"Capek ya dek" Tanya Mas Adit penuh perhatian. Dia dan perhatiannya selalu mampu membut aku tersenyum.
"Naiknya capek mas, tapi ngelihat pemandangannya bagus banget capeknya hilang. Makasih ya sayang udah ngajakin aku ke sini!" pekikku tertahan. Minggu ini dia mengajakku ke wisata bukit hill, tempatnya asri luas, dan dari atas nampak hamparan laut membiru; indah sekali.
"Duduk situ yuk mas" ajakku menunjuk salah satu podok kecil, dia hanya mengangguk. Jika dulu aku pasti langsung mengeluarkan ponsel untuk sebanyak-banyaknya mengambil gambar. Semakin sering kesana-kemari, hasrat itu menghilang dengan sendirinya. Aku lebih suka menikmati alam, nyemil jajan yang aku bawa, sambil bercengkrama dengannya.
"Dek nikah yuk" kalimat yang membuat mataku menyipit, meragukan kebenarannya. Mungkin dia salah bicara, ataukah aku yang salah dengar?
"Mau nggak dek, nikah sama aku?" Kali ini aku menatapnya serius.
"Bukan ngga mau nikah sama mas, tapi kan Mamas tau sendiri kalau aku pingin nikah diumur dua puluh tiga. Aku masih delapan belas lho mas!" Sebisa mungkin aku mengalihkan pandangan, namun rasanya tidak ada yang menarik lagi. Sejak awal aku sudah sering mengatakan keinginan ini, juga mimpi-mimpi untuk membahagiakan ibuku. Entah angin darimana yang memunculkan topik itu, merubah moodku saja.
Sebelum mengenal sosok Satrio Aditya, aku pernah berniat untuk menjomblo seumur hidup. Melihat bagaimana orangtuaku bertengkar, dan berakhir dengan perpisahan. Aku memang tidak menjadikan ini trauma, aku sendiri berhubungan baik dengan teman-teman lawan jenis semasa sekolah dan rekan kerjaku saat ini. Hanya saja hatiku seolah enggan menjalin hubungan serius semacam itu.
Perpecahan keluargaku tentu menjadi perbincangan para tetangga. Aku, ibu, dan adikku enggan menanggapi hal yang menyakitkan untuk kami. Melihat ibu yang semakin giat berdagang, aku juga bersemangat mempersiapkan nilai terbaik saat kelulusan. Kini perjuangan itu terbayar karena meski aku bukan lulusan sarjana, pihak management Bank bersedia melirik nilai akademikku, warung sembako ibuku juga banyak pelanggannya, tinggal kami memikirkan biaya untuk kuliah si bungsu. Aku dan ibu senang melihatnya semangat belajar.
"Kenapa si? toh nikah nanti atau sekarang juga sama aja!" Lamunanku buyar. Jujur aku terkejut melihat wajah Mas Adit yang masam tanpa senyum, nada ketusnya juga baru pertama kali ini aku dengar.
"Ya sama aja mas, tapi kan aku pinginnya umur dua puluh tiga. Dirimu juga tau alasan utamanya kan mas,," aku berusaha membujuknya setelah menimbang-nimbang kalimat yang tepat untuk menjawab. Sejujurnya aku belum memikirkan apapun tentang berkeluarga.
"Lima tahun itu lama dek, kalau udah nikah kan kita satu rumah bebas mau ngapain aja, main kemana aja. Kamu tenang aja, masalah uang biar aku yang mikirin" ujarnya meyakinkan.
Aku menghela nafas, isi kepalaku rasanya penuh. Aku mencoba menerka sifat Mas Adit yang satu ini. Selama ini dia sabar menghadapi hal sederhana maupun rumit, itulah hal pertama yang membuat aku jatuh cinta; tutur katanya lembut berhias tawa renyah dan senyum menenangkan. Selama ini kami tidak pernah bertengkar, yang ada hanya saling menyayangi dan mengkhawatirkan. Mungkin Mas Adit kesal karena terbawa perasaan, jadi aku tidak ambil pusing memikirkannya.
Mas Adit bekerja di salah satu pabrik rokok, jam kerjanya pagi setengah enam sampai jam dua siang lalu libur di hari Minggu. Sejak pertemuan pertama kali saat ia menolongku yang jatuh karena tersrempet pengendara motor lain, hubungan kami semakin dekat. Dia sudah mendapat tempat di hatiku, lalu bagaimana jika aku mundur mengakhiri hubungan ini untuk kembali pada niat awalku. Apa aku sanggup kehilangan sosok penguat langkahku? Dan apakah dia sanggup melewati harinya tanpa aku? Runyam sekali.
