—berbalik dan berjalan kembali ke arah perkemahan, menjawab panggilan rekannya.
Ketiga pejuang itu menghembuskan napas yang sejak tadi mereka tahan. Sutan merasa seluruh tubuhnya basah, bukan hanya oleh air sungai tetapi juga oleh keringat dingin. Pak Kromo menyimpan kembali pisaunya dengan tangan yang sangat hati-hati.
"Kita harus pergi sekarang," bisik Pak Kromo. "Sebelum mereka berganti jaga dan ada yang lebih teliti."
Mereka merayap mundur, menjauh dari perkemahan, kembali ke arah sungai. Tetapi malam itu belum selesai menguji mereka. Ketika mereka hampir mencapai tepi air, kaki Darso menginjak ranting kering yang patah dengan suara yang terdengar jelas di kesunyian malam.
Sebuah teriakan terdengar dari perkemahan. Lampu-lampu menyala. Suara langkah berlarian.
"Mereka tahu! Cepat, ke sungai!" Pak Kromo mendorong Sutan dan Darso ke depan.
Ketiganya berlari ke tepi sungai dan menceburkan diri ke dalam air yang dingin. Di belakang mereka, terdengar suara tembakan—peluru-peluru menghantam permukaan air di sekitar mereka, menyemburkan cipratan. Sutan menyelam sedalam mungkin, berenang melawan arus dengan seluruh tenaganya, paru-parunya terbakar oleh kebutuhan akan udara.
Ketika ia muncul untuk mengambil napas, ia mendengar Darso berteriak. Ia menoleh dan melihat kawannya itu terhuyung di tengah arus.
"Darso!" Sutan berenang ke arahnya. "Kau kena?"
"Bahuku... cuma serempet... aku masih bisa berenang," jawab Darso terengah-engah, meskipun wajahnya meringis kesakitan.
Sutan meraih lengan Darso yang sehat dan membantunya berenang. Pak Kromo sudah hampir mencapai seberang, dan ia berbalik untuk membantu mereka. Peluru-peluru masih berjatuhan di sekitar, tetapi kegelapan dan arus deras menjadi pelindung mereka. Belanda menembak ke arah suara dan gerakan di air, tetapi tidak bisa melihat dengan jelas.
Dengan susah payah, ketiganya mencapai tepi seberang—wilayah mereka sendiri. Pejuang-pejuang yang berjaga di parit segera membantu menarik mereka naik, lalu memberikan tembakan perlindungan ke arah seberang untuk menahan musuh.
Di balik gundukan tanah yang aman, Sutan ambruk, terengah-engah, basah kuyup, tetapi hidup. Darso terbaring di sebelahnya, memegangi bahunya yang berdarah. Pak Kromo, meskipun napasnya tersengal, masih sempat tersenyum.
"Kita berhasil," kata Pak Kromo. "Tua-tua begini, aku masih bisa berenang menyeberang Progo." Ia tertawa kecil, tetapi tawanya berubah menjadi batuk.
Pak Mantri segera datang merawat luka Darso. Untungnya, peluru hanya menyerempet bahu, tidak bersarang di dalam. "Kau beruntung, Nak," kata Pak Mantri. "Beberapa senti lagi, kau bisa kehilangan lengan."
Komandan Marto datang dengan wajah cemas yang berubah menjadi lega. "Kalian kembali. Syukurlah." Ia berlutut di samping mereka. "Apa yang kalian lihat?"
Sutan, meskipun kelelahan, menceritakan semuanya—empat meriam besar, kendaraan baja, tumpukan perahu di tepi sungai. Wajah Komandan Marto mengeras mendengar laporan itu.
"Tumpukan perahu," gumamnya. "Berarti mereka berencana menyeberang besar-besaran. Mungkin dalam satu atau dua hari ke depan." Ia berdiri, menatap ke seberang sungai yang kini sunyi kembali. "Kita harus bersiap. Ini akan menjadi serangan terbesar yang pernah kita hadapi."
Malam itu, meskipun tubuhnya remuk oleh kelelahan, Sutan tidak bisa tidur. Ia duduk di parit, membungkus tubuhnya yang masih basah dengan selimut tipis, dan mengeluarkan kaleng suratnya.
"Ningrum," tulisnya dengan tangan yang masih bergetar. "Malam ini aku menyeberang sungai ke wilayah musuh, dan aku kembali hidup. Aku tidak tahu berapa kali lagi keberuntungan akan berpihak padaku. Darso terluka, tapi ia akan baik-baik saja. Pak Kromo, lelaki tua yang luar biasa itu, menyeberangi sungai seperti pemuda. Aku menulis ini karena aku tahu, dalam satu dua hari, akan datang pertempuran besar. Aku tidak tahu apakah aku akan selamat. Kalau ini surat terakhirku, Ningrum, ketahuilah: aku tidak menyesal. Aku berjuang untuk tanah kita, untuk masa depan kita. Dan setiap kali aku takut, aku memegang selendang biru darimu, dan aku menemukan keberanian lagi."
Ia menatap ke seberang sungai, ke arah kegelapan tempat musuh sedang bersiap. Esok, atau lusa, badai itu akan datang. Dan Sutan tahu, parit di tepi Progo ini akan menjadi saksi pertempuran yang akan menentukan segalanya.