Kepala sekolah membayar tahap kedua mural setelah aku menyelesaikan tembok. Aku menghitung jumlahnya di hadapannya dan menandatangani kuitansi. Ia meminta aku menyimpan rancangan untuk kegiatan sekolah lain. Aku berkata bisa, asal kami membicarakan anggaran lebih awal. Ia mengangguk dan menulis nomorku di buku kontak. Aku pulang dengan tenaga yang terkuras dan bayaran yang tak mewah, tetapi setidaknya jelas.
Ibu menanyakan apakah aku akan membantu ayah membuat bingkai akhir pekan. Aku melihat jadwal yang tertulis di kulkas dan berkata bisa pada Minggu pagi. Sabtu aku harus membeli bahan untuk papan kios. Ibu menyetujui. Ayah berkata ia akan menyiapkan alatnya sendiri.
Sore itu aku duduk bersama Pak Ujang. Ia bertanya apakah Nara masih di Jakarta. Aku menjawab masih, sedang menyusun dokumen dengan ayah dan omnya. Pak Ujang tidak bertanya apakah ia akan kembali. Ia hanya berkata kadang keputusan keluarga memang perlu dibicarakan lebih dari sekali.
Ponselku bergetar. Nara bertanya apakah aku bisa menerima telepon. Aku keluar dari warung agar suara pelanggan tidak mengganggu. Ia terdengar cemas karena ayahnya kembali meminta jawaban apakah ia mau bertemu keluarga rekan bisnis. Kali ini ia mengatakan bersedia mempertimbangkan sebuah pertemuan hanya jika jelas bahwa itu bukan persetujuan atas tanggal atau pernikahan. Ayahnya belum menjawab.
"Kalau mereka tidak mau menerima batas itu?" tanyaku.
"Aku tidak akan datang. Aku tidak mau membuat orang mengira aku sudah setuju."
"Apa kamu sudah menuliskannya?"
"Iya. Aku ingin mengirim pesan supaya tidak berubah makna saat kami bicara."
Ia membacakan kalimat yang ia tulis. Ia menyatakan bersedia mendengar penjelasan mengenai situasi usaha, tetapi tidak bersedia membicarakan tanggal atau memberi komitmen. Aku tidak menilai apakah kalimat itu cukup baik; aku bertanya apakah ia merasa itu benar-benar mewakili dirinya.
"Iya. Aku tidak mau terdengar kasar, tapi harus jelas."
"Kirim kalau kamu siap."
Nara mengatakan ayahnya mungkin merasa malu jika ia menolak bertemu pihak rekan bisnis. Aku bertanya apakah ia bisa menyampaikan bahwa ia bersedia bertemu untuk berbicara soal kondisi usaha bersama keluarga, tanpa hadir sebagai calon istri. Ia berkata itu yang ia coba lakukan.
Setelah panggilan, aku kembali ke warung. Pak Ujang tidak bertanya apa yang dibicarakan. Ia hanya mengisi gelasku. Aku bercerita bahwa aku kadang takut jika menolak pekerjaan, pelanggan akan pergi. Pak Ujang berkata menerima semua pesanan juga bisa membuatku gagal memenuhi semuanya.
"Aku masih belajar bilang tidak."
"Yang penting kau tahu kenapa bilang iya."
Aku mengingat kalimat Nara tentang janji. Ada kata-kata yang terasa sama bagi kami: janji bukan alat untuk menenangkan orang lain sesaat. Janji harus bisa dijalankan dan dipahami dengan cara yang sama oleh semua pihak.
Malamnya, Nara mengirim pesan bahwa ayahnya menerima batas yang ia tulis, tetapi pertemuan belum ditentukan. Ia mengucapkan terima kasih karena aku mendengarkan. Aku membalas bahwa ia sendiri yang menyusun kata-katanya. Ia menjawab, "Tetap saja, aku lebih berani setelah mendengar suaramu."
Aku membaca pesan itu dengan hati-hati. "Aku senang bisa menemani. Tapi keputusan itu tetap milikmu."
"Ya. Itu yang membuatnya terasa seperti keputusanku."
Aku tak menambahkan apa-apa. Di dalam rumah, ayah sedang menyiapkan alat untuk besok. Ibu menaruh daftar belanja di meja. Aku membantu memeriksa apakah kuas sudah bersih dan menyimpan sisa cat. Kami menjalani tugas kecil sesuai kesepakatan.
Sebelum tidur, aku mengirim pesan bahwa besok akan sibuk memasang papan dan mungkin tak cepat membalas. Nara menjawab ia akan mengurus dokumen dan tak perlu aku meminta maaf jika terlambat. Kami membuat ruang bagi hidup masing-masing.
Aku menutup ponsel, lalu membuka buku hitam. Aku menulis bukan tentang pesan Nara, melainkan tentang rasa takut menerima pekerjaan karena ingin dianggap berguna. Aku belum tahu apakah kalimat itu akan bertahan. Tetapi aku mulai mengerti bahwa menulis juga berarti memberi batas pada apa yang belum menjadi milikku.
Di akhir hari, aku menerima balasan dari pelanggan mural bahwa ia setuju dengan ukuran yang lebih kecil. Aku mengirim rancangan final dan mencatat tanggal pemasangan. Kejelasan sederhana itu membuatku merasa lebih mampu mengatur hidup daripada membaca pesan berulang kali.
Nara mengirim kabar bahwa ayahnya meminta waktu sampai akhir pekan sebelum membuat keputusan mengenai pertemuan keluarga rekan bisnis. Ia menjawab bahwa ia tidak akan hadir sebagai calon istri; jika pertemuan hanya untuk mendengar kondisi usaha, ia perlu tahu siapa yang hadir dan apa yang akan dibicarakan. Ayahnya belum menjawab, tetapi omnya mendukung agar pertanyaan itu disampaikan lebih dulu.
Aku bertanya apakah ia ingin aku mendengar saat ia menyiapkan kalimat. Ia menjawab iya, lalu membacakan pesan yang hendak ia kirim. Aku mendengarkan dan bertanya apakah ia merasa nyaman dengan kata-katanya. Ia mengubah satu kalimat agar tidak terdengar seperti ia meminta izin untuk menolak. Setelah itu ia mengirim sendiri. Aku tidak menyuntingnya atau meminta salinan.
Aku mengirim pesan bahwa aku akan mendengarkan kalau ia ingin cerita setelah pembicaraan, tetapi tidak perlu membalas segera. Ia membalas bahwa ia paham. Setelah itu, aku meletakkan ponsel dan kembali menyapu halaman kerja. Ada banyak daun basah yang tersangkut dekat saluran air. Aku membersihkannya sampai air mengalir lagi. Tak ada simbol besar di sana; hanya pekerjaan yang perlu dilakukan supaya halaman tidak tergenang.
Aku menutup daftar kerja setelah memastikan cat tertutup rapat dan kuas sudah dicuci.
Di rumah, ibu mengingatkanku bahwa pelanggan akan datang pagi. Aku memeriksa ulang alat dan menaruhnya dekat pintu. Pekerjaan hari esok membutuhkan perhatian penuh, jadi aku tidak terus menunggu pesan Nara.
Setelah semua alat tersimpan, aku mengirim pesan kepada pelanggan bahwa aku siap mulai pagi.
Aku merapikan meja dan mencuci kuasku sebelum pulang.
Aku memastikan kunci rumah ada di tempatnya.
Hujan reda sebelum aku selesai membereskan halaman.
Aku menyusun alat kerja dekat pintu agar mudah dibawa.