Sunrise memandang Arsen yang tengah duduk di sofa dengan tatapan kesal. Dia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sembari diperiksa oleh seorang dokter suruhan Arsen. Demi Tuhan Sunrise sendiri yakin kalau sebenarnya dia baik-baik saja, Arsen saja yang lebay sampai harus memanggilkan dokter segala. Memang sih dia sempat meminum air laut yang kotornya minta ampun itu, tapi sungguh dia nggak perlu dokter. Paling-paling nanti hanya mules-mules.
"Semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mas Arsen!" ucap sang dokter setelah selesai memeriksa keadaan Sunrise.
"Oke kalo gitu, dokter boleh keluar sekarang!" ucap Arsen datar.
"Baiklah, saya permisi dulu ya!" pamit sang dokter kepada Arsen dan Sunrise.
Setelah itu sang dokter beserta susternya pergi keluar kamar meninggalkan Sunrise dan Arsen berdua.
"Gue kan udah bilang kalo gue nggak apa-apa, lo lebay banget sih!" ucap Sunrise judes.
"Gue cuman nggak mau nanti dituntut sama keluarga lo kalau sampe lo kenapa-napa!" balas Arsen datar.
"Ya lo emang pantes dituntut, harusnya gue laporin lo ke polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan, lo itu udah salah sama gue, minta maaf kek !" ucap Sunrise.
"Ck...minta maaf? Lo pikir maaf bisa balikin keadaan seperti semula? Maaf tuh nggak guna, yang penting gue tanggung jawab kan sama perbuatan gue ke lo?" Arsen berdecih kesal.
Sunrise menghembuskan nafas berat mengingat 'tanggung jawab' yang dimaksud Arsen terlalu berlebihan. Begitu sampai dirumah ini, Arsen segera meminta para pelayannya untuk menyiapkan kamar untuknya. Memberikan dia baju ganti hingga sekoper banyaknya padahal dia hanya butuh satu stel dan demi Tuhan semua baju itu masih baru. Yang lebih gilanya lagi Arsen meminta para pelayannya untuk membawakannya banyak makanan ke kamar ini dari pizza, aneka pasta, aneka sup dan beberapa macam olahan daging, ayam, dan seafood. Mana mungkin Sunrise sanggup makan itu semua.
"Lo berlebihan, harusnya lo langsung anterin gue pulang kerumah aja. Itu udah cukup!" ucap Sunrise ketus.
"Terus bakalan ditanya-tanya sama orang rumah lo karena keadaan lo yang terlihat mengenaskan gitu?" ucap Arsen mengejek.
'Sial...kan dia juga yang bikin keadaan gue terlihat mengenaskan!' batin Sunrise kesal.
"Udalah...nikmatin aja fasilitas dari gue, banyak cewek yang mau tuker posisi sama lo kayak gini!"
"Dan sayangnya gue bukan termasuk salah satu dari cewek-cewek itu, pantes aja banyak cewek yang mau ngantri jadi cewek lo, jadi gini cara lo memperlakukan mereka biar mereka bersedia ngasih apa aja sama lo??" sindir Sunrise.
"Wah..wah...sembarangan lo, don't judge a book by the cover. Gue bertingkah arogan ke mereka aja udah banyak yang ngantri pengen jadi pacar gue dan ngasih segalanya buat gue. Gimana gue perlakukan kayak gini, langsung minta dikawinin kali' mereka!" ucap Arsen dengan sombongnya.
"Kalo nggak mau di judge by cover, ya perbaikin dong cover lo!" balas Sunrise cuek.
Baru saja Arsen hendak membalas ucapan Sunrise, tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kencang. Milo, Andres dan Orland menerobos masuk ke kamar itu.
"Woah....anjirr, kita bertiga udah susah-susah nyariin lo berdua kemana-mana, taunya malah ngamar berdua disini!" ucap Orland dengan muka terkejut begitu mendapati Sunrise sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.
"Kalo ngomong jangan sembarangan ya, gue tebas juga pala lo!" ucap Sunrise galak.
