Hari ini adalah jadwalnya untuk meeting bersama para staff dan juga kolega perusahaan, dan tentu saja Alexa yang memipinnya.
Pagi sekali ia sudah sibuk membersihkan dirinya, kemudian memilih pakaian formal yang sesuai dengan standar kantornya. God! Ini sangat merepotkan. Beberapa kali terdengar rutukan yang keluar dari mulutnya ketika ia sibuk berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Tangan kirinya sibuk memegang telinga mug, sedangkan tangan kirinya memegangi kiminonya yang longgar.
"Hei Alexa," Logan menyapa, pemuda itu sudah duduk manis seraya membaca surat kabar ditemani secangkir kopi di atas meja.
"Logan, kau akan ikut meeting. Aku sudah mengurus surat izin mu dan Lucas ke kepala sekolah."
"What the fvck? Oh Alexa, i won't" Logan memelas. Alexa hanya diam --sibuk meengoleskan selai cokelatnya pada roti tawar untuknya dan juga kedua adik kembarnya.
"Why?" Alexa bertanya bersamaan dengan Lucas yang baru saja tiba. Pemuda itu sudah rapi dan wangi dengan setelan jas berwarna Navy. Rambutnya ditata kebelakang dan ia nampak sangat tampan dan dewasa. Logan tercengang.
"What fvcking do you do?! Oh fvck!" Logan berucap ketus ketika melihat penampilan Lucas yang pastinya akan mengikuti meeting hari ini.
"What dude? Aku harus mengikuti meeting penting. Aku bersyukur karena Alexa dapat meloloskan ku dari para perempuan yang setiap hari menguntit kita. Aku sangat gerah." Lucas menjawab.
"Oh Lucas! Kau ini ingin menjadi gila ya? Ya Tuhan, aku ingin sekolah saja. Please Alexa."
"Kau harus ikut Twins," Lucas menjawab.
"Shut up!" Lagi-lagi Logan membentak dengan ketus, sekarang membuat Alexa geram.
"Logan. Language!" ujar Alexa. Suaranya yang dingin dan penuh penekanan sukses membuat Logan bungkam. Jujur saja ia takut, bulu romanya berdiri dan entah mengapa dia bergidik ngeri. Alexa begitu mengerikan.
"Terserah kalian mau ikut atau tidak. Aku tidak peduli." lanjutnya. Gadis itu menyodorkan sepiring roti cokelat yang baru saja selesai ia buat kepada Logan dan Lucas.
"Aku tidak nafsu makan. Kalian, selesaikanlah tanpa aku. Habiskan." Alexa pergi meninggalkan mereka berdua yang tidak mengeluarkan suara apapun sejak Alexa menggertak.
"Itu adalah ulah mu." Lucas melirik sinis.
"Kau gila ya. Aku tidak mau gila, duduk di kursi kekuasaan yang membuat kepalaku stress. Ya Tuhan Lucas. Aku tahu memakai setelan Gerogino Armani itu sangat nyaman dan elegant. Tapi aku tidak ingin kamu gila Twins." Balas Logan sambil menyantap sarapannya.
"s**l, kenapa roti buatan Alexa sangat nikmat."
Lucas hanya diam. Menghabiskan sarapannya dengan berlarut dalam pikirannya yang berlayar entah kemana.
Akhirnya mereka melihat kembali Alexa yang sedang menuruni anak tangga. Alexa sangat berkarisma dan elegant dengan setelan kerjanya yang berwarna Navy, rambutnya digulung dan sengaja meninggalkan anak-anak rambut yang membingkai wajah tegasnya yang cantik. Ia juga memoles bibirnya dengan lipstick berwarna nude, kakinya terbalut pumps kulit berwarna senada. Tak lupa clutch kulit berwarna abu-abu digenggaman.
Tangan Alexa yang bebas, sibuk mengetik sesuatu di layar ponsel. Dan langsung mensejajarkan ponsel di telinga. Kelihatan sekali bahwa ia sangat sibuk. Setelah gadis itu enyah dari pandangan, barulah Lucas mengikuti dan meninggalkan Logan yang terpekur.
"Oh, kau ikut?" Alexa melirik sekilas ke arah Lucas yang dengan sigap membukan pintu mobil untuk Alexa. "Maaf atas keributan yang dibuat oleh Logan."
"Aku tidak butuh supir. Lucas yang akan mengendarinya." sang supir pribadi yang mengerti langsung keluar dari mobil dan mempersilahkan Lucas untuk masuk.
"Aku tidak tahu kita akan meeting apa hari ini." Lucas memulai percakapan, melirik ke arah Alexa yang sibuk membaca buku.
"Meeting pertama kau yang memimpin. Hanya dengan para staff. Kau hanya perlu presentasi cara agar mutu karyawan kita meningkat. Dan cari cara agar perusahaan kita bisa maju lebih pesat lagi"
"Meeting kedua aku tidak ikut?"
"Tentu saja ikut. Kau akan menjadi Pic*. Aku tidak ingin meeting kedua ini menghasilkan Deadlock*."
"Kudengar meeting kedua ini akan mengundang kolega ya?"
"Aku akan menawarkan kerja sama dengan dua perusahaan. Dan rencananya perusahaan kita yang di Chicago akan mengikuti tender besar. Kuharap kita pemenangnya." Lucas mengangguk mengerti.
"Wait. Bahan presentasi sudah dipersiapkan?"
"Aku sudah membuat skala besarnya tiga hari yang lalu. Dan Taylor sudah membuat PPT nya." Lucas tertegun. Alexa mengerjakan ini sendirian, tapi ia sama sekali tidak mengeluh.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya mereka sampai.
"Kau harus siap Lucas."
"Tentu saja Mrs.Alexa. With my pleasure."
______________________________________________________________________________________________________
"Jadi? Kau menyuruhku untuk menggantikan posisimu begitu?! Yang benar saja!"
"Come'on son, kau mengerti bukan aku sudah terlalu tua untuk itu." pria itu menggeram. Sedangkan pria tua dihadapannya hanya menatapnya dengan penuh harap.
"Baiklah dad." akhirnya ia mengalah.
"Sekarang pergilah, dan satu lagi, aku tak suka kastil mu itu seperti neraka Asher"
"Aku akan merubahnya nanti,"
"Di ulang tahun mu yang ke 132 huh?" Lelaki tampan itu menyeringai.
"Tepat sekali," Ucapnya. Pria tua yang merupakan ayahnya itu menggelengkan kepalanya
"Baiklah, pergilah sekarang, dan aku tidak akan mengizinkanmu pulang ke kastil terkutuk itu nak, sebelum kau datang kembali kesini. Aku harus membicarakan sesuatu yang penting dengan mu." meski matanya yang indah menggerling namun kepalanya mengangguk. Pria itu kemudian bangkit dari sofa.
"Ibu akan menghubungi Viller agar segera pulang." Ucap Quennzee.
"Terserah sajalah." Asher melenggang pergi, meninggalkan kedua orang tuanya yang saling bertukar pandang.
Kedua kaki jenjangnya menapaki blue carpet yang terbentang sepanjang lorong yang disetiap sisinya memiliki jendela besar yang terbuka membuat awal musim ini lebih terang.
Mansion yang lebih pantas disebut kastel ini memiliki luas layaknya istana Britania Raya, mungkin lebih? Interior dan exterior mansion milik Ethan ini dipahat dengan ukiran yang rumit, belum lagi seluruh barang-barang di dalamnya memiliki nilai jual yang tinggi. Di setiap ruangan tergantung bigkai-bingkai emas berisikan foto-foto anggota keluarga dan juga beberapa lukisan karya maestro terkenal yang pria tua itu dapatkan dari hasil lelang.
Berbeda sekali dengan kastel milik Asher yang hanya memiliki dua warna --hitam dan merah, layaknya Neraka. Kastel milik Asher sangat membosankan karena suasana yang tidak pernah berubah meski musim berganti. Ya, Asher tidak peduli, yang penting kastelnya ini besar dan dapat mencerminkan kekuasaannya.
Ah iya, masalah tentang umur, itu memang betul umurnya kini 131 tahun, dan mungkin bila di dunia manusia umurnya masih menginjak 20 tahun. Hey! Jangan salahkan dirinya jika ia tua.
Dengar, ia sudah sekolah berkali kali, dan jangan heran jika iblis seperti dia amat tampan, semakin bertambah usia semakin sempurna lah wujudnya, tidak seperti iblis lain, dan Asher beruntung memiliki darah malaikat milik ayahnya dan Asmodeus yang ibunya turunkan, dan satu lagi harta nya itu tidak akan pernah habis seratus turunan.
Bagitulah. Orang kaya yang tidak butuh uang