lalu menatap Sunrise dengan tajam. "Sesuatu yang udah gue kasih ke orang, pantang gue ambil lagi. Kalo lo nggak mau duit itu, terserah mau lo apain!"
"Oke..., lo tunggu disini!!" ucap Sunrise yang membuat Milo bingung.
Nggak lama kemudian Milo melihat Sunrise celingukan ke sekitarnya, lalu pandangannya terhenti pada seorang bapak-bapak pemulung tua renta yang tengah memungut botol-botol plastic bekas di dekat halte. Sunrise buru-buru berlari menghampiri bapak tua itu, entah dia bicara apa kepada sang bapak. Kemudian Sunrise memberikan amplop berisi uang tadi kepada sang bapak sambil menunjuk ke arah Milo yang tengah memperhatikannya.
Milo mengernyitkan kening ketika melihat Sunrise menghampirinya bersama sang bapak pemulung tadi. Bapak tua itu memandang Milo dengan mata berkaca-kaca penuh haru, sementara Sunrise mengekor di belakang sang bapak sambil bersendekap.
"Terima kasih ya nak atas kebaikan kamu, terima kasih sekali atas bantuannya buat bapak. Semoga rejeki kamu semakin berlimpah, sekolahnya semakin pinter, dan nantinya akan jadi orang sukses supaya bisa membantu orang lain lebih banyak lagi!" doa sang bapak sambil menggenggam tangan Milo.
Milo hanya terpaku di tempatnya sambil memandangi bapak itu, hatinya terenyuh mendengar doa tulus yang diucapkan sang bapak. Hanya karena uang yang baginya nggak seberapa, yang tidak mau diterima oleh Sunrise, bisa membuat seseorang yang bahkan nggak dia kenal mendoakannya setulus ini. Bahkan orang tuanya saja tidak pernah berdoa untuknya.
Milo terlalu speechless dengan sesuatu yang baru dia alami ini, hingga dia Cuma mengangguk pelan sambil tersenyum kecil kepada sang bapak sebagai balasannya. Hatinya merasa damai ketika melihat senyum tulus sang bapak, rasa yang benar-benar baru dia alami setelah sekian lama hanya merasakan kesepian!
"Kalau begitu bapak permisi dulu ya nak, bapak mau pulang ngasihkan uang ini ke istri bapak. Biar dibelanjakan lauk pauk untuk anak-anak kami, sudah lama sekali kami hanya makan nasi dan kerupuk" ucap sang bapak dengan senyuman.
Milo kembali terhenyak mendengar kenyataan itu. Dari kecil dia memang tidak pernah merasakan susah, apa yang dia mau, dia tinggal tunjuk dan pegawai-pegawai orang tuanya akan dengan cekatan menyediakan semua keinginannya. Tapi bapak tua didepannya ini? Tiap hari hanya makan nasi dan kerupuk? Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai dia yang ada diposisi sang bapak.
"Iya pak..." jawab Milo lirih.
Akhirnya sang bapak pun berpamitan juga kepada Sunrise yang langsung disambut dengan senyum hangat oleh gadis itu. Setelah bapak pemulung itu pergi, Sunrise kembali menghampiri Milo yang masih tertegun.
"See...., sekecil apapun hal yang lo lakuin untuk menolong seseorang, bisa saja berarti sangat besar untuk orang yang lo tolongin itu!" ucap Sunrise yang hanya dibalas dengan lirikan oleh Milo.
"Bahkan lo masih kalah sama bapak tadi, beliau aja tau cara balas budi. Tapi lo enggak! Lo cuman manusia biasa yang nggak pantes untuk sombong. Jika Tuhan mau, bisa aja besok lo yang berada di posisi bapak tadi. Lalu apa yang mau lo sombongin kalo udah kayak gitu?" lanjut Sunrise.
"Manusia diciptakan untuk saling tolong menolong dengan sesamanya, stop jadi orang sombong yang seakan nggak butuh bantuan orang lain. Karena akan tiba saat dimana lo bakal butuh bantuan orang lain, dan bantuan itu nggak akan bisa lo bayar dengan uang lo!"
