Truk-truk yang datang itu bukan sekadar lewat. Mereka berhenti, dan kali ini mereka tidak pergi.
Pada suatu pagi yang dingin, serdadu-serdadu Belanda turun di tengah Desa Kaliwungu dan tidak naik kembali. Mereka membongkar bangku-bangku di balai desa, memasang kawat berduri di sekeliling sebuah rumah besar di tengah kampung, dan menancapkan bendera mereka. Kaliwungu, yang selama ini hanya diawasi dari jauh dan disinggahi patroli, kini diduduki. Sebuah pos permanen berdiri di jantung desa.
Warga dikumpulkan di tanah lapang dekat balai. Anak-anak menggelendot pada ibu mereka; orang-orang tua memegang tongkat dengan tangan gemetar. Seorang perwira—bukan van Daalen, tapi bawahannya—berdiri di atas peti, dengan seorang juru bahasa di sampingnya, dan membacakan aturan baru.
Tak boleh keluar rumah setelah magrib. Tak boleh berkumpul lebih dari beberapa orang tanpa izin. Tiap rumah harus didaftar, tiap penghuni dicatat. Siapa pun yang membantu "gerombolan pengacau"—begitu mereka menyebut para pejuang—akan dihukum berat, beserta keluarganya. Dan barang siapa melaporkan keberadaan pejuang akan diberi imbalan.
Sutan tak ada di sana untuk melihatnya, tapi Mbok Sari ada. Ia berdiri di barisan belakang, memeluk Lastri erat-erat, mendengar aturan-aturan itu dibacakan dengan suara datar lewat juru bahasa. Hatinya mencelos. Rumah panggung mereka, sawah dua petak peninggalan Pak Wiryo, langgar tempat Sutan belajar menulis—semuanya kini di bawah bayang-bayang kawat berduri dan senapan asing.
Ningrum juga di sana, bersama bapaknya, keluarga Atmodjo. Ia memandang serdadu-serdadu yang berjaga dengan wajah dingin, dan ia mengerti bahwa pekerjaannya membantu kurir kini seratus kali lebih berbahaya. Pos itu berarti mata di mana-mana. Pos itu berarti kesalahan kecil bisa berarti kematian.
Lalu perwira itu memanggil satu nama: "Lurah. Mana lurah desa ini?"
Pak Lurah Kasiman maju, tua, bertumpu pada tongkatnya, punggung membungkuk. Dahulu, di balai desa yang sama, ia pernah ragu melawan—desa cuma punya cangkul dan arit, katanya. Kini keraguan itu telah berubah jadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam dan lebih sukar dibaca.
"Saya lurahnya, Tuan," katanya, lewat juru bahasa.
Perwira itu memandangnya dari atas peti. "Kau bertanggung jawab atas desa ini. Kau yang akan memberi kami nama. Siapa di desa ini yang punya anak atau saudara ikut gerombolan? Siapa yang menyimpan senjata? Siapa yang membantu mereka?" Ia mencondongkan badan. "Kau tahu desamu. Kau akan bicara. Kalau tidak, lurah akan jadi yang pertama bertanggung jawab atas tiap peluru yang ditembakkan gerombolan ke arah kami."
Hening. Seluruh tanah lapang menahan napas. Mbok Sari merasa darahnya membeku—anaknya, Sutan, ada di luar sana bersama gerilya. Satu nama dari mulut Pak Lurah, dan ia bersama Lastri bisa habis. Ia tahu Ningrum juga merasakan ketakutan yang sama, untuk keluarganya, untuk dirinya.
Pak Lurah Kasiman menegakkan punggungnya yang bungkuk sedikit—hanya sedikit. Ia memandang perwira itu, lalu memandang warganya yang berdiri ketakutan, wajah-wajah yang ia kenal sejak mereka lahir.
"Tuan," katanya pelan, suaranya tua tapi tidak bergetar, "desa ini desa petani. Kami menanam padi dan menggembala kambing. Para pemuda kami banyak yang sudah pergi mengungsi sejak perang datang, ke gunung, ke selatan, entah ke mana. Saya lurah yang tua. Banyak yang sudah tak saya kenal lagi rimbanya."
Perwira itu menyipitkan mata. "Kau bilang kau tak tahu apa-apa?"
"Saya bilang," kata Pak Lurah, hati-hati memilih kata, "saya akan bantu Tuan menjaga ketertiban desa ini. Itu tugas saya. Tapi tentang siapa pergi ke mana di tengah perang sebesar ini—Tuan tahu sendiri, perang membuat orang berserakan seperti dedaunan tertiup angin."
Perwira itu memandangnya lama, tak puas, tapi belum punya alasan menindak. "Kita lihat," katanya akhirnya. "Kita lihat seberapa setia kau pada ketertiban, Lurah."
Pak Lurah membungkuk hormat, wajah datar. Tapi saat ia mundur ke barisan, hanya untuk sekejap, matanya menangkap mata Mbok Sari di kerumunan. Dan dalam pandangan singkat itu, Mbok Sari mengerti: Pak Lurah tahu persis siapa anaknya, ke mana Sutan pergi, dan ia memilih untuk tidak tahu, di depan Belanda. Orang tua itu sedang berjudi dengan nyawanya sendiri demi melindungi mereka semua.