"Pulang yuk mas, aku bakal ngomongin ini sama ibuk." Pada akhirnya, kata ini yang terucap. Saat terombang-ambing sosok ini yang selalu ada, hanya saja aku merasa hubungan kami agak renggang setelah aku memutuskan berpacaran. Aku menyadari beliau adalah muara terakhirku, tempat untuk pulang. Aku yakin ibu bisa mengarahkan harus kemana putri kecilnya melangkah.
"Nanti kabarin aku ya, kalau ibumu setuju aku akan nglamar kamu" aku mengangguk saja, entahlah rasanya enggan menanggapi. Selama perjalanan pulang pun aku lebih banyak diam, sesekali berdehem menanggapi pertanyaan Mas Adit.
"Hati-hati ya mas" ku paksakan senyum agar Mas Adit tidak khawatir. Katanya dia mau menemui temannya sehingga tidak mampir. Baguslah, aku juga sedang ingin sendiri.
"Assalamu'alaikum buk, laris?" "Wa'alaikumsalam nduk, Alhamdulillah. Tumben nggak sampai sore mainnya? Maem sana, ibuk masak sayur kesukaanmu." Aku memeluk ibu yang tengah duduk menunggui warung.
"Nanti malem aja aku ceritain ya buk, Ila masuk dulu" kataku sambil nyengir. Aku berlalu, berganti pakaian santai lalu mengambil makan siang. Memang tidak terlalu lapar, tapi susah melewatkan masakan ibu yang tiada duanya.
"Dari mana mbak?" Ilma menghampiriku, dan bergabung untuk makan. Aku tersenyum sebentar "biasa kencan. Sekolahnya lancar dek?"
Ilma mencebikkan bibir "lancar tapi lumayan pusing. Enakan langsung kerja kali ya mbak, ngga usah kuliah" aku melotot ke arahnya "eh..eh..eh, ngga boleh gitu. Kamu harapan ibuk sama mbak loh, dijalani aja. Dibikin enjoy, kalau capek belajarnya istirahat dulu bawa jalan-jalan jangan dipaksain banget. Semangat ya dek" Irma nyengir mendengar perkataanku.
"Oke mbak, ide bagus. Uang jajanku tambahin ya mbak buat jalan-jalan, hehe" aku ikut nyengir dibuatnya. "Iya deh" kataku pada akhirnya.
Selesai makan aku merebahkan diri, kembali berbalas pesan dengan Mas Adit.
Sore hari selepas ibu menutup warung, beliau masuk kamarku sepertinya tidak sabar "Mau cerita apa kak?"
Aku langsung mendudukan diri di samping ibu. Sambil bertopang dagu aku mengucap perlahan "Mas Adit bilang mau nglamar aku buk." Aku yakin ibuku kaget, namun segera menguasai diri, hal ini memang bukan perkara kecil.
Agak lama ibu masih diam, aku pun bilang "Ya aku inget ibuk sering bilang nggak usah buru-buru nikah. Ngumpulin duit buat nyenengin diri dulu. Ila juga udah bilang Mas Adit dari dulu, kalau mau nikahnya lima tahun lagi, tapi nggak tau buk tiba-tiba Mas Adit bilang gitu."
Aku percaya, ibu ragu karena tau betul bagaimana tidak mudahnya menjalani bahtera rumah tangga. Dulu sekali ibu juga pernah bilang, kalau tau bakal seperti ini lebih baik tidak usah menikah saja. Namun semua juga takdir dari Tuhan. Cinta memang nyata adanya, bagian dari perjalan hidup yang memang banyak ujian.
"Kalau kamu siap ibu bisa apa La? Ibu cuma pesen, seterjal apapun jalan yang kalian lewati hadapi bersama jangan sendiri-sendiri. Kamu tau kan maksud ibuk? Maafin ibu ya La, cuma bisa ngasih nasihat tapi ibu dan bapak gagal jadi panutan buat kamu sama Ilma" kata ibu sambil mengelus kepalaku. Aku menggeleng, "Enggak buk, Ibunya Ila yang paling hebat. Makasih ya buk, ibuk selalu ada buat aku. Cerita ibuk dan bapak bakal jadi pelajaran berharga buat aku. Di hatiku, aku selalu sayang kalian." Senyum tulus ibu membuatku ikut tersenyum, trenyuh rasanya hati ini.