Darso terkulai di lengan Sutan, bahunya berdarah, wajahnya memutih. Luka lama dari malam pengintaian di Progo dulu—serempetan peluru yang dikira sudah sembuh—kini terkoyak kembali oleh gerakan keras dan jaringan parut yang tak pernah benar-benar pulih. Lengan kanannya terkulai tak berdaya, dan pisaunya jatuh ke tanah berlumpur.
"Bertahan, Darso!" Sutan menyeretnya mundur ke balik dinding gudang, menjauh dari garis tembak. Peluru menggeretak di bata di atas kepala mereka. Serdadu Belanda yang sempat tercerai-berai kini mulai mengumpulkan diri, dan dari arah barak terdengar perintah-perintah keras—mereka akan balas menyerang untuk merebut kembali gudang.
Sutan memandang sekeliling dengan cepat. Sayap kanan masih sibuk dengan menara. Marto menahan tengah. Karman entah di mana, mencari keluarganya di kekacauan. Dan di sini, di mulut gudang yang menjadi taruhan seluruh serangan, hanya ada dirinya dan Darso yang terluka.
"Tinggalkan aku, Tan," desis Darso, gigi gemeretak menahan nyeri. "Tahan gudangnya. Itu lebih penting. Aku cuma akan memperlambatmu—"
"Diam," potong Sutan tajam. Ia teringat satu malam di sungai Progo, saat Darso dan Pak Kromo menyeretnya keluar dari air dingin di bawah hujan peluru, saat Darso sendiri terkena serempet tapi tetap menariknya hingga ke tepian. Ia teringat ikat pinggang yang Darso lilitkan ke luka Kang Sapto. Ia teringat tiap malam lapar yang ditahan Darso dengan lelucon agar yang lain tak menangis. "Kau yang menyeretku keluar dari sungai dulu, Darso. Kau pikir aku akan meninggalkanmu sekarang? Tak akan. Tidak hari ini, tidak kapan pun."
Sutan menyandarkan Darso ke dinding, lalu dengan cepat merobek bagian bawah bajunya sendiri, melilitkannya kuat ke bahu Darso untuk menahan darah—persis seperti yang dulu Darso ajarkan padanya. "Tahan ini. Tekan kuat."
Lalu Sutan berdiri, mengambil posisi di sudut gudang, senapan Pak Kromo di bahu. Serdadu Belanda merangsek maju, tiga, empat, lima sosok dalam asap fajar. Sutan menarik napas, menahan tembakan seperti yang diajarkan Marto sejak hari pertama—jangan boros peluru, tunggu sampai dekat, tunggu sampai pasti.
Saat sosok pertama muncul jelas dari balik asap, Sutan menembak. Tepat. Lalu sosok kedua. Ia bergerak menyamping, memindahkan posisi agar tak mudah dibidik balik, menggunakan tiap dinding dan tumpukan karung sebagai perlindungan. Ia tak lagi gemetar seperti di Progo dulu. Berbulan-bulan perang telah mengubahnya—tangannya mantap, matanya dingin, pikirannya jernih di tengah kekacauan.
"Sutan di kiri! Tahan!" suara Marto menggelegar dari kejauhan, dan sekelompok pejuang gerilya datang menerobos dari sisi, meringankan tekanan. Serdadu Belanda yang menyerang gudang terhimpit dari dua sisi dan mulai mundur.
Sutan memanfaatkan jeda itu. Ia menyambar Darso, mengangkatnya, menyandarkan tubuh sahabatnya ke punggungnya sendiri, dan setengah memapah setengah menggendongnya menuju tempat yang lebih aman di balik gudang—tempat di mana Pak Mantri akan segera bisa menanganinya begitu pertempuran reda.
"Kau berat, tahu," Sutan terengah, mencoba meringankan suasana dengan cara Darso sendiri. "Makan apa kau selama ini sampai seberat ini? Bukannya kita selalu lapar?"
Darso tertawa lemah di punggungnya, tawa yang bercampur ringisan. "Tulangku... tulang pejuang, Tan. Berat oleh dosa dan rindu." Lalu suaranya melembut. "Terima kasih. Utang nyawaku di Progo... sudah kau bayar lunas hari ini."
"Bukan bayar utang," kata Sutan, menurunkan Darso perlahan di balik tembok, bersandar pada karung-karung perbekalan. "Kau saudaraku. Saudara tak menghitung utang. Saudara cuma tak meninggalkan."
Pak Mantri datang berlari, kacamatanya berembun oleh kabut fajar, tas kainnya berisi peralatan seadanya. Ia berlutut memeriksa bahu Darso, jari-jarinya cekatan membuka lilitan kain. "Luka lama yang terbuka," gumamnya. "Jaringan parutnya robek. Tidak ada peluru baru, syukurlah. Tapi ia kehilangan banyak darah dan tak boleh memakai tangan kanan ini berminggu-minggu. Kalau dipaksa, bisa cacat." Ia menatap Darso tegas. "Perangmu di garis depan berhenti dulu, anak muda. Kau hidup, itu yang penting."
Darso mengangguk lemah, lalu mencengkeram lengan Sutan dengan tangan kirinya yang masih kuat. "Pergilah, Tan. Selesaikan. Rebut gudang itu. Demi semua peluru yang tak pernah cukup kita punya. Aku akan baik-baik saja di sini."
Sutan menggenggam tangan sahabatnya sejenak, lalu mengangguk. Ia mengambil senapan Pak Kromo kembali, dan dengan satu pandangan terakhir pada Darso—pandangan yang berisi seribu malam berbagi nasi jagung dan ketakutan—ia berbalik dan berlari kembali ke kobaran pertempuran, ke gudang yang menjadi taruhan, dengan tekad yang menyala lebih terang daripada fajar yang kini memenuhi langit.