Andres yang mengetahui bahwa Sunrise baik-baik saja segera menghubungi Zafa lewat ponselnya.
"Kalian dari mana? Tadi gue udah kerumah lo Ar tapi pelayan lo bilang kalo lo nggak dirumah!" tanya Milo menyelidik.
"Nggak kemana-mana, cuman main-main sebentar!" jawab Arsen santai.
"Main-main sama nyawa gue maksud lo??" Sunrise mendelik kesal mendengar jawaban Arsen.
"Maksud lo gimana?" giliran Andres yang bertanya setelah dia selesai menghubungi Zafa.
"Asal kalian tau, gue hampir aja mati gara-gara diceburin ke laut sama temen lo yang sengklek ini! " kata Sunrise berapi-api yang membuat Orland serta Andres melongo lebar.
"Bener itu Ar?" tanya Milo tajam.
Arsen hanya mengedikkan bahunya dengan cuek. Dengan begitu saja ketiga sahabatnya sudah tau kalau apa yang dikatakan Sunrise itu benar.
"Bloody hell!! Udah sinting lo Ar?" Orland geleng-geleng kepala kemudian ikut duduk di samping Arsen.
Milo segera menghampiri Sunrise yang tengah terduduk di ranjang kemudian mengambil tempat di pinggiran ranjang.
"Lo gapapa ?" tanya Milo sambil memegang kening Sunrise.
Tentu saja hal itu membuat Sunrise merasa surprised karena orang secuek Milo yang nggak pernah peduli sama orang lain tiba-tiba menanyakan keadaannya. Oke..bukan cuma Sunrise yang merasa surprised, tapi ketiga sahabatnya juga.
"Sejak kapan lo peduli sama orang lain?" Sunrise balik bertanya dengan nada sarkas.
Milo tertegun mendengar pertanyaan Sunrise kemudian menarik tangannya dari kening Sunrise. Benar juga, selama ini mana pernah dia peduli dengan orang lain. Lalu apa yang membuat dia memperdulikan gadis kecil yang selalu bersikap judes kepadanya ini? Milo jadi bingung sendiri.
Sementara Arsen, Orland dan Andres merasa ada yang aneh dengan Milo. Tadi di sekolah Milo minta maaf ke Sunrise atas nama Arsen, sekarang juga jadi sok peduli dengan gadis itu. Seperti bukan Milo.
"Kenapa lo selalu bersikap judes sama gue sih, sebenernya gue ada salah apa sama lo ?" tanya Milo datar.
Sunrise memandang Milo dengan tatapan yang sulit diartikan, "lo pikir aja sendiri!"
Ucapan Sunrise benar-benar membuat Milo bingung. Dasar cewek, memangnya mereka pikir para cowok itu dukun apa ?
Tanpa menghiraukan Milo yang masih kebingungan, Sunrise bangkit dari tempat tidurnya kemudian dia melangkahkan kaki hendak keluar kamar.
"Mau kemana lo?" tanya Arsen.
"Pulang lah, lo pikir gue kesenengan disini terus?" ucap Sunrise jutek.
Arsen menghembuskan nafas berat, baru kali ini dia menghadapi seorang cewek yang juteknya keterlaluan dan benar-benar menguras kesabaran.
"Biar gue anter!" ucap Milo tiba-tiba yang membuat semua orang kaget.
Annother surprise from Milo, mantan-mantan pacarnya yang dulu aja nggak pernah dia antar jemput. Padahal mantan dia rata-rata secantik para model.
"Nggak usah, gue bisa pulang sendiri kok!" tolak Sunrise.
Tanpa memperdulikan penolakan Sunrise, Milo berjalan mendekati Sunrise kemudian langsung menarik tangan Sunrise untuk meninggalkan tempat itu.
"Gue ngajakin lo pulang, bukan ngajakin lo debat, jadi diem nggak usah ngomong lagi!" ucap Milo dingin sambil terus menarik tangan Sunrise untuk meninggalkan rumah Arsen.
Sunrise langsung cemberut mendengar penuturan Milo dan dengan setengah hati mengikuti langkah Milo yang lebar-lebar. Arsen, Orland dan Andres ikutan panic dan mengejar mereka berdua.
"Lo apa'an deh Mil tarik-tarik dia gini!" Arsen menghentikan langkah Milo kemudian meraih tangan Sunrise yang bebas.
"Gue mau anterin dia pulang, jadi mending lo minggir!" balas Milo dingin.
Sunrise yang menyaksikan mereka adu mulut jadi bingung sendiri, lama kelamaan dia gerah juga karena kedua tangannya ditarik-tarik.
"Hoiii...., pada gila ya lo berdua!!" bentak Sunrise kesal sambil menghentakkan kedua tangannya hingga terlepas dari dua cowok itu.
Milo menoleh kearah Sunrise, tanpa banyak bicara dia langsung mendorong tubuh mungil Sunrise untuk masuk ke dalam Audi putihnya. Kemudian tanpa bicara apapun dia bergegas masuk ke mobil lalu meninggalkan Arsen dengan wajah bingungnya, juga kedua sahabatnya yang lain.
"Lo ini kenapa sih Mil ?" tanya Sunrise heran saat mereka sedang dalam perjalanan.
Milo memandang Sunrise dengan tatapan tajam, membuat nyali Sunrise menciut. Sumpah demi apapun Milo terlihat 5 kali lipat lebih menyeramkan dari pada Arsen dalam keadaan seperti ini.
"Lo yang kenapa, alergi sama gue ?" jawab Milo dengan judesnya.
"Gue...gue nggak kenapa-napa sama lo, lo aja yang terlalu baper!" kilah Sunrise.
Tanpa meladeni ucapan Sunrise, tiba-tiba Milo membuang setir ke kiri kemudian menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Lo pikir gue percaya sama lo ? setiap kali lo interaksi sama gue, lo bersikap lebih dingin sama gue dari pada ketiga anggota The King's yang lain. Gue punya salah apa sama lo??" kejar Milo.
Sunrise sedikit goyah, apa dia harus memberitahu Milo sekarang tentang kejadian itu. Tapi nggak, dia harus lebih bersabar lagi karena sekarang bukan saat yang tepat untuk membuka semuanya.
'Nggak – nggak , sekarang bukan saat yang tepat Rise!' batin dia.
"Jadi gue harus bersikap kayak gimana sama lo ?" tanya Sunrise menantang, membuat Milo terhenyak.
Sedetik kemudian dia kembali memasang muka datar, kemudian melepas seatbeltnya. Milo mendekatkan tubuhnya ke arah Sunrise dengan perlahan, membuat Sunrise menelan ludah karena gugup.
"Lo mau ngapain Mil, jangan macem-macem sama gue!" hardik Sunrise ketika wajah Miloo tinggal berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Kenapa, lo takut ? lo sendiri kan yang bilang kalau cowok kayak gue ini bisa jadi yang paling b******k, sekarang gue mau tunjukin ke lo seberapa brengseknya gue!" bisik Milo dengan nada yang mengancam.
Wajah Sunrise seketika memucat, tangannya berusaha menjauhkan tubuh Milo dari dirinya.
"Milooo....jangan macem-macem ya!!" cicit Sunrise ketakutan.
"Takut hmm??" belaian jemari Milo yang menari di atas pipinya membuat nyali Sunrise semakin menciut hingga dia menutup matanya karena ketakutan.
Entah kenapa dia nggak bisa melawan segala tindakan Milo seperti yang dia lakukan saat berhadapan dengan Arsen. Aura Milo lebih mengintimidasi, sehingga membuatnya ketakutan.
"Please Mil....!" ucap Sunrise lirih dan tanpa terasa air matanya menetes saking ketakutannya.
Tiba-tiba Sunrise merasakan bahwa tubuhnya tengah berada dalam pelukan Milo. Dan tangan Milo tengah membelai kepalanya dengan lembut.
"Don't cry, gue nggak sejahat yang lo pikir !" bisik Milo ditengah pelukannya, membuat Sunrise akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata.