Hujan turun saat aku sedang merapikan cat. Aku menutup kaleng dan memindahkan kuas ke bawah atap. Anak-anak yang masih menunggu jemputan berdiri di koridor, menatap air yang mengalir dari talang. Seorang guru bertanya apakah aku bisa melanjutkan besok. Aku menyanggupi dan memberi perkiraan waktu baru. Mereka mengucapkan terima kasih karena aku memberi kabar lebih awal.
Aku pulang dengan pakaian lembap. Di rumah, ayah sudah menaruh dua handuk dekat pintu. Ibu menyiapkan teh jahe dan bertanya apakah aku perlu mengganti jadwal pelanggan. Aku menghubungi mereka satu per satu sebelum malam. Ada yang kecewa, tapi menerima. Aku tak ingin menghilang lalu muncul dengan alasan setelah tenggat lewat.
Nara mengirim pesan pada waktu yang sama. "Ayah dan Om membicarakan berkas malam ini. Aku belum tahu apakah aku perlu ikut duduk." Aku membalas bahwa ia bisa bertanya apakah mereka ingin ia mendengarkan atau membantu mencatat. Ia menjawab, "Aku akan tanya. Kalau mereka hanya mau bicara berdua, aku tidak akan memaksa masuk."
Beberapa jam kemudian ia menelepon. Ia duduk di kamar, katanya, setelah membantu menata dokumen di ruang depan. Ayah dan omnya sedang memeriksa catatan lama. Nara tidak ikut semua percakapan, tetapi ia diminta mengelompokkan surat berdasarkan tanggal.
"Aku senang diberi pekerjaan yang jelas," katanya. "Setidaknya aku tidak merasa harus menyelesaikan semuanya hanya dengan menikah."
"Dan kamu bisa berhenti kalau sudah lelah."
"Iya. Om bilang kita lanjut besok. Ayah masih kesal karena aku nggak bersedia bertemu keluarga itu minggu ini."
"Apakah kamu sudah bilang alasannya?"
"Sudah. Aku belum tahu semua angka dan belum ingin membahas masa depan dengan orang yang bahkan belum kutemui sendiri. Aku tidak ingin berjanji. Ayah bilang aku mempersulit."
Aku tidak buru-buru menawarkan solusi. "Kamu sudah bilang apa yang bisa kamu lakukan."
Nara diam. "Kadang aku berharap ada satu keputusan yang membuat semua orang tidak kecewa."
"Aku juga pernah berharap begitu. Tapi biasanya keputusan yang paling jujur tetap membuat seseorang kecewa."
Ia menarik napas. "Kamu sedang bicara soal hidupmu atau soal aku?"
"Sedikit dua-duanya. Aku sering takut mengecewakan ibu kalau pekerjaanku tidak cukup. Tapi aku tidak bisa menjanjikan pendapatan tetap yang belum ada."
Nara bertanya apakah orang tuaku marah. Aku menjawab ibu cemas, ayah lebih banyak diam. Aku menceritakan percakapan tentang upah kerja ayah, tanpa membuat diriku penafsir hidupnya. Nara mendengarkan dan berkata ia senang ayahku mulai menerima bantuan. Aku mengoreksi bahwa mereka saling membantu, bukan aku yang mengatur ayah.
Kami tertawa sebentar. Suasana tidak langsung menjadi ringan, tetapi cukup untuk membuat kami kembali bernapas.
Sebelum menutup telepon, Nara berkata ia tidak mau aku mengambil semua beban perasaannya. Aku menjawab aku tak ingin ia mengambil beban pekerjaanku atau keluargaku. Kami sepakat bertanya sebelum memberi saran. Kesepakatan itu sederhana, tidak menjadikan kami pasangan, tetapi menjaga percakapan agar tidak berubah menjadi saling menyelamatkan.
Pagi berikutnya, mural hampir selesai. Aku menambah garis di sekeliling daun dan mundur beberapa langkah untuk melihat. Dinding itu tak sempurna, ada satu warna yang sedikit berbeda karena cat lama masih terlihat. Kepala sekolah berkata ia suka teksturnya. Aku tidak memperbaikinya lagi.
Di rumah, ayah dan ibu membicarakan akhir pekan. Mereka memutuskan membeli bahan pagar lebih dahulu setelah pesanan dipastikan. Aku menyampaikan bahwa aku bisa membantu mengangkat, tetapi hanya setelah mural selesai. Ayah menyetujui jadwal itu. Tidak ada yang menganggap seseorang harus selalu tersedia untuk semua orang.
Nara mengirim foto map yang kini tertata. Ia menulis bahwa mereka belum menemukan seluruh dokumen, tetapi ayahnya setuju menunggu sebelum mengundang keluarga rekan bisnis. Aku membaca pesannya setelah membersihkan tangan dan menjawab bahwa itu memberi mereka ruang bernapas. Ia membalas, "Untuk sementara."
Aku melihat kata itu lama-lama. Tidak semua kemajuan permanen. Namun untuk sementara, percakapan berjalan tanpa jalan pintas. Itu cukup untuk hari ini.
Sore itu aku kembali ke rumah ibu Dimas untuk mengambil map kosong yang tertinggal. Beliau mengundangku masuk dan menunjukkan catatan pengeluaran bahan jualannya. Ia memutuskan membuat sedikit dulu dan mencoba menitipkan di warung Pak Ujang satu hari. Aku bertanya apakah ia sudah menghubungi pemasok. Ia menjawab belum, tetapi akan menghubungi besok pagi sendiri. Aku tidak menghubungi pemasok untuknya.
"Kalau ternyata aku tidak sanggup, aku berhenti dulu," katanya.
"Itu juga boleh."
Ia tersenyum. "Kamu tidak mencoba meyakinkanku semuanya akan berhasil."
"Aku tidak tahu apakah akan berhasil."
"Lebih enak dengar begitu."
Kami membicarakan hal lain: hujan, halaman rumah, dan suara motor yang kadang membuatnya mengira Dimas pulang. Beliau tidak meminta aku tinggal lama. Aku pamit setelah membantu mengangkat satu kardus ke rak. Dalam perjalanan pulang, aku merasa lega karena tidak ada yang harus kusebut sebagai kemenangan.
Di rumah, aku membuka buku hitam dan menuliskan kalimat ibu Dimas bahwa ia bisa berhenti bila lelah. Aku tidak menyertakan nama atau angka. Aku ingin belajar menyimpan kebenaran yang cukup tanpa merampas privasi.
Pak Ujang bertanya apakah ibu Dimas ingin aku datang lagi. Aku menjawab belum tahu; beliau akan menelepon jika perlu. Pak Ujang mengangguk dan berkata ia juga akan menunggu permintaan sebelum menawarkan bantuan berikutnya. Aku lega mendengarnya. Orang-orang yang peduli tidak harus membuat satu jadwal kunjungan bergantian tanpa persetujuan.
Di rumah, aku menyisihkan satu jam untuk mencuci kuas dan memeriksa pesanan berikutnya. Kalau tidak, cat akan mengeras dan aku harus membeli pengganti. Aku menyiapkan alat malam itu, lalu menutup buku hitam agar pikiranku tidak terus kembali ke map dan surat. Besok ada tembok yang harus kuselesaikan; pekerjaan itu nyata dan berada di depanku.
Aku pulang tepat waktu dan memberi tahu ibu bahwa besok jadwalku berubah.
Ibu Dimas mengabari Pak Ujang sendiri bahwa ia belum perlu dikunjungi. Pak Ujang membalas bahwa ia siap jika nanti diminta. Aku senang mereka dapat bicara langsung tanpa harus melewatiku.
Ia mengucapkan terima kasih, lalu kami sepakat menunggu surat berikutnya.
Aku memeriksa catatan pengeluaran rumah, lalu memasukkannya ke laci.