"Lain kali kalau mau ngasih duit, kasih ke orang-orang kayak bapak tadi aja. Gue masih cukup mampu untuk nggak ngemis sama orang sombong dan selfish kayak lo. Pikirin ucapan gue baik-baik, belajarlah cara balas budi yang baik sama bapak tadi!" ucap Sunrise yang kemudian berjalan kembali menuju ke halte, meninggalkan Milo yang masih berusaha mencerna kata-katanya.
Semua ucapan Sunrise berputar-putar dikepalanya seperti kaset rusak. Dengan cara apa bapak itu balas budi kepada dirinya? Yang Milo tau, sang bapak hanya mengucapkan terima kasih dan mendoakan dia. Itu saja sudah membuat hatinya tenang dan damai.
Milo terhenyak begitu menyadari, ya...cara bapak tadi membalas budi hanya cukup dengan mengucapkan terima kasih ditambah doa yang tulus. Dan hal itu sudah membuat orang yang menolongnya menjadi senang. Dia baru sadar, sedari kemarin dia memang belum mengucapkan terima kasih kepada Sunrise. Dia beranggapan bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang, setidaknya itu yang diperlihatkan orang tuanya selama ini. Dia juga hampir tidak pernah mengucapkan terima kasih atau tolong kepada orang lain, ya selama ini Milo memang seperti hidup sendiri.
***
Persiapan Sunrise untuk mengalahkan The King's benar-benar nggak main-main. Selain rutin les privat dengan Hugo, dia juga jadi rajin ke perpustakaan tiap jam istirahat. Dikelas pun dia jadi lebih serius memperhatikan gurunya. Untung saja Zafa juga sangat mensupport sahabatnya itu, hingga dia jadi sering membawa bekal untuk mereka berdua makan di perpustakaan karena mereka sudah jarang ke kantin. Dan untung saja perpustakaan di sekolahnya ini membolehkan siswanya untuk membawa makanan ke dalam ruang baca, asal setelah itu dibereskan kembali.
Seperti hari ini, begitu jam istirahat berbunyi Sunrise dan Zafa buru-buru menuju ke perpustakaan sekolah. Tak lupa Zafa menenteng 2 kotak sandwich tuna yang sudah dia siapkan dari rumah untuk mereka makan siang di perpus.
Sambil mengobrol dan bercanda mereka melangkahkan kaki dengan riang hingga kemudian Zafa ditabrak oleh seseorang yang tengah berjalan sambil cekikikan dari arah yang berlawanan. Kontan kotak bekal yang dia bawa terjatuh dan membuat isinya berhamburan dilantai.
"Arrghhh....makan siang kita!!" Zafa memekik histeris.
Sedetik kemudian dia terkejut begitu mendapati wajah sang penabrak tadi. Ya...Arsen dan ketiga anggota The King's yang lain. Arsen tengah memandang Sunrise dan Zafa dengan muka datar dan terkesan masa bodo.
"Lo nggak punya mata ya?" umpat Sunrise kesal.
"Ada.., ini!" jawab Arsen santai sambil menunjuk matanya.
Hal itu jelas membuat Sunrise semakin murka....
"Lo nantangin gue hah?? Punya mata tapi nggak dipake, congkel aja tuh mata ganti pake bola bekel!" sahut Sunrise dengan setengah berteriak.
"Mau lo apa sih? Lo Tanya gue punya mata, udah gue jawab baik-baik, kenapa lo masih nyolot juga?" balas Arsen nggak kalah sengitnya.
"Mau gue lo minta maaf, gara-gara jalan lo meleng bekal makan siang gue jadi jatoh bego!!"
Arsen tertawa mengejek, "Apa? Lo nyuruh gue minta maaf? HELLAWWW....siapa lo? Ogah banget gue minta maaf sama lo, nih gue ganti bekel lo, berapa sih gini doang!" ucap Arsen sambil menyodorkan tiga lembar uang lima puluh ribuan.
"Gue nggak butuh duit lo, gue Cuma perlu lo minta maaf!" ucap Sunrise sambil melemparkan uang itu ke muka Arsen yang otomatis membuat Arsen semakin meradang.
Zafa mengkerut ketakutan sambil memegangi ujung baju Sunrise, tapi justru gadis itu nggak gentar sama sekali dengan tatapan Arsen yang menakutkan.
"Elo...bener-bener udah menghina gue!" Arsen berusaha mati-matian memendam amarahnya, tapi nggak bisa menghentikan tangannya yang sudah hendak melayang untuk memukul Sunrise.
Andres dan Orland buru-buru memegangi Arsen supaya dia nggak lepas kendali, padahal sejujurnya Arsen adalah orang yang anti memukul perempuan. Tapi entah kenapa dia nggak tahan ingin sekali memukul gadis kecil didepannya ini, yang sering membuatnya kesal akhir-akhir ini.
"Apa?? Lo mau mukul gue? Lo pikir gue takut sama lo? Lo pikir tindakan lo barusan juga nggak menghina gue?? Gue masih mampu tuan muda, bahkan gue juga bisa ngebeli mulut lo yang sombong itu!!" ucap Sunrise tajam yang membuat Arsen semakin berontak dari cekalan Andres dan Orland.
"Gue minta maaf....., atas nama Arsen!" ucapan Milo kontan membuat ketiga temannya melongo.
Demi apapun juga The King's pantang mengucap maaf pada siapapun. Dan kali ini Milo mengucap maaf kepada gadis yang menjadi musuh mereka? Ini rekor. Hal ini juga membuat Zafa takjub di tempatnya, tapi sepertinya Sunrise juga masih nggak puas.
"Yang punya salah kan dia, kenapa jadi lo yang minta maaf? Gue nggak butuh jubir, gue mau dia langsung yang minta maaf!!" ucap Sunrise yang membuat Milo menghela nafas berat.
"Udah Rise..udah nggak usah diperpanjang lagi!" bisik Zafa di telinga Sunrise yang kebetulan memang lebih pendek dari dia.
"Lo ngapain lagi minta maaf sama cewek sialan kayak dia!" Arsen mendelik marah ke Milo.
"Lo yang sialan!! Dasar nggak punya etika, nggak punya sopan santun, urakan!!!" maki Sunrise.
Milo segera mengode Andres dan Orland untuk membawa paksa Arsen dari tempat itu dari pada perdebatan mereka yang sudah jadi tontonan umum ini nggak kelar-kelar. Arsen masih memberontak sambil mengucapkan sumpah serapahnya untuk Sunrise saat ketiga temannya menyeretnya untuk menjauh.
Sunrise hanya menanggapi celotehan Arsen dengan mengacungkan jari tengahnya ke arah Arsen, kemudian dia berbalik menuju ke arah perpus bersama Zafa yang baru saja selesai memunguti bekal mereka yang tercecer dilantai.
Arsen yang merasa tertantang karena Sunrise telah dengan beraninya mengacungkan jari tengah kearahnya, berontak sekuat tenaga dan akhirnya berhasil lolos dari cengkeraman ketiga temannya. Dia berlari ke arah Sunrise dengan cepat kemudian memanggul tubuh mungil Sunrise dipundaknya tanpa dapat disangka-sangka oleh siapapun.
"HEH....orang gila!!!turunin gue b******k!!!" Sunrise berusaha meronta dalam panggulan Arsen.
Arsen nggak bergeming sedikitpun, dia berjalan dengan cepat melewati ketiga temannya yang tengah tertegun dengan aksinya juga murid-murid lain yang menyaksikan pemandangan ini dengan takjub. Begitu sampai diparkiran, dia segera membuka pintu penumpang Ferrari merahnya kemudian mendudukkan tubuh Sunrise dengan paksa. Setelah berlari menuju kursi pengemudi, Arsen segera tancap gas meninggalkan sekolah, membawa Sunrise kabur bersamanya. Ketiga anggota The King's yang lain juga Zafa yang berusaha mengejar ke parkiran pun sudah kehilangan jejak mereka.