Malam setelah jembatan runtuh, pasukan beristirahat di sebuah cekungan tanah yang tersembunyi pepohonan, jauh dari jalur truk. Tak ada api unggun—asap bisa menarik pesawat pengintai. Mereka makan singkat dari sisa singkong rebus dan air sungai yang diendapkan.
Sutan duduk agak terpisah, di bawah pohon yang akarnya menonjol dari tanah. Ia membuka kain di punggungnya dan mengeluarkan kaleng bekas itu—kaleng yang sudah menemani perjalanannya sejak parit Progo, penyok di sana-sini, tutupnya diikat karet ban supaya rapat. Di dalamnya, surat-surat untuk Ningrum, untuk Mbok Sari, untuk Lastri, ditumpuk rapi, tiap lembar bertanggal.
Ia mengeluarkan pensil hadiah gurunya di langgar dulu—sudah pendek sekarang, hampir habis—dan menulis di secarik kertas, di bawah cahaya bulan tipis.
Darso datang, duduk di sampingnya tanpa diundang, seperti biasa. Ia diam sebentar, memandang kaleng itu.
"Hari ini hampir mati lagi kita," kata Darso akhirnya. "Di jembatan tadi."
"Iya."
"Tiap hari hampir mati. Lama-lama aku heran kenapa masih hidup."
Sutan tersenyum tipis, tapi tidak menjawab gurauan itu. Ia menatap kaleng di pangkuannya. Lalu ia berkata, "Darso, aku mau menitipkan sesuatu padamu."
Darso menoleh. Nada Sutan berbeda. Bukan nada orang yang sedang bergurau menanti mati, tapi nada orang yang sudah memikirkannya masak-masak.
"Kaleng ini," kata Sutan. "Isinya surat. Berbulan-bulan. Buat Ningrum, ibuku, adikku Lastri." Ia menelan ludah. "Dulu, sebelum pertempuran besar di Progo, aku titipkan kaleng ini ke Pak Mantri. Aku bilang ke dia, kalau aku tak kembali, antarkan ke Kaliwungu, cari Ningrum, keluarga Atmodjo."
"Aku tahu cerita itu."
"Tapi Pak Mantri sekarang terluka. Kakinya. Dia jalan pelan. Kalau—kalau sesuatu terjadi pada kami berdua sekaligus, tak ada yang tahu surat ini harus ke mana." Sutan memandang Darso lurus. "Aku mau kau juga tahu. Supaya ada dua orang. Kalau aku gugur, dan Pak Mantri tak bisa, kau yang bawa kaleng ini ke Kaliwungu. Ke Ningrum. Kau janji?"
Darso terdiam lama. Cahaya bulan menyentuh luka lama di pelipisnya. Ia bukan orang yang mudah serius, tapi malam ini ia tidak menemukan satu pun gurauan yang pantas.
"Sutan," katanya pelan. "Aku ini sudah kehilangan segalanya. Sawahku, ibuku, perempuan yang akan kunikahi. Desaku dibakar habis. Yang tinggal cuma kau, dan beberapa kawan, dan senapan ini." Ia mengusap wajahnya. "Kau menitipkan surat-suratmu padaku berarti kau menitipkan satu-satunya hal yang masih utuh dari hidupmu. Aku terima. Demi Tuhan, aku terima. Tapi dengar—" suaranya mengeras—"jangan kau pikir kau yang akan gugur lebih dulu. Kalau ada yang antar kaleng ini ke Kaliwungu, biar itu kau sendiri. Hidup-hidup. Kau dengar?"
Sutan tertawa kecil, matanya panas. "Aku dengar."
"Bagus." Darso menepuk pundak Sutan. Lalu, supaya tak terlalu berat, ia menambahkan, "Lagipula kalau aku yang antar surat-surat cintamu ke Ningrum, dia bisa salah paham. Dikira aku yang menulisnya. Bisa-bisa aku yang dinikahi."
Sutan tertawa betulan kali ini, dan sesuatu di dadanya melonggar. Tawa di tengah perang adalah hal yang aneh—seperti bunga tumbuh di antara batu—tapi Darso selalu punya cara menumbuhkannya, bahkan di malam-malam terberat.
"Kau tahu," kata Sutan setelah tawanya reda, memandang kaleng di pangkuannya, "dulu, sebelum aku pergi dari Kaliwungu, Ningrum yang minta aku menulis surat. Katanya, meski mungkin tak sampai, tetap tulis. Supaya kalau aku tak pulang, paling tidak ada jejak bahwa aku pernah memikirkannya tiap hari." Ia mengusap penyok di kaleng dengan ibu jari. "Waktu itu aku pikir itu cuma permintaan gadis yang sedih. Sekarang aku mengerti. Surat-surat ini bukan untuk dibaca saja. Ini bukti aku masih hidup, masih manusia, di tengah semua ini. Selama aku masih menulis, aku belum jadi binatang yang cuma tahu menembak."
Darso terdiam, menatap kawannya. Ia kehilangan calon istrinya sebelum sempat menulis sepatah surat pun untuknya. Mungkin itu sebabnya ia mau memikul amanat ini—supaya satu kisah cinta di tengah perang ini tidak berakhir seperti kisahnya sendiri, tanpa kabar, tanpa jejak, hanya abu.
"Akan kujaga surat-suratmu seperti nyawaku, Sutan," katanya akhirnya, dan kali ini tak ada gurauan dalam suaranya.
Tak jauh dari mereka, Pak Mantri terbaring, kakinya yang terbalut diluruskan, tapi ia belum tidur. Ia mendengar percakapan itu. Tanpa kacamata, dunia baginya hanya bayang-bayang, tapi telinganya jelas. Ia tersenyum di dalam gelap.
"Tiga orang sekarang yang tahu," gumam Pak Mantri lirih, lebih pada dirinya sendiri. "Tiga orang. Surat sepenting itu memang harus dijaga banyak tangan."
Sutan menutup kaleng, mengikat tutupnya dengan karet ban, dan menyimpannya kembali. Ia menyelesaikan surat yang sedang ditulisnya, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam. Di bagian akhir surat itu ia menulis: Ningrum, semakin banyak orang yang menjaga surat-suratku, semakin aku percaya satu di antaranya pasti sampai ke tanganmu.