"Itu temen gue mau dibawa kemana sama Arsen??" pekik Zafa sambil menarik-narik baju Andres hingga membuat Andres meliriknya dengan pandangan tajam.
Zafa yang tersadar atas tindakan konyolnya mendadak pucat dan salah tingkah, "Eh, maaf-maaf...!"
"Tenang cantik, nih lagi kita coba hubungi, jangan panic ya!" hibur Orland sambil mengedipkan matanya dengan genit, membuat Zafa seketika bersemu merah.
Padahal dalam hati sebenernya Orland panic juga gara-gara dia nggak berhasil menghubungi Arsen.
"Shit..nggak diangkat!" ucapnya sambil menoleh ke arah Milo.
Milo menelan ludah dengan susah payah, dia khawatir mengingat Arsen bisa saja berbuat nekat pada gadis itu, apalagi saat pergi dia sedang dalam keadaan emosi. Setelah menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kuat-kuat, Milo berusaha menghubungi Arsen kembali setelah usaha Orland nggak membuahkan hasil.
Sekali dering, dua kali.....dan s**t!! Ponsel Arsen malah nggak aktif sekarang.
"Guys kayaknya kita mesti mencar untuk nyari keberadaan Arsen, handphonenya mati!" ucap Milo sambil mengacungkan ponselnya ke arah Orland dan Andres.
"Yaudah yuk buruan cabut, tapi kita ke kelas dulu buat ambil tas kita sama tas Arsen sekalian!" ucap Andres yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Milo dan Orland.
"Lo, mending lo balik ke kelas aja biar kita yang nyari Sunrise. Jangan lupa beresin barang-barang Sunrise kalo sampai jam pulang nanti ternyata dia nggak balik. Lo jangan lapor siapa-siapa dulu sebelum dapat kabar dari kita, apalagi sampai lapor orang tuanya!" perintah Milo kepada Zafa yang tengah cemas.
"Sini'in handphone lo!" giliran Andres yang berbicara pada Zafa, dengan takut-takut Zafa memberikan ponselnya pada Andres.
Setelah mengetikkan sederetan angka pada ponsel Zafa, bunyi ponsel tiba-tiba terdengar dari saku celana Andres. Ternyata dia memiscall nomernya sendiri lewat ponsel Zafa.
"Itu nomer gue, lo simpen. Nanti kalo Sunrise ketemu gue bakal hubungin lo!" ucap Andres sambil mengembalikan ponsel milik Zafa.
"O..Oke, gue tunggu telpon lo—" Zafa merutuk pelan, "Eum, maksud gue, kabar tentang Sunrise dari lo!"
Setelah itu ketiga anggota The King's berjalan menjauh dari parkiran meninggalkan Zafa yang masih terpaku ditempatnya. Nggak nyangka seorang Andres, anggota The King's yang ganteng itu ngasih nomernya ke dia gitu aja, yang jelas-jelas hanya seorang siswi biasa. Yah...walaupun hal itu tujuannya untuk memberikan kabar tentang Sunrise yang dibawa kabur oleh leader mereka.
***
"Arsen gila!!! Ini penculikan namanya, gue bisa laporin lo ke polisi!!" maki Sunrise kesal saat dia dibawa entah kemana oleh Arsen yang menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan.
"Laporin aja kalo bisa, itupun kalo lo belum keburu mati duluan!!" balas Arsen santai yang sukses membuat Sunrise menelan ludah ketakutan.
Tiba-tiba saja ponsel milik Arsen berbunyi, tanpa menurunkan kecepatannya menyetir dia merogoh ponselnya di saku kemeja seragam putihnya. Dia berdecak kesal begitu melihat nama Orland terpampang di layar ponselnya, buru-buru dia me reject panggilan Orland kemudian memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Jangan nyetir sambil main handphone bego, gue belum mau mati!!" umpat Sunrise.
"Lo nggak liat kalo udah gue reject?? Berisik!!" bentak Arsen.
Arsen semakin menambah kecepatannya dalam mengemudi hingga membuat Sunrise memekik ngeri di tempatnya.
"Hoi setan!!! Nyetirnya pelan-pelan dong, kalo kita tabrakan gimana!!" pekik Sunrise.
"Wah....belom tau siapa gue lo, gue ini penerusnya Rifat Sungkar!!"
"Gue nggak peduli, berhenti nggak? Turunin gue Arsen!!" lagi-lagi Sunrise berteriak hingga membuat Arsen berdecak kesal.
Tiba-tiba ponsel Arsen kembali berbunyi, dengan kesal dia merogoh saku bajunya kemudian mematikan alat komunikasi itu.
"Diem elah... jangan bikin gue tambah pusing. Lo mau kita beneran tabrakan??"
"Ya lo nyetirnya biasa aja dong, lagian mau bawa gue kemana sih?? Jangan macem-macem sama gue!!" ancam Sunrise sambil menggenggam erat seatbeltnya.
"Gue mau buang lo ke laut, biar kuping gue nggak terkontaminasi lagi sama suara cempreng lo itu!!" ucap Arsen dengan santainya.
Sunrise terdiam seketika, mendadak dia merasa ngeri. Takut kalau Arsen benar-benar melaksanakan ancamannya itu.
Sekitar setengah jam kemudian, Sunrise semakin panic saat mengetahui bahwa mobil Arsen sudah berada di jalan menuju jembatan Suramadu.
'Mampus gue, jangan-jangan dia serius mau buang gue ke laut!' pikir Sunrise.
Saat semakin mendekati gerbang tol Suramadu, tiba-tiba Arsen membuang setir ke kiri jalan, melewati jalan yang menuju ke arah bibir pantai yang tepat berada di bawah jembatan. Begitu sampai di tempat yang lumayan luas untuk memarkir kendaraannya, Arsen bergegas menyeret Sunrise untuk keluar mobil. Dengan kasar dia menarik tangan Sunrise untuk berjalan melewati deretan warung-warung yang ada disana, lalu akhirnya sampai juga di ujung pantai tersebut, tepatnya di sebuah tempat dimana hanya terdapat bebatuan yang langsung berbatasan dengan air laut yang lumayan dalam dan tentu saja airnya keruh. Juga pohon-pohon rimbun yang membuat tempat ini menjadi lebih tertutup dan menyeramkan, bahkan nggak ada orang sama sekali.
"Lo mau ngapain bawa gue ke tempat kayak begini? Jangan macem-macem sama gue Ar!!!" hardik Sunrise saat mereka berdua sudah sampai di tempat itu.
Arsen hanya tertawa kecil, "Gue kan udah bilang, gue mau buang lo ke laut, lo pikir gue main-main??"
"Lo nggak akan berani!!!" balas Sunrise ketus.
"Berarti lo belum kenal gue, seorang Arsen nggak pernah main-main dengan ucapannya!" ledek Arsen sambil mengerling nakal.
Sunrise menelan ludah dengan gugup kemudian merutuki dirinya sendiri dalam hati, kenapa sampai dia bisa terpesona dengan cowok se-menyebalkan Arsen.
"Bisa aja sih gue lepasin lo saat ini, asal...lo mau minta maaf sama gue dan ngaku kalah di depan anak-anak di sekolah, dan jangan pernah berani-berani ngelawan gue maupun anak-anak The King's yang lain!" tawar Arsen sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan muka Sunrise.
Jantung Sunrise mendadak jedag-jedug tak karuan saat melihat wajah badboy Arsen dalam jarak sedekat ini.
'Sial, breath Rise...breath! Bukan saatnya lo terpesona sama iblis macem dia!' rutuk hati kecil Sunrise.
"Gue muak sama cewek sok galak macem lo, gue muak sama cara lo nyari perhatian The King's dengan sok-sok'an nantangin kita, lo pikir dengan kayak gitu salah satu dari kita bakal tertarik sama lo gitu? Haha...jangan mimpi, lo itu nothing !!!" ucap Arsen tajam yang kontak membuat Sunrise meradang.
Hatinya terluka sekaligus tersinggung dengan ucapan Arsen tadi, Dia nggak habis pikir gimana bisa Arsen berpikiran kalau tindakannya selama ini hanyalah cara untuk membuat The King's tertarik padanya. Sama sekali nggak pernah terpikirkan di kepala Sunrise untuk menarik perhatian The King's seperti yang dikatakan Arsen tadi. Kenekatannya selama ini untuk melawan The King's semata-mata hanya untuk menunaikan janjinya kepada seseorang yang sangat dia sayang.
Dia lebih terluka lagi karena ucapan itu terlontar dari mulut seorang Arsen, seorang badboy sombong yang perlahan mulai mencuri hatinya. Bahkan dengan kurang ajarnya pernah mencuri sebuah ciuman dari dia. Dan sekarang cowok b******k itu dengan entengnya bilang dia nothing?? Hell, pengen banget rasanya Sunrise memukul kepala Arsen dengan botol kecap.
Sunrise berusaha meredakan amarahnya dengan menarik napas panjang berkali-kali, "Denger ya cowok sombong, sampai kapanpun gue nggak akan pernah tunduk sama lo ataupun anggota lain geng konyol lo yang useless itu. Dan perlu lo inget baik-baik, walaupun gue cuman nothing di mata lo, setidaknya gue something di mata orang lain. Terus apa sebutan yang pantes bagi seseorang yang udah dengan kurang ajarnya ngatain gue nothing, tapi toh ternyata dengan kurang ajar juga dia udah mencium gue dengan paksa?" balas Sunrise nggak kalah tajam tepat di depan wajah Arsen yang membuat cowok itu menegang.
"Sadar atau enggak, lo udah ngejilat ludah lo sendiri. i***t!!!" tambah Sunrise dengan penekanan pada setiap kata-katanya.
Amarah Arsen bertambah tinggi mendengar ucapan Sunrise, dia meradang, "Lo bener-bener nggak ada takutnya sama gue!"
"Gue cuman takut sama Tuhan!" balas Sunrise tajam.
Arsen langsung menyeret tubuh mungil Sunrise ke pinggiran bebatuan yang langsung bersinggungan dengan laut. Dia mencondongkan tubuh Sunrise tepat di atas air yang bercampur gulungan ombak kecil.
"Mau berubah pikiran, mumpung belum gue lepas pegangan gue dari tubuh lo ?" tanya Arsen mengejek.
"Ceburin aja kalo itu bikin lo puas, tapi sampai kapan pun gue nggak bakal berubah pikiran!" jawab Sunrise tenang.
Sebenarnya dalam hati, Sunrise mendadak was-was karena kalau sampai benar Arsen tega menceburkannya ke laut, dia bisa saja mati karena Sunrise nggak bisa berenang. Tapi pantang baginya menuruti keinginan cowok sombong ini.
'Tuhan, apapun yang terjadi gue mohon selamatkan gue, tujuan gue belum tercapai!' doanya dalam hati.
"As u wish little girl!!"
Byurrr....
Dalam sekejap tubuh Sunrise tercebur juga ke air laut berwarna keruh itu saat Arsen melepaskan cengkeramannya dari tubuh Sunrise. Dia tertawa puas saat melihat Rise bersusah payah menggapai permukaan.
"Rasain lo, itu akibatnya kalo lo berani ngelawan gue, naik sendiri kalo bisa!!" ejek Arsen.
Sementara itu Sunrise gelagapan berusaha agar dirinya nggak tenggelam. Dadanya mulai terasa sesak karena sempat meminum air laut yang keruh ini. Lama kelamaan kekuatannya semakin hilang, hingga dia memejamkan mata, pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya setelah ini.
Diatas sana Arsen merasa panic karena tiba-tiba tubuh Sunrise menghilang dari permukaan air. Sungguh bukan ini yang sebenarnya dia inginkan, Arsen hanya mau sedikit memberi pelajaran kepada Sunrise. Tapi sepertinya Arsen melupakan sesuatu, kenapa dia nggak ingat bahwa ada kemungkinan kalau Sunrise nggak bisa berenang.
"Mampus!!! Gimana kalau sampai tuh anak orang mati!!” rutuknya panic.
Secepat kilat dia ikut terjun ke air kemudian berusaha mencari tubuh Sunrise yang untungnya masih bisa terlihat meskipun air laut cukup keruh. Dia merengkuh tubuh itu kemudian membawanya naik ke permukaan. Sunrise sudah lemas dengan mata yang hampir menutup tapi dia masih belum pingsan.
"Hei cewek galak, bangun....hei!!" ucap Arsen sambil menepuk-nepuk pipi Sunrise.
Melihat Sunrise yang tetap nggak bereaksi dengan tepukannya,malahan matanya semakin menutup. Arsen buru-buru memberikan nafas buatan kepada Sunrise secara langsung dari mulut ke mulut. Ajaibnya hal itu berhasil membuat Sunrise batuk-batuk sambil memuntahkan sebagian air yang tadi dia telan. Bersamaan dengan itu kesadaran Sunrise perlahan kembali seutuhnya.
"Syukur deh...akhirnya lo sadar juga, harus ya dikasih nafas buatan dulu??" ucap Arsen sinis tanpa rasa bersalah sama sekali.
Sunrise tertegun mendengar ucapan Arsen barusan, hatinya serasa diremas-remas. Dengan entengnya cowok b******k itu bilang begitu seolah Sunrise lah yang menginginkan untuk di beri nafas buatan, padahal dia sendiri yang sudah membuat Sunrise hampir mati. Lagi-lagi Sunrise merasa dilecehkan karena ulah cowok gila ini.
Sunrise segera berdiri dari tempatnya tadi, dengan mata berkaca-kaca dia memandang ke arah Arsen yang kini sama basah kuyupnya dengan dia.
"Elo....., bener-bener manusia yang nggak punya hati!! b******k!!!" ucap Sunrise dengan berlinang air mata.
Tanpa menghiraukan Arsen yang tengah tertegun di tempatnya, dia berjalan meninggalkan cowok itu. Sunrise bersumpah nggak akan mau pulang bersama orang yang sudah mempermainkannya seenak jidat. Dia berjalan sambil menangis, terlebih saat menyadari dia nggak membawa apa-apa saat ini. Jangankan jaket untuk menutupi tubuhnya yang basah kuyup, ponsel saja ketinggalan di tas sekolah. Hanya ada beberapa lembar uang 20ribuan di sakunya yang dia yakin sekarang pasti sudah basah.
Dengan diiringi tatapan heran orang-orang disekitar, dia terus berjalan sambil menangis dan memeluk tubuhnya sendiri. Berharap ada taksi lewat yang bisa dia cegat untuk pulang ke rumah.
"Sial...., gimana bisa gue suka sama cowok super b******k kayak dia!!!" umpatnya saat tengah berjalan.
Di tempat tadi, Arsen masih tertegun meski Sunrise sudah nggak terlihat lagi dari jangkauannya. Entah kenapa dia jadi merasa bersalah saat melihat Sunrise menangis sambil memakinya tadi. Sorot mata terluka milik gadis kecil itu saat menatapnya membuat hati Arsen nyeri.
Buru-buru dia berlari menuju mobilnya saat sadar Sunrise sudah berjalan terlalu jauh dari jangkauannya. Demi Tuhan, bahkan pakaian gadis itu basah kuyup dan keadaannya terlihat sangat menyedihkan. Begitu sampai di mobil, dengan segera dia melajukan Ferari merahnya itu untuk menyusul Sunrise. Ternyata Sunrise sudah berjalan lumayan jauh, untung saja Arsen masih sempat menyusulnya.
Begitu melihat Sunrise sedang berjalan dengan lunglai di pinggir jalan, arsen segera menghentikan mobilnya tepat dihadapan gadis itu hingga mobilnya mengahalangi jalan Sunrise. Buru-buru dia menyambar jaketnya yang sedari tadi berada dimobil kemudian turun menghampiri Sunrise.
"Lo mau kemana? Pulang sama gue!" ucap Arsen sambil memakaikan jaketnya ke bahu Sunrise.
Dengan menatap Arsen penuh emosi, Sunrise melepas jaket Arsen kemudian melemparkannya kembali ke Arsen.
"Gue nggak mau pulang sama lo!" ucap Sunrise dingin sambil menyeka air matanya.
"Pulang sama gue, nggak malu lo diliatin orang dengan keadaan kayak gini?" bujuk Arsen.
"GUE NGGAK MAU PULANG SAMA LO!!! LO b******k, b******n, SIALAN!!!" Maki Sunrise penuh emosi sambil menangis lebih kencang.
Dengan segera Arsen meraih tubuh mungil Sunrise ke pelukannya, membiarkan Sunrise menumpahkan segala amarahnya. Sunrise yang masih kesal sontak memukul-mukul tubuh Arsen dengan membabi buta sambil terus menangis.
"Pukul aja sampe lo puas, setelah itu pulang sama gue ya!!" ucap Arsen lembut sambil memeluk Sunrise lebih erat.
Setelah capek dan merasa emosinya sedikit mereda, Sunrise akhirnya berhenti memukuli tubuh Arsen. Sebagai gantinya, dia ikut membalas pelukan Arsen sambil terisak. Yang tidak dapat dia pungkiri, sangat dia butuhkan saat ini.