Pos Belanda di selatan berdiri di tepi jalan besar—bekas gudang perkebunan kopi yang disulap menjadi benteng kecil: tembok bata, kawat berduri, dua menara penjaga, dan yang paling penting, sebuah gudang amunisi dan perbekalan yang menjadi incaran utama gerilya. Selama berhari-hari Sutan, Darso, dan pengamat lain mengintai dari kejauhan, menghafal pergantian penjaga, menghitung jumlah serdadu, mencatat di mana cahaya senter berkedip pada malam hari.
"Penjaga berganti dua kali semalam," lapor Sutan kepada Marto di gua, menggambar denah di tanah dengan ranting. "Yang paling lengah adalah jaga terakhir, menjelang fajar. Saat itu mereka mengantuk, dingin, dan menanti pengganti. Kalau kita menyerang tepat sebelum subuh, kabut dari kali menutupi gerak kita."
Marto mengangguk, mempelajari denah dengan saksama. "Kita pecah jadi tiga sayap. Sayap kiri memutus kawat dan menyusup ke gudang—itu tugas utama, merebut amunisi. Sayap kanan menyerang menara penjaga untuk mengalihkan perhatian. Aku memimpin tengah, menahan serdadu di barak agar tak sempat berkumpul." Ia menunjuk Sutan dan Darso. "Kalian berdua pimpin sayap kiri. Yang terpenting, yang paling berbahaya. Karman ikut kalian—di situ keluarganya ditahan, di bilik belakang gudang."
Malam sebelum serangan, suasana di gua tegang tapi tenang—ketenangan orang-orang yang telah berkali-kali memandang maut. Sutan memeriksa senapannya, senapan tua peninggalan Pak Kromo yang selalu ia rawat seperti pusaka. Ia menyelipkan selendang biru lebih dalam ke dadanya. Darso, seperti biasa, menyenandungkan lagu kampung pelan-pelan untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Tan," bisik Darso saat mereka berbaring menunggu waktu, "kalau aku tak kembali besok, kau ingat lagu ini, ya. Lagu ibu kampungku. Biar ada yang menyanyikannya."
Sutan menyikutnya pelan. "Jangan bicara begitu. Kau yang akan menyanyikannya di pernikahanku nanti, Darso. Sudah kuhafalkan janjimu itu."
Darso terkekeh tipis dalam gelap. "Asal jangan kau suruh aku jadi penghulu. Aku tak hafal doanya."
Mereka bergerak saat dunia masih hitam. Lewat semak dan parit, menyusuri kali yang berkabut, tiga sayap merayap mendekati pos seperti bayang-bayang. Embun membasahi baju mereka. Tak seorang pun berbisik. Hanya degup jantung dan napas tertahan.
Di langit timur, semburat kelabu pertama mulai merekah. Sutan memberi isyarat. Sayap kiri merayap ke pagar kawat. Karman, dengan tang yang dibawanya, mulai memotong kawat berduri satu demi satu, tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena di balik tembok itu ada istri dan anaknya.
Lalu, dari sayap kanan, terdengar ledakan pertama—granat tangan dilempar ke menara penjaga. Dunia meledak menjadi suara dan cahaya.
"SEKARANG!" teriak Sutan.
Sayap kiri menyerbu lewat kawat yang sudah terpotong. Sutan menembak penjaga gudang yang terkejut bangun dari kantuknya. Darso menerobos di sampingnya, bambu runcing dan pisau di tangan. Serdadu Belanda berhamburan, sebagian masih setengah tidur, berteriak dalam bahasa yang tak dimengerti, mencari senjata dalam kekacauan.
Di tengah, suara berat Marto menggelegar memberi perintah, menahan barak agar serdadu tak bisa berkumpul rapi. Tembakan beradu tembakan. Asap mesiu memenuhi udara fajar.
Sutan berlari ke arah gudang, jantung berpacu. Ini bukan lagi pertahanan menahan-waktu seperti di Progo. Ini serangan—mereka yang menyerbu, mereka yang menentukan irama. Untuk pertama kali sejak parit jebol berbulan lalu, Sutan merasakan sesuatu selain bertahan: ia merasakan dorong, merasakan inisiatif, merasakan bahwa kali ini merekalah yang membuat musuh ketakutan.
"Karman!" serunya. "Keluargamu! Bilik belakang! Pergi sekarang, kami tahan di sini!"
Karman menatapnya sekejap, mata penuh air dan tekad, lalu berlari menerobos asap menuju bilik belakang gudang, meneriakkan nama istri dan anaknya.
Sutan dan Darso bertahan di mulut gudang, menembaki serdadu yang mencoba merebut kembali. Cahaya fajar makin terang, menyingkap pemandangan pertempuran yang kacau—tubuh-tubuh, asap, kobaran kecil di menara penjaga yang terbakar. Di kejauhan terdengar Marto berseru bahwa barak sudah dilumpuhkan.
Lalu, di tengah deru tembakan dan teriakan, Darso tiba-tiba terhuyung. Tangannya mencengkeram bahu kanannya, wajahnya meringis. Bukan peluru baru—Sutan melihatnya jelas. Tapi sesuatu yang lebih lama, lebih dalam, terkoyak kembali.
"Darso!" Sutan menangkapnya sebelum ia jatuh. "Kau kenapa?!"
Darso mengertakkan gigi menahan sakit, wajahnya pucat pasi. "Bahuku, Tan... luka lama itu... yang dulu terserempet di Progo... terbuka lagi. Aku tak bisa angkat tangan kananku—"
Di sekeliling mereka, pertempuran masih berkecamuk, dan serdadu Belanda mulai berkumpul kembali untuk balasan.