Akhirnya Raya menyerah. Dia kembali duduk dengan kekesalan yang mencapai ubun-ubun. Asap amarah hampir keluar dari kedua lubang telinga dan hidungnya. Pria tua yang selalu tersenyum menjengkelkan itu menyadari kekesalan Raya, satu-satunya teman perjalanan menuju ke sebuah tempat.
"Saya sudah tahu jawabanmu apa," celetuk pria itu mengundang lirikan ganas Raya. "Tapi saya tidak ingin mengatakannya, karena nanti kamu akan mengelak. Saya tidak suka keributan. Kalau begitu saya kembali ke kursi saya? Jika perlu sesuatu, bisa panggil saya. Oh kita belum berkenalan, meski saya tahu namamu. Kamu belum tahu nama saya. Saya Gadi."
Raya cuma mengernyit heran dengan kenyelenehan pria itu bagaikan tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi. Kepala Raya geleng-geleng. Di kursinya, tepat beberapa baris