Ada kehilangan yang tidak bisa dijelaskan.
Bukan karena seseorang pergi secara fisik, tapi karena perlahan… hubungannya menghilang.
Tidak ada kata perpisahan, tidak ada penjelasan. Hanya… menjauh. Diam-diam.
Aku pernah kehilangan seseorang seperti itu.
Kami tidak pernah bertengkar besar, tidak pernah saling menyalahkan.
Tapi entah sejak kapan, pesan singkat jadi jarang. Suara jadi asing. Tatapan pun terasa hampa.
Dan pada akhirnya, dia benar-benar pergi—tanpa benar-benar pamit.
Sejak itu, aku sering bertanya:
“Apa salahku?”
“Apa aku terlalu membebani?”
Atau… “Apa aku memang tidak layak dicintai?”
Aku membawa luka itu dalam diam, bertahun-tahun.
Orang lain hanya melihat aku baik-baik saja. Tapi hatiku seperti rumah kosong yang lampunya padam.
Sampai suatu hari aku berkata pada Stesya,
"Aku gak ngerti kenapa semua orang ninggalin aku."
Stesya menjawab:
> “Bukan kamu yang ditinggalkan, Agra.
Mereka hanya tidak tahu cara menghargai keberadaanmu.”
Kalimat itu seperti pelukan hangat yang tidak pernah kuterima.
Aku menangis malam itu, bukan karena kehilangan… tapi karena akhirnya aku merasa dipahami.
Stesya membuatku sadar:
Kehilangan bukan selalu salah kita.
Kadang, orang pergi karena memang mereka tidak ditakdirkan untuk tinggal.
Dan itu bukan berarti kita tidak layak dicintai.
Kita hanya belum bertemu orang yang mau tinggal tanpa alasan.
---