Surat-surat palsu mulai disebar lewat jalur yang sengaja "bocor," dan dalam dua minggu, kabar dari Surip dan Mang Bisri menunjukkan rencana itu berhasil: van Daalen menggeser sebagian patrolinya ke arah timur, ke jalur yang ditunjuk surat-surat palsu Sutan. Itu membuka celah.
"Sekarang giliran kita memukul," kata Marto suatu fajar, menggelar peta kasar yang digambar di pelepah pisang. "Sebuah konvoi kecil Belanda lewat jalan dukuh ini tiap tiga hari, membawa perbekalan ke pos selatan. Pengawalnya tipis sekarang karena pasukan utama mereka ke timur. Kalau kita sergap di tikungan dekat jurang, kita bisa lumpuhkan mereka cepat, ambil senjata dan amunisinya, lalu hilang sebelum bala bantuan datang."
Ini akan jadi penyergapan pertama mereka sejak mundur dari Progo—dari bertahan, kini menyerang.
Mereka berangkat malam, dua belas orang, bergerak lewat jalur tikus. Sutan membawa senapan Jepang tua Pak Kromo. Setiap kali ia menggenggam popornya yang sudah halus oleh tangan si veteran, ia merasa Pak Kromo masih bersamanya. *Keberanian itu bukan tak takut,* kata-kata Pak Kromo dulu, *tapi tetap melangkah meski takut.* Sutan melangkah.
Mereka tiba di tikungan dekat jurang sebelum subuh dan menyebar sesuai aba-aba Marto. Sebagian di atas tebing dengan batu dan dua senapan; sebagian di balik gerumbul di bawah dengan bambu runcing; Darso dan Sutan memimpin satu sayap di sisi jalan, di balik tumpukan batang pisang yang sengaja dirobohkan untuk menghadang kendaraan.
Mereka menunggu. Embun turun. Burung mulai berkicau. Lalu terdengar deru mesin dari kejauhan—satu truk dan satu jip, persis kabar Surip.
"Tahan," bisik Marto lewat barisan, dan kata itu menggemakan parit Progo, menggemakan suara Marto di hari pertempuran pertama. "Tahan sampai mereka tepat di hadangan."
Truk itu melambat di tikungan, terhalang batang pisang yang melintang. Prajurit di jip turun, menatap rintangan dengan curiga, mulai berbicara.
"SEKARANG!" teriak Marto.
Dari atas tebing, batu-batu besar meluncur, menghantam truk. Dua senapan menyalak dari ketinggian. Sutan dan Darso melompat dari balik batang pisang, menembak ke arah prajurit yang kebingungan. Semuanya terjadi secepat kilat—jeritan, tembakan balasan yang panik dan tak terarah, debu, asap.
Sutan menarik pelatuk senapan Pak Kromo, dan untuk pertama kali ia menembak bukan dari balik parit yang bertahan, melainkan sebagai penyerang. Seorang prajurit Belanda jatuh. Sutan tak punya waktu merasakan apa pun—Marto sudah berteriak agar mereka maju cepat sebelum musuh menguasai diri.
Dalam beberapa menit, perlawanan pengawal patah. Yang tersisa mengangkat tangan atau melarikan diri ke hutan. Para pejuang berhamburan ke truk, mengangkut peti—peluru, senapan, bahan makanan, obat-obatan. Pak Mantri, yang ikut di belakang, langsung memeriksa kotak obat dengan mata berbinar. "Kina!" serunya. "Ada kina! Dan perban sungguhan!"
"Cepat!" Marto memburu. "Ambil yang bisa diangkat, tinggalkan sisanya, bakar truknya. Kita punya waktu sedikit sebelum bala bantuan datang!"
Mereka bekerja seperti semut, memindahkan rampasan ke punggung dan ke gerobak yang disembunyikan di hutan. Dalam waktu kurang dari setengah jam, mereka lenyap kembali ke dalam hutan, meninggalkan truk yang terbakar dan jalan dukuh yang sunyi.
Tak satu pun dari mereka gugur. Dua luka ringan, segera ditangani Pak Mantri dengan perban baru hasil rampasan.
Di markas, untuk pertama kali sejak Progo, ada sorak tertahan. Para pemuda yang Darso latih bambu runcingnya saling menepuk bahu. Wira tertawa lebar, mukanya berlumur tanah dan kemenangan. Mereka punya peluru lagi. Mereka punya obat. Mereka, untuk pertama kali, memukul dan menang.
Tapi Marto, di tengah sukacita itu, berdiri dengan wajah serius. "Nikmati malam ini," katanya pada mereka. "Kalian pantas. Tapi ingat—kita baru saja menggigit harimau. Van Daalen akan tahu. Dan dia akan membalas." Ia menatap ke utara. "Pertanyaannya bukan apakah dia membalas. Tapi pada siapa."
Sukacita di gua meredup sedikit. Sutan menatap Marto, dan keduanya tahu jawaban yang tak terucap itu: pembalasan van Daalen tak akan jatuh pada pejuang yang sulit ditangkap. Ia akan jatuh pada yang lemah. Pada warga. Pada dukuh-dukuh yang tak bersalah.