Lastri sudah bukan anak kecil yang dulu menangis melepas kakaknya pergi. Waktu perang berjalan cepat di tubuh anak-anak; ia tumbuh lebih tinggi, lebih kurus, dan matanya—mata yang dulu polos—kini tajam menyimpan rahasia. Ia membantu Mbok Sari di rumah panggung mereka, menanak nasi jagung yang makin sedikit, menambal atap rumbia yang bocor. Tapi diam-diam, ia melakukan sesuatu yang lebih.
Anak-anak punya kelebihan di masa pendudukan: tak ada yang mencurigai mereka. Tentara Belanda melihat bocah-bocah desa main gundu di pinggir jalan, memanjat pohon, menggembala kambing, dan menganggap mereka tak lebih dari pemandangan. Tak ada yang tahu bahwa di balik permainan itu, mata-mata kecil sedang menghitung.
Lastri-lah yang memulainya, hampir tak sengaja. Suatu hari ia menggiring dua ekor kambing keluarganya di dekat jalan, dan sebuah truk Belanda berhenti tak jauh darinya. Ia mendengar perwira mereka bicara, melihat ke mana mereka menunjuk di peta, menghitung berapa serdadu turun, berapa yang naik lagi. Malamnya, saat Mbok Inah lewat menjual gula, Lastri menyelipkan kabar itu—seperti anak kecil yang cerita main, tapi isinya berapa truk, ke arah mana, jam berapa.
Mbok Inah terkejut, lalu mengerti betapa berharganya itu. Pelan-pelan, dengan hati-hati, ia mengajari Lastri dan beberapa anak desa lain cara mengingat tanpa menulis—karena anak yang ketahuan membawa catatan bisa membahayakan seluruh keluarga. Mereka menghafal. Berapa serdadu, jenis kendaraan, arah, waktu. Mereka membuatnya jadi permainan, lagu hitungan, supaya tak lupa dan tak mencurigakan.
"Kalau ada yang tanya," ajar Mbok Inah, "kalian sedang main. Kalian menghitung kambing. Menghitung burung. Jangan pernah, jangan sekali pun, kalian sebut kata 'serdadu' atau 'pejuang' di depan siapa pun yang tak kalian kenal benar. Mengerti?"
Anak-anak mengangguk serius, dengan kesungguhan yang membuat hati Mbok Inah pilu—bocah-bocah ini terlalu cepat dewasa.
Lastri jadi yang paling cekatan. Ia punya alasan sah berkeliaran: menggembala kambing, mencari kayu bakar, mengambil air. Ia bisa duduk berjam-jam di pinggir kali sambil pura-pura mencuci, mengawasi pos Belanda di seberang. Ia menghafal wajah-wajah serdadu, jam ganti jaga, kapan patroli berangkat dan pulang. Semua itu mengalir ke jaringan kurir, ke selatan, ke gerilya.
Suatu sore, Mbok Sari memergoki anaknya pulang terlambat, baju basah, wajah pucat. "Dari mana kau?" tanya ibunya, cemas. "Sudah hampir gelap. Kau tahu sekarang zaman apa?"
Lastri menunduk. "Cari kayu, Mbok."
Mbok Sari memandang anaknya lama. Naluri seorang ibu tahu kalau anaknya menyimpan sesuatu. Tapi ia juga tahu, di zaman seperti ini, ada hal yang lebih baik tidak ditanya—karena yang tidak tahu tak bisa dipaksa bicara kalau ditangkap. Ia hanya menarik Lastri ke pelukannya, erat.
"Hati-hati," bisiknya. "Kakakmu pergi berjuang. Aku tak sanggup kehilangan kalian berdua." Lalu, dengan suara yang lebih rendah lagi, "Apa pun yang kau lakukan, Nak—dan aku tak mau tahu apa itu—lakukan dengan kepala dingin. Untuk Sutan. Untuk kita semua."
Lastri mengangkat wajahnya, dan untuk sekejap mata ibunya bertemu matanya. Ada pengertian tak terucap di antara mereka. Mbok Sari tahu. Mungkin tidak persisnya, tapi ia tahu. Dan ia tidak melarang.
Malam itu, setelah Lastri tidur, Mbok Sari duduk lama di depan lampu teplok, memandang anak perempuannya. Ia ingat Lastri yang dulu—anak sebelas tahun yang menangis di pintu saat Sutan pamit pergi, yang dititipi menjaga ibunya. Anak itu kini tumbuh di bawah bayang-bayang perang, dewasa sebelum waktunya. Hati Mbok Sari pedih melihatnya, tapi juga ada bangga yang aneh terselip di dalamnya. Kedua anaknya berjuang—yang satu dengan senapan di hutan, yang satu dengan mata dan ingatan di kampung. Ia sendiri yang tinggal, menjaga rumah panggung dan dapur, menanak nasi jagung yang makin sedikit, berdoa diam-diam tiap malam agar keduanya pulang. Itulah perjuangannya: bertahan, supaya ada rumah yang ditunggu saat mereka pulang nanti.
Malam itu Lastri tidur dengan satu kabar tersimpan di kepalanya: pos Belanda di Kaliwungu akan diperkuat. Truk-truk baru datang. Sesuatu sedang dipersiapkan. Esok ia akan menyampaikannya ke Mbok Inah, dan Mbok Inah akan membawanya ke selatan, ke kakaknya—walau Lastri sendiri tak tahu persis di mana kakaknya berada.
Ia memejamkan mata, dan dalam hati berkata pada bayangan kakaknya yang ia simpan dalam ingatan: Aku juga berjuang, Kang. Dengan caraku. Pulanglah.