"Dari mana kamu tahu masalah ini, hm?"
Samesta mengulurkan segelas kopi panas ke hadapan putrinya. Saluna mengambilnya tanpa bersitatap dengan mata Samesta. Keadaan mereka sama. Sama-sama basah kuyup.
Ini kali pertama mereka main hujan bersama. Sejak dulu, Samesta maupun Raya selalu melarangnya lari-lari di bawah hujan.
Decit sepatu dan kursi alumunium berderit ketika Samesta duduk di sampingnya. Diam-diam Saluna menoleh pada Samesta. Memerhatikan muka kusut ayahnya dari samping. Samesta tak bicara. Tatatapannya lurus ke depan dengan sorot mata kosong. Terlalu sulit bagi Saluna memperkirakan bagaimana perasaan ayahnya saat ini. Apa kacau seperti yang ia alami kini?
Setelah cukup lama Samesta menyadari dijadikan objek pemandangan. Ia menoleh. Di sampingnya, Saluna berkaca-kaca. Tak