Oxford University 08:43 AM
Rupanya berangkat pada jam ini membuatnya harus menghadapi banyak sekali perhatian, siapa juga yang tidak tertarik dengan sosok Alexa yang nyaris sempurna. Aura memuja dan iri begitu pekat di sekelilingnya, dan jujur saja ia sangat risih.
Omong-omong, musim dingin segera berakhir. Itu tandanya Alexa akan mengalami hal yang besar dalam waktu dekat, sekiranya itulah yang dikatakan oleh firasat Alexa.
Alexa membuka loker nya, lalu mengambil buku mata jam nya hari ini, jika tidak salah hari ini mata kuliah Kimia? s**l, ia tidak sempat menulis jadwalnya. Baiklah, daripada tenggelam memikirkan jam apa hari ini, lebih baik ia membawa buku kosong saja.
Ah tunggu, rasanya seseorang sedang menatapnya dengan tatapannya yang mengirikan, kira-kira siapa ya yang hendak mencari masalah dengannya? Kebetulan, sudah lama Alexa tidak melampiaskan emosinya.
‘TAK’ setelah membanting pintu loker, ia merasakan sebuah tangan hendak menjambak rambutnya, dan dengan sigap Alexa berbalik kemudian menangkap tangan itu dan menekuknya di belakang punggung.
Hm, rupanya perempuan tempo hari.
‘Siapa namanya Hara?’
‘Bianca, dia adalah fans fanatik mate-kita,’ Hara menjawab dengan santai, menantikan apa yang akan Alexa lakukan selanjutnya.
"Mau menjambak rambut ku huh?" Desis Alexa. Tangannya mencengkram pergelangan tangan Bianca yang terkunci. s**l kenapa cengkramannya kuat sekali? Bianca meringis, dan malu disaat yang bersamaan.
“Kau! Wanita macam apa kau jalang! Cengkraman mu sangat gila! Lepaskan !” Bianca berteriak. Sontak seluruh perhatian tersita kepada mereka, dan kini mereka berdua dikerumuni banyak orang. s**l cari perhatian sekali b***h satu ini.
“Kalian kenapa diam saja?! Bantu aku melepaskan cengkraman dari wanita gila ini!” suaranya terdengar lagi, kini ada empat perempuan yang berusaha menarik Bianca dari Alexa. Namun usaha yang mereka lakukan sia-sia. Tubuh Alexa tidak bergerak sedikitpun.
"Jangan menggangguku lagi jika kakimu tidak ingin ku patahkan.” Alexa menghempaskan tubuh Bianca lalu berjalan santai meninggalkannya dengan rasa malu yang sukses membuat wajahnya merah padam.
Jangan salahkan Alexa jika ia memang benar-benar akan mematahkan kaki Bianca, itu hal yang sangat mudah, ia menguasai muay thai, teakwondo, kunfu, karate, aikido, anggar dalam waktu bersamaan bahkan gelarnya sudah dijuluki si Naga Penakluk.
Saat ia duduk di Senior High School, Alexa sudah menyabet puluhan medali emas dari berbagai kemampuan bela dirinya. Dan paling memuaskan adalah, ia dapat mengalahkan sang Naga Penakluk asal Korea, ah itu membuatnya bangga.
'Bruk'
Oh s**l, karena sibuk bernostalgia, ia jadi menabrak seseorang hingga ia menjatuhkan tumpukan buku yang ia bawa. Sontak Alexa berjongkok dan membantu memunguti buku yang berceceran.
"Maaf, aku tidak sengaja.” Ucap Alexa datar, gadis yang baru saja tertabrak menatap Alexa lamat-lamat. Sepertinya ia sangat familiar dengan gadis dingin dihadapannya ini.
"Bukankah kau Devila?" Alexa mendongak menatap wajah menganga gadis di hadapan nya.
"Ya kau benar, kau tahu aku?” Alexa berdiri sambil membawa beberapa buku tebal di tangannya, ini memang berat untuk ukuran manusia, namun tidak untuk werewolf sepertinya.
"Perkenalkan namaku Mia, kita pernah bertemu beberapa kali ketika ayah kita melakukan pertemuan di Restoran Shushi di Jepang. Itu sudah berlalu sekitar tiga tahun yang lalu, kau pasti melupakan ku.”
“Mr. Robinson? Seingatku saat itu dad dan Mr.Rob melakukan kerjasama di bidang resort di Jepang. Salam kenal Mia.”
“Ya! Kau mengingat ayahku. Tentu saja, semoga kita dapat berhubungan baik ya,” ujar Mia dibalas dengan senyum Alexa yang tipis.
“Kudengar satu tahun yang lalu kamu direkomendasikan oleh ayahmu menjadi CEO ya? Berarti sekarang kamu sudah menjadi CEO? Rumornya beredar cepat, namun media tidak tahu siapa yang memimpin perusahaan raksasa miliki keluarga mu. Sepertinya kau dirahasiakan.”
“Keadaannya tidak sekalipun berubah meski aku menolak permintaan gila ayahku. Seperti yang kau lihat, mengapa aku menghabiskan waktuku di Oxford jika aku tidak diperintahkan untuk menjabat sebagai kepala perusahaan.”
“Kamu hebat! Aku sangat ingin belajar dari mu, sepertinya menyenangkan menjadi pemimpin disebuah perusahaan yang besar.” Ujar Mia. Sontak Alexa melotot, jika dapat digambarkan mungkin matanya hampir melompat keluar.
“Kau tidak lihat ini?” Mia menoleh, kantung mata Alexa yang begitu tebal membuat Mia terbahak-bahak.
“God! Kamu sudah berapa hari tidak tidur? Kau menyeramkan!”
“Setiap hari hanya tidur dua jam. Kau bayangkan jika aku sudah resmi menjadi CEO, aku ingin mati saja rasanya.” Mia terkikik.
"Terima kasih sudah membantuku Devil,” Alexa terkekeh. “Alexa saja. Dan tolong rahasiakan ini dari semua orang okay.”
“Tentu saja! Aku tidak ingin menjadi tahanan keluarga mu itu Alexa!”
Setelah mengantar Mia, Alexa memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan kembali, ia belum menemukan buku yang cocok mengenai dunia Immortal. Meski ini adalah dunia manusia, namun Alexa yakin, beberapa dosen disini berhasil menyelipkan beberapa buku yang memuat seputar dunia Immortal yang dibungkus dengan sampul fiksi. Lucu sekali. Padahal seharusnya hal tersebut dirahasiakan.
"Alexa?" Gadis itu menoleh mendapati lelaki tampan tengah tersenyum manis padanya. Tubuhnya yang tinggi membuatnya harus mendongak untuk dapat menatap netranya yang sehijau rumput laut. Asher terlihat gagah, berkarisma dan juga luar biasa tampan hari ini. Meski baru beberapa hari ia mengenalnya, namun ia sudah merasa aman jika berada didekat Asher.
"Ada apa?”
"Apa kau mau menemaniku?"
"Kemana?"
"Perpustakaan"
"Okay.”
Percakapan mereka hanya sesingkat dan sedingin itu. Namun keduanya nyaman, meski terlihat membosankan sekalipun.
Alexa yang dingin dengan Asher yang tidak tersentuh.
Sedangkan disisi lain, sekumpulan geng perempuan yang sebenarnya memiliki pengaruh besar di Oxford, tengah merencanakan sesuatu untuk membalaskan dendamnya pada Alexa. Sang ketua geng tidak terima karena ia sudah dipermalukan olehnya. Ditambah Alexa yang dekat dengan Asher membuat gadis itu menahan amarahnya yang sudah diujung tanduk.
Berani-beraninya dia mempermalukan seorang Bianca Xaviero. Bianca menggeram, tangannya terkepal kuat diantara giginya yang bergemelatuk menekan emosinya. Ya tuhan. Baru kali ini seseorang berani melawan Bianca. Terlebih didepan publik, itu melukai harga dirinya sebagai anak konglomerat dan juga wanita dengan status sosial tinggi seperti dia.
“Dia tidak memiliki informasi apapun, dan satupun sosial media.” Lori berkata seraya menunjukan layar ponselnya.
“Sebagai seorang perempuan, tadi itu kuat sekali. Tanganku rasanya nyaris lepas. Tapi anehnya meski masih sakit seharusnya meninggalkan memar keunguan.” Ujar Bianca. Ia memandangi pergelangan tangannya yang masih utuh tanpa ada bekas apapun yang berjejak.
“Padahal jika ada bekasnya, aku akan mengadukan si jalang itu pada ayah.”
“Kamu harus berusaha lebih keras lagi Bianca.” Harith menyahut dan ketiga temannya meniyakan, itu berhasil untuk menyulut secarik dendam dihatinya.
Bianca tersenyum penuh arti. Hari pembalasan akan segera tiba.
TO BE CONTINUED...
Shanika Layung Medal Wangi | @shanikalmw