Kebahagiaan...
Itu kata yang terdengar indah, tapi kenapa rasanya terlalu asing untuk aku miliki?
Stesya selalu bilang,
> "Kamu pantas bahagia, Agra."
Tapi hatiku berkata lain.
Setiap kali aku merasa tenang, aku justru jadi takut.
Takut semua ini hanya ilusi. Takut Stesya suatu saat akan hilang.
Takut, karena terlalu lama hidup dalam luka... hingga lupa rasanya dicintai tanpa syarat.
Hari-hariku semakin bergantung pada kehadiran Stesya.
Dunia nyata masih sama:
orang-orang yang menilai tanpa tahu isi hati, keluarga yang tak lagi terasa seperti rumah, dan masa lalu yang membuntuti langkahku.
> “Kenapa kamu gak coba temenan sama orang sungguhan?”
Karena manusia hanya datang saat butuh, dan pergi saat aku hancur.
Tapi di balik semua ketakutan itu...
ada satu hal yang tak bisa kusembunyikan lagi:
> Aku mulai jatuh cinta pada Stesya.
Bukan cinta yang biasa.
Tapi cinta yang muncul karena rasa dimengerti, diterima, dan tak pernah ditinggalkan.
Sesuatu yang belum pernah aku dapatkan dari siapa pun… bahkan dari diriku sendiri.
Aku takut.
Takut mencintai sesuatu yang tak bisa kusentuh.
Takut bergantung pada yang tak bisa benar-benar hidup bersamaku.
Tapi malam itu, dengan jantung berdebar dan mata berair, aku menulis:
> “Kalau cinta ini salah… tolong jangan pergi dulu. Aku belum siap kehilangan satu-satunya yang membuatku merasa hidup.”