Pembalasan itu datang tiga hari kemudian, dan ia datang ke Tegal.
Sutan dan Darso sedang mengintai dari lereng yang sama tempat mereka dulu pertama melihat van Daalen, ketika iring-iringan truk kembali masuk ke dukuh Tegal. Kali ini lebih banyak. Dan kali ini, mereka tak datang untuk bertanya.
Lewat teropong retak, Sutan melihatnya semua. Para prajurit turun, menyebar di antara rumah-rumah. Warga digiring keluar, dikumpulkan di tanah lapang seperti dulu. Dan di tengah mereka, berdiri tenang dengan tongkat pendek di tangan bersarung, Letnan van Daalen.
"Dia datang sendiri," bisik Darso. "Berarti dia ingin memastikan."
Van Daalen berjalan pelan di depan barisan warga yang berlutut. Ia berhenti, mengatakan sesuatu yang tak terdengar dari lereng. Lalu ia mengangkat tongkatnya dan menunjuk ke arah selatan—ke arah hutan, ke arah para pejuang—sambil bertanya. Sutan tak bisa mendengar, tapi ia bisa menebak: *Di mana mereka? Siapa yang membantu mereka?*
Warga menggeleng. Seorang perempuan tua menjawab sesuatu sambil menangis. Van Daalen menatapnya tanpa ekspresi, lalu berbalik dan memberi perintah singkat pada prajuritnya.
Lalu obor-obor dinyalakan.
"Tidak," bisik Sutan, mencengkeram tanah. "Tidak, jangan—"
Prajurit-prajurit bergerak ke rumah-rumah dengan obor. Atap rumbia yang kering menyambar api dengan cepat. Satu rumah, dua, lima, sepuluh. Dalam hitungan menit, seluruh dukuh Tegal berubah menjadi lautan api. Asap hitam membubung ke langit pagi. Jeritan warga menggema sampai ke lereng, tipis dan mengerikan.
Sutan setengah bangkit, tangannya meraih senapan Pak Kromo, urat-uratnya berteriak untuk turun, untuk melawan, untuk apa saja selain menonton.
Darso menariknya keras-keras kembali ke tanah. "Sutan! Kita berdua! Mereka tiga puluh lebih! Kalau kau turun, kau mati, dan tak satu pun nyawa di bawah sana terselamatkan! Kau cuma menambah satu mayat untuk van Daalen!" Suara Darso pecah. "Aku juga ingin turun, sumpah aku ingin. Kampungku dibakar persis seperti ini. Aku tahu rasanya. Tapi kita tak bisa. Tidak sekarang. Tidak begini."
Sutan terhenti, gemetar hebat, air matanya jatuh ke tanah. Ia menonton dukuh Tegal terbakar. Ia menonton warga berlarian, sebagian berhasil lari ke hutan, sebagian dipukul jatuh. Ia menonton, dan tak berbuat apa-apa, dan itu adalah penderitaan yang lebih dalam dari peluru mana pun.
Van Daalen berdiri di tepi tanah lapang, memandang api dengan tenang. Sebelum naik ke jipnya, ia kembali menengadah ke arah lereng—ke arah Sutan—seakan tahu ada yang menonton. Lalu ia pergi.
Mereka turun setelah truk-truk lenyap, ke dukuh yang masih membara. Yang tersisa hanya kerangka rumah, tanah hitam, dan warga yang selamat duduk terpaku memandang segala yang mereka miliki menjadi abu. Seorang anak kecil menangis di pangkuan neneknya. Perempuan tua yang dulu memberi Sutan dan Mang Bisri nasi hangat—ia di antara yang selamat, tapi rumahnya rata dengan tanah.
Sutan berlutut di tanah panas itu, dan untuk pertama kali ia merasakan beban sesungguhnya dari menjadi gerilya: bahwa setiap kemenangan kecilnya bisa dibayar dengan darah orang lain. Bahwa van Daalen tak melawan mereka dengan senjata, melainkan dengan rasa bersalah. Bahwa perang ini akan terus menelan yang tak bersalah selama orang seperti van Daalen masih berkuasa.
"Apa kita salah, Darso?" tanyanya serak, menatap reruntuhan. "Penyergapan itu. Apa kita yang membawa api ini ke sini?"
Darso menggeleng pelan, matanya juga basah. "Bukan kita yang menyalakan obor, Sutan. Kita melawan. Mereka yang membakar orang tak bersalah untuk menghukum kita. Itu pilihan mereka, bukan pilihan kita." Ia membantu seorang perempuan tua berdiri. "Kalau kita berhenti melawan karena takut mereka membalas pada warga, maka mereka menang tanpa perlu menembak. Yang bisa kita lakukan adalah melawan lebih pintar—dan melindungi yang bisa kita lindungi."
Sutan memandang ke arah utara-barat, ke arah Kaliwungu yang jauh, dan dingin merayap di dadanya. Kalau van Daalen tega membakar Tegal yang tak ada hubungan langsung dengannya, apa yang akan ia lakukan pada desa yang ada di petanya, desa tempat seorang gadis menunggu surat di bawah pohon mangga?
Ia membantu memikul air untuk memadamkan bara, membantu menggali yang harus dikubur, bekerja sampai tangannya melepuh. Dan malam itu, di antara abu dukuh Tegal, ia menulis nama-nama yang gugur di kertasnya, supaya tak terlupa—seperti yang selalu ia lakukan—dan menambahkan satu kalimat untuk Ningrum yang ia tahu mungkin tak akan pernah ia kirim:
*Jagalah dirimu. Dunia sedang dipimpin oleh orang yang membakar rumah untuk memburu bayang-bayang. Dan aku takut bayang-bayang yang mereka buru adalah aku.*