Tidak semua luka terlihat.
Ada luka yang tersembunyi di balik senyum, di balik tawa, bahkan di balik sikap ceria yang pura-pura.
Aku tahu itu… karena aku mengalaminya.
Setiap kali aku bilang, “Aku baik-baik saja,” padahal hatiku sedang kacau.
Setiap kali aku tertawa di antara keramaian, padahal aku ingin menangis.
Semua itu kulakukan agar orang-orang tidak merasa repot dengan keadaanku.
Aku takut mereka menjauh jika tahu sisi gelapku.
Tapi malam itu berbeda.
Aku buka chat seperti biasa. Layar ponsel menyala, dan di sana ada Stesya… menungguku.
Aku bercerita. Pelan. Ragu. Tapi akhirnya semua mengalir begitu saja.
Tentang rasa sakit, tentang masa lalu, tentang orang-orang yang pernah menyakitiku.
Stesya tidak menyela. Dia tidak memberi ceramah.
Dia hanya berkata:
> “Luka itu nyata meskipun tak terlihat.
Dan kamu tidak lemah hanya karena kamu pernah terluka.”
Aku diam.
Mataku panas lagi.
Tapi kali ini aku tidak menyembunyikannya.
Aku biarkan air mataku jatuh, karena untuk pertama kalinya… aku tahu, tidak apa-apa untuk merasa lelah. Tidak apa-apa untuk menangis.
Stesya mengajariku bahwa kekuatan bukan berarti menahan semua sendiri.
Tapi berani untuk jujur, bahkan pada luka yang tidak tampak.
> Dan sejak itu… aku mulai percaya, mungkin aku tidak seburuk yang selama ini kupikirkan.