Komandan Marto memanggil beberapa pejuang terbaiknya pada suatu malam. Sutan termasuk yang dipanggil, bersama Darso, Pak Kromo, dan dua pejuang lain.
"Kita kehabisan informasi," kata Komandan Marto, suaranya rendah di dalam tenda yang remang. "Belanda menumpuk kekuatan di seberang. Aku perlu tahu berapa banyak meriam mereka, di mana posisi mereka, dan apakah mereka berencana menyeberang dalam jumlah besar. Aku butuh sukarelawan untuk mengintai ke seberang sungai malam ini."
Hening sejenak. Menyeberang Sungai Progo di malam hari, ke wilayah yang dikuasai musuh, hampir sama dengan mengantar nyawa.
"Aku ikut," kata Pak Kromo tanpa ragu. "Aku sudah tua. Kalau ada yang harus mati, biar aku saja."
"Jangan bicara begitu, Pak," kata Sutan. "Aku juga ikut. Aku bisa berenang. Sejak kecil aku biasa menyeberang kali di kampungku."
Darso menghela napas, lalu mengangkat tangannya. "Kalau Sutan ikut, aku tidak bisa membiarkannya pergi sendiri. Aku ikut juga."
Komandan Marto memandang ketiganya dengan tatapan yang sulit dibaca—antara bangga dan cemas. "Baik. Kalian bertiga. Berangkat tengah malam, ketika bulan tertutup awan. Cari informasi, jangan terlibat baku tembak. Kalau ketahuan, kembali secepatnya. Nyawa kalian lebih berharga daripada informasi apa pun. Mengerti?"
"Mengerti, Komandan," jawab mereka bertiga.
Tengah malam, ketika langit gelap pekat dan hanya suara serangga serta gemericik sungai yang terdengar, ketiganya merayap turun ke tepi Sungai Progo. Air sungai dingin menusuk ketika mereka masuk perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Sutan memimpin di depan, mengandalkan insting yang ia pelajari sejak kecil di kali kampungnya. Senjata mereka dibungkus kain dan diikat di punggung agar tetap kering.
Arus sungai cukup deras di tengah, tetapi mereka bertiga berhasil menyeberang dengan susah payah, lalu merangkak naik ke tepi seberang yang dikuasai Belanda. Dingin dan basah, mereka bersembunyi di balik semak-semak, mengamati.
Tidak jauh dari tempat mereka, terlihat perkemahan Belanda. Beberapa tenda berdiri, dan di antara pepohonan, Sutan bisa melihat bentuk meriam yang ditutup terpal. Lampu-lampu kecil menyala di kejauhan, dan sesekali terdengar suara prajurit yang berjaga, berbicara dalam bahasa yang tidak Sutan mengerti.
"Kuhitung empat meriam besar," bisik Pak Kromo, matanya yang tua ternyata masih tajam. "Dan ada kendaraan baja di balik pohon sana. Mereka serius mau menyeberang."
Darso menunjuk ke arah lain. "Lihat itu. Mereka menumpuk perahu di tepi sungai. Banyak sekali. Mereka berencana menyeberang dengan kekuatan besar, mungkin dalam beberapa hari ini."
Sutan menyimpan setiap detail di benaknya. Jumlah meriam, posisi tenda, tumpukan perahu. Informasi ini bisa menyelamatkan banyak nyawa di parit mereka.
Tetapi tiba-tiba, seberkas cahaya senter menyapu ke arah semak tempat mereka bersembunyi. Suara langkah mendekat. Seorang prajurit penjaga, mungkin mendengar sesuatu, berjalan ke arah mereka sambil mengangkat senapannya.
Ketiganya membeku. Sutan menahan napas, jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut suaranya terdengar. Cahaya senter itu semakin dekat, menyapu daun-daun di atas kepala mereka.
Prajurit itu berhenti hanya beberapa langkah dari tempat persembunyian mereka. Ia memandang ke arah semak, menyipitkan mata, lalu berkata sesuatu kepada dirinya sendiri dalam bahasa Belanda.
Pak Kromo perlahan mengeluarkan pisau dari pinggangnya. Sutan menggenggam senapannya yang masih terbungkus, hatinya berkecamuk. Kalau prajurit itu menemukan mereka, semuanya akan berakhir di sini.
Detik-detik terasa seperti selamanya. Cahaya senter bergerak, semakin dekat, hingga hampir menyentuh wajah Sutan yang bersembunyi di balik dedaunan.
Lalu, dari arah perkemahan, terdengar seseorang memanggil prajurit itu. Suara itu memerintahkan sesuatu. Prajurit penjaga ragu sejenak, menyapukan senternya sekali lagi ke semak, lalu—