Malam itu tak ada yang benar-benar tidur di gua batu. Karman dijaga, tapi tak diikat—Marto melarang mengikatnya, "Ia masih saudara kita, sampai aku memutuskan sebaliknya." Sutan terjaga sepanjang malam, memandang langit-langit gua yang dipenuhi bayangan obor, pikirannya bergulat dengan pertanyaan yang dilemparkan Komandan.
Di pagi yang dingin, Marto mengumpulkan seluruh pasukan di mulut gua. Karman berdiri di tengah, kepala tertunduk tapi tubuhnya tegak—seperti yang diminta Sutan. Wajah-wajah pejuang mengelilinginya, sebagian masih menyimpan amarah, sebagian menyimpan iba, semuanya menanti.
Marto melangkah ke depan. Kumis tebalnya, matanya yang lelah, suaranya yang dalam—ia adalah sosok yang telah memimpin mereka dari parit Progo hingga ke gua ini, lewat kematian dan kelaparan. Dan kini ia akan memimpin mereka melewati ujian yang berbeda.
"Saudara-saudara," Marto memulai. "Hukum perang jelas. Pengkhianatan dibayar dengan nyawa. Tiga kurir kita gugur karena kabar yang bocor. Bila aku mengikuti hukum perang semata, aku harus menghukum mati Karman pagi ini juga, di hadapan kalian, agar tak seorang pun berani mengkhianati lagi."
Karman tak bergerak. Ia menutup mata, menerima.
"Tapi," Marto melanjutkan, dan suaranya berubah, "aku tak akan melakukannya."
Gumam terdengar di antara pasukan. Marto mengangkat tangan, dan semua diam.
"Dengarkan aku baik-baik, karena ini bukan kelemahan, ini keyakinan. Sejak hari pertama kita berjuang, aku selalu berkata: tetaplah menjadi manusia di tengah neraka. Kalau kita menghukum mati seorang ayah yang dipaksa memilih antara saudara dan anaknya yang berusia lima tahun—kalau kita melakukan itu—maka kita tak lebih baik dari van Daalen yang menyandera anak itu. Kita kalah bukan karena peluru, tapi karena kehilangan jiwa yang membuat perjuangan ini layak diperjuangkan."
Sutan merasa dadanya menghangat. Inilah Marto yang ia kenal. Inilah perjuangan yang ia pilih.
"Karman," kata Marto, menghadap langsung pada lelaki itu. "Kau telah mengkhianati kami. Itu tak bisa dihapus. Darah kawan-kawan kita ada di tanganmu, walaupun van Daalen yang menaruhnya di sana. Tapi aku tak akan menghukummu dengan kematian. Aku menghukummu dengan sesuatu yang lebih berat: kesempatan untuk menebus."
Karman mengangkat wajahnya, matanya membelalak.
"Kau bilang keluargamu ditahan di pos Belanda di selatan, pos yang sama yang akan kita serang untuk merebut amunisi. Maka inilah hukumanmu, Karman: kau akan ikut dalam serangan itu. Kau akan menjadi yang terdepan. Kau akan membebaskan keluargamu dengan tanganmu sendiri—atau gugur dalam usaha itu. Kalau kau hidup, kau akan membawa keluargamu ke tempat aman, lalu kembali dan berjuang bersama kami sampai akhir, untuk menebus tiap nyawa yang hilang karena kabarmu. Kalau kau gugur—kau gugur sebagai pejuang, bukan sebagai pengkhianat. Itu pilihanku untukmu. Bukan kematian dari tangan saudaramu, tapi kesempatan dari belas kasih saudaramu."
Karman jatuh berlutut, kali ini bukan karena hancur, tapi karena beban pengampunan yang terlalu besar untuk ditanggung berdiri. Ia menangis, dan kali ini air matanya bercampur tekad. "Komandan... saya tak pantas. Tapi saya akan menebusnya. Dengan nyawa saya kalau perlu. Saya bersumpah—anak-anak saya akan tahu bahwa ayah mereka mati sebagai pejuang, bukan pengkhianat."
Marto menariknya berdiri, menatapnya lurus. "Kalau begitu, mulai sekarang kau bukan tahanan. Kau prajurit yang sedang menebus. Bersiaplah. Serangan fajar kita tinggal beberapa hari lagi."
Pasukan terdiam, dan dalam diam itu ada sesuatu yang berubah. Amarah telah dilebur menjadi sesuatu yang lebih dalam—pemahaman bahwa kekejaman musuh telah memaksa salah satu dari mereka berbuat dosa, dan bahwa pengampunan, bukan dendam, yang akan menjaga mereka tetap menjadi manusia.
Setelah pasukan bubar, Darso menghampiri Sutan. "Aku tadinya ingin Karman mati, Tan. Aku tak akan bohong. Tapi sekarang..." ia menggelengkan kepala. "Komandan Marto benar. Kalau kita membunuhnya, kita membiarkan van Daalen menang dua kali. Pertama dengan membuat Karman mengkhianati kita. Kedua dengan membuat kita membunuh saudara sendiri."
Sutan mengangguk, memandang punggung Karman yang kini sibuk mengasah pisau di sudut gua, mempersiapkan diri untuk serangan yang mungkin merebut kembali keluarganya atau merenggut nyawanya. "Pak Kromo pernah bilang sebelum ia gugur," kata Sutan pelan, "bahwa yang membedakan kita dari penjajah bukan senjata, bukan jumlah, bukan kemenangan. Tapi apakah di akhir perang nanti, kita masih punya hati untuk pulang. Hari ini, kurasa, kita menjaga hati itu tetap hidup."
Malam itu, Sutan menulis dalam suratnya yang tak terkirim: "Hari ini kami diuji bukan oleh musuh, tapi oleh diri kami sendiri. Dan kami memilih ampun. Semoga kelak, kalau aku menjadi ayah, anak-anakku tahu bahwa ayah mereka berperang tanpa kehilangan jiwanya."