Pagiku tidak secerah pagi kemarin. Mengingat aku bertengkar dengan doi tadi malam. Saat telfon mulai tersambung kami mengobrol santai, namun menyentuh perihal pernikahan kami berdebat lagi tentang rentang waktu lamaran sampai hari H, hingga berakhir dengan aku yang mematikan ponsel. Sampai di counter aku tetap memasang muka datar, tidak terlalu menghiraukan sapaan seniorku seperti biasa.
"Ngapa lo ndut" Tanya Mbak Uul setelah aku agak membanting tas kerja di meja, sebenarnya tidak terlalu keras tapi bisa jadi dia heran dengan raut wajahku.
"Abis berantem mbak, dulu aku sampai heran kalau lihat orang pacaran sebentar berantem sebentar baikan kaya gitu terus. Aku setahun kenal doi baru ini lho mbak, apa bakal kaya mereka juga ya?" Mba Uul tertawa renyah mendengar celotehanku, emang ada yang lucu, ucapku membatin.
"Berantem ya wajarlah bocah! Namanya juga berhubungan mau sama siapa aja juga bisa cekcok ndut, asalkan kenal dan ada permasalahannya. Setiap manusia kan punya kepala masing-masing satu nangkepnya A eh satunya D nanti kalo jalan pikirannya udah ketemu udah sejalan saling ngerti kan baikan lagi. Balik lagi ke pola pikir ndut. Masalah kalo engga dibikin ruwet engga bikin pusing kok ndut, dibikin santai aja" jelas Mba Uul panjang lebar. Aku masih diam tidak menanggapi mencoba menyerap perkataannya.
"Emang gitu ndut, ngga bakal ada selesainya kalau mgributin hal kecil. Kalau hal besar ya disederhanain. Udah fokus kerjaan dulu, senyumnya dipasang ya" lanjutnya seakan menyemangati, aku pun tersenyum ke arahnya, yang udah nikah mah beda ya pemikirannya.
"Thanks Mbak Ul tercintaku" jawabku memberi kiss jarak jauh yang dibalas acungan jempol.
"Cerita apa nih girls" Mas Hendra yang baru datang menghampiri meja sebelah Mbak Ul. "Bentar lagi nasabah dateng lho mas, gibahnya udahan hehe." Dengan nada jutek Mbak Uul menimpali "Eh curut baru dateng. Buru nyalain komputer lo, cek e-mail baru, banyak kerja kita! Si kunyuk satu kan nggak berangkat!" Aku tertawa melihat senyum ceria Mas Hendra yang luntur, "iya-iya, siaap bu bos! Laksanakan" jawabnya. Kami pun mulai disibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Aku tidak memiliki banyak rekan kerja layaknya kantor besar, karena kami ditempatkan di kantor cabang. Semua temanku sudah menikah kecuali Mas Hendra, namun usianya sekitar enam tahun diatasku. Di sini hanya ada dua teller yaitu mereka Mbak Uul dan Mas Hendra juga dua customer service aku dan Mbak Windi yang tadi yang hari ini absen karena sakit, duo satpam yang kompak Pak Mail dan Pak Mur terakhir Pak Samsul sebagai supervisor kami yang hanya datang tiga kali seminggu.
Sebenarnya aku cukup menikmati pekerjaanku, tidak perlu panas-panasan, selalu tampil rapi, apalagi dalam pandangan masyarakat pekerjaanku sudah lumayan. Hanya saja aku memang gemar mengeluhkan banyak hal kepada Mas Adit, mungkin karena sudah timbul rasa percaya dan nyaman. Memikirkannya membuatku tersadar, aku belum menyalakan handphone sejak semalam. Biarlah, aku masih malas menanggapinya.
"Makan ndut, ntar kurus lo" kata Mas Hendra sembari melenggang ke belakang. Aku melirik jam yang ternyata sudah waktunya istirahat tapi melihat Mbak Uul yang masih fokus pada layar komputer aku enggan menginterupsinya.
"Sana duluan, aku bentar lagi kelar kok ndut" aku yang memang memperhatikan dirinya pun tersenyum dan melangkahkan kaki ke ruang dapur. Dari perusahaan memang tidak menyediakan catering, jadi kami selalu bawa bekal untuk menghemat pengeluaran.
"Eh neng Ila, si gembul slemidut nyoi-nyoi" ucap Pak Mur dengan cengiran khasnya. Teman-teman yang lain tertawa mendengarnya, begitupun Mbak Uul yang ternyata sudah di belakangku. Aku tersenyum malu. Menurutku aku tidak segendut itu, hanya saja antara kami semua memang badanku yang paling berisi.
Aku yang dulu lebih banyak diam sekarang mulai tertular sifat gesrek mereka kufikir-fikir seru juga. Rasanya baru kemarin nyatanya sudah enam aku bergabung dalam team mereka.
"Si Windi nggak kelihatan? emang libur ya?" Tanya Pak Mail yang di jawab oleh Mas Hendra "enggak libur bang, tadi pagi pamitan katanya sakit. Tapi nggak tau deh sakit apaan, ntar kalo emang parah tiga hari belum berangkat kita tengokin."
"Nggak mungkinlah Wiwin itu strong woman kali! Ya nggak La" seloroh Mbak Uul yang tak urung aku iyakan "hooh mbak."
Seharian ini tidak tidak terlalu melelahkan, tidak banyak customer yang berkunjung seolah tahu jika aku harus mengurus semua sendiri. Justru kepalaku berdenyut melihat motor Mas Adit terparkir di halaman. Aku mengucap salam dengan sedikit memaksakan senyum saat memasuki ruang tamu. "Itu Ila! Ibu tinggal nutup warung ya. Diminum kopinya!"
Mas Adit mengangguk mengikuti arah perginya ibu, "Iya buk, makasih." Dia memandangku dengan pandangan memelas, drama apalagi ini, fikirku.
"Udah lama ya mas?" tanyaku mencoba memecah kecanggungan.
"Dek, maafin aku ya. Aku nggak bermaksud maksa kamu, tapi jujur aja akhir-akhir ini aku ngerasa sikap kamu berubah. Kamu lebih sering main sama temen-temen kamu trus setiap aku lihat unggahan kamu kayaknya kamu deket banget sama mereka!" Protes Mas Adit diakhiri nada sebal, "aku cuma takut kehilangan kamu dek," lanjutnya seolah orang yang putus asa.
Aku tersenyum, ternyata dia tidak berubah. Dia memang laki-laki yang baik, lemah lembut dan perhatian. Setiap kali ada masalah yang mulai muncul, dia selalu mengatakan maaf apalagi jika aku memblokir akunnya atau mematikan handphone seharian dia akan datang le rumah untuk membujukku memaafkannya. Bagaimana mungkin aku tidak luluh dengan kegigihannya memperjuangkan aku yang kekanakan?
"Mamas, jangan mikir gitu dong. Aku kan udah bilang sayangku cuma buat kamu, aku juga tetep jaga jarak kok sama mereka. Kan mereka udah pada nikah, yang belum juga jaraknya jauh. Terus bukannya aku berubah, tapi kan aku udah jadi bagian dari mereka mas kalau ada apa-apa aku nggak ikut rasanya ngga enak. Kalau dulu aku emang sering izin buat nggak ikut, karena aku masih malu orang anak baru. Maafin aku juga mas kalau ngurangin waktu buat kamu,"
Sebisa mungkin aku menjelaskan apa yang di keluhkannya. Sebagai pasangan tentu aku juga harus memperhatikan kenyamanan pasanganku. Aku juga sadar, dia sering selalu mengalah jika aku merajuk, pun jua jika aku mengutarakan kecemburuan dengan tenang memblokir sumber kecemburuanku tanpa aku minta.
Aku jadi teringat sebuah jokes, -wanita sering melarang pasangannya dekat dengan lawan jenis, tapi ketika dirinya dekat lawan jenis dengan mudahnya mengatakan kan hanya teman- hahaha.
"Tetep aja dek, aku juga bisa cemburu" rajukannya membuatku tersenyum.
Tak lama ibu turut bergabung, kami mulai membahas tentang hal penting yang sebenarnya ingin ku hindari, tetapi rasanya hatiku tidak bisa jika harus kehilangan sosok sesempurna dirinya.