Hari-hari di parit berlalu dalam pola yang berulang—serangan, bertahan, menguburkan yang gugur, menunggu serangan berikutnya. Belanda tidak menyerah. Mereka terus mencoba menyeberang Sungai Progo, dan setiap kali, para pejuang membayar dengan darah untuk menahan mereka.
Sutan terus menulis. Tumpukan surat di kalengnya semakin tebal. Ia menulis tentang kemarin, tentang hari ini, tentang ketakutan dan harapan yang silih berganti di dadanya. Ia menulis nama-nama kawan yang gugur, agar mereka tidak dilupakan. Ia menulis tentang Pak Kromo yang mengajarinya cara membersihkan senapan, tentang Darso yang masih bisa membuat lelucon di tengah keputusasaan, tentang Komandan Marto yang seperti ayah bagi mereka semua.
Suatu hari, seorang kurir datang ke garis pertahanan—seorang anak muda yang bertugas membawa pesan dan kabar antar kesatuan. Namanya Joko, baru tujuh belas tahun, dengan wajah yang masih lugu meskipun matanya sudah menyimpan kelelahan perang.
"Kang," kata Joko pada Sutan, "aku dengar kau suka menulis surat. Aku kadang lewat daerah selatan, dekat desa-desa yang masih aman. Kalau kau mau, biar kucoba titipkan suratmu lewat jaringan kurir. Mungkin bisa sampai, mungkin tidak. Tapi setidaknya ada kemungkinan."
Mata Sutan berbinar. "Sungguh, Joko? Kau mau membawanya?"
"Akan kucoba, Kang. Tidak janji bisa sampai. Belanda menjaga banyak jalan. Tapi kami para kurir punya jalan-jalan tikus yang tidak mereka ketahui."
Sutan memilih salah satu suratnya yang paling ia rasa penting—surat untuk Ningrum—dan menyerahkannya pada Joko dengan tangan yang nyaris gemetar oleh harapan. "Tolong, Joko. Ke Desa Kaliwungu. Cari rumah keluarga Atmodjo. Berikan pada Ningrum."
Joko menyimpan surat itu di balik bajunya. "Akan kuusahakan, Kang. Doakan aku selamat di jalan."
Setelah Joko pergi, Sutan merasakan campuran harapan dan kecemasan yang aneh. Untuk pertama kalinya, ada kemungkinan bahwa kata-katanya akan benar-benar sampai pada Ningrum. Bahwa gadis itu akan tahu ia masih hidup, masih mengingatnya, masih mencintainya.
Tetapi tiga hari kemudian, kabar buruk datang.
Seorang kurir lain, yang melewati garis pertahanan, membawa berita bahwa sebuah patroli Belanda menyergap sekelompok kurir di jalur selatan. Beberapa tertangkap, beberapa gugur. Joko termasuk yang hilang—tidak ada yang tahu apakah ia tertangkap, melarikan diri, atau gugur.
Sutan duduk diam di parit ketika mendengar kabar itu. Surat itu—surat yang ia tulis dengan seluruh hatinya—mungkin sekarang berada di tangan Belanda, atau terkubur di suatu tempat bersama jasad Joko, atau hanyut di sungai. Tidak akan pernah sampai pada Ningrum.
Darso duduk di sebelahnya. "Aku turut sedih, Kang. Joko anak yang baik."
"Bukan cuma suratnya, Darso," kata Sutan lirih. "Joko masih tujuh belas tahun. Ia membawa suratku, dan mungkin itu yang membuatnya mengambil jalur yang berbahaya. Kalau dia gugur karena suratku..."
"Hentikan." Darso menggenggam bahu Sutan. "Joko tahu risikonya. Setiap kurir tahu. Ia tidak gugur karena suratmu. Ia gugur karena Belanda. Jangan kau pikul kesalahan yang bukan milikmu. Kalau kau begitu, kau tidak akan sanggup bertahan di perang ini."
Sutan menunduk. Air matanya jatuh ke lumpur. Malam itu ia tidak menulis surat. Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan desa, pensilnya diam.
Tetapi keesokan paginya, ketika fajar menyingsing dan kabut menggantung di atas sungai, Sutan kembali mengeluarkan kertas dan pensilnya. Tangannya gemetar, tetapi tekadnya bulat.
"Ningrum," tulisnya. "Aku tidak tahu apakah surat sebelumnya sampai padamu. Aku menitipkannya pada seorang anak muda bernama Joko, dan sekarang ia hilang. Aku takut suratku membahayakannya. Tapi aku tidak akan berhenti menulis. Karena kalau aku berhenti, berarti aku menyerah pada putus asa. Dan selama aku masih bisa memegang pensil ini, selama aku masih bisa mengingat wajahmu, aku akan terus menulis. Suatu hari, entah bagaimana, surat-surat ini akan sampai padamu. Aku percaya itu. Aku harus percaya itu."
Ia melipat surat itu, dan memasukkannya ke dalam kaleng bersama yang lain. Di luar, meriam Belanda mulai menggelegar lagi, menandakan hari pertempuran yang baru.