Bukan peluru yang datang menyerang mereka berikutnya. Bukan van Daalen, bukan truk, bukan anjing pelacak. Yang datang lebih sunyi dari semua itu, dan lebih sulit dilawan.
Mula-mula hanya seorang pejuang muda—Warsito, anak pengungsi yang baru dilatih Darso—mengeluh pusing dan badan panas. Pak Mantri mengira itu kelelahan biasa, capek berjalan jauh tanpa makan cukup. Ia menyuruh anak itu istirahat. Tapi esoknya demamnya naik, lidahnya berselaput putih kotor, perutnya sakit, dan ia mulai mengigau memanggil ibunya.
Lalu yang kedua jatuh sakit. Lalu yang ketiga.
Pak Mantri, dengan kaki yang masih terbalut dan kacamata pengganti yang ia pinjam dari seorang pejuang tua, memeriksa mereka satu per satu di bawah cahaya pagi yang kelabu. Wajahnya makin keruh.
"Ini bukan capek," katanya pada Marto, suaranya rendah supaya yang sakit tak dengar. "Ini tipus. Demam yang naik perlahan tapi terus, sakit perut, lidah kotor. Dari air yang kotor, dari makanan, dari hidup berdesakan tanpa cuci tangan." Ia melepas kacamata, mengusap matanya yang lelah. "Di tempat seperti ini, ia menyebar seperti api di alang-alang kering."
Marto memandang ke arah para pejuang yang terbaring, menggigil di bawah selimut compang-camping. "Apa yang bisa kita lakukan?"
"Yang bisa saya lakukan tidak banyak, Komandan." Pak Mantri jujur, seperti selalu. "Saya tak punya obat untuk ini. Yang bisa saya lakukan cuma memisahkan yang sakit dari yang sehat, merebus semua air sampai betul-betul mendidih, menjaga mereka tetap minum walau tak mau makan, mengompres demamnya. Selebihnya—" ia diam—"selebihnya badan mereka sendiri yang harus melawan. Yang kuat, lewat. Yang lemah..."
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Tak perlu.
Hari-hari berikutnya menjadi semacam neraka yang berbeda dari neraka Progo. Di Progo, musuh punya wajah; kau bisa mengangkat senapan dan melawan. Di sini, musuhnya tak terlihat. Sutan ikut menjaga yang sakit, menyuapkan air rebusan yang sudah didinginkan ke bibir yang pecah-pecah, mengompres dahi yang membara. Ia menulis nama tiap orang yang sakit di kertasnya, kebiasaan yang sudah jadi sumpah sejak Progo—supaya tak ada yang hilang tanpa nama.
Warsito, anak pertama yang jatuh, tak bertahan. Ia mati menjelang subuh hari keempat, dalam igauan memanggil ibunya yang sudah lebih dulu mati saat desanya dibakar. Sutan memegang tangannya sampai dingin. Anak itu belum genap delapan belas tahun. Ia tak pernah menembakkan senapan ke arah musuh—ia mati sebelum sempat berperang betul.
Mereka menguburkannya di bawah pohon, tanpa upacara, hanya doa pelan dan tanah yang ditepuk-tepuk. Sutan menulis namanya: Warsito, anak pengungsi, gugur bukan oleh peluru. Lalu dua orang lagi menyusul dalam pekan itu.
Darso, yang biasanya punya gurauan untuk segala hal, jadi pendiam. Suatu malam ia berkata pada Sutan, "Aku lebih takut yang begini daripada peluru. Peluru kalau kena, ya sudah. Ini—" ia menunjuk ke arah yang sakit—"ini pelan-pelan. Kau lihat orang habis sedikit demi sedikit. Dan kau tak bisa berbuat apa-apa."
Pak Mantri nyaris tak tidur. Ia memaksakan kaki terlukanya berjalan dari satu pasien ke pasien lain, merebus air, mengompres, berbisik menenangkan yang mengigau. Tubuhnya sendiri makin kurus. Tapi ia tidak berhenti. Suatu kali Sutan menemukannya tertidur duduk, kepala terkulai, tangan masih memegang cawan air.
Berkat kerasnya Pak Mantri memisahkan yang sakit dan merebus semua air, wabah itu akhirnya melambat. Yang muda dan kuat satu per satu pulih, walau kurus dan lemah. Tapi tiga nama sudah tertulis di kertas Sutan—tiga nama yang gugur bukan karena peluru Belanda, melainkan karena perang yang mengubah orang jadi gelandangan di tanah sendiri, minum air kotor, tidur di tanah basah.
"Tulis mereka baik-baik," kata Pak Mantri suatu sore, melihat Sutan menulis. "Orang akan ingat yang mati ditembak. Yang mati begini sering dilupakan. Padahal mereka juga gugur untuk hal yang sama."
Sutan mengangguk, dan menulis tiga nama itu lebih besar dari yang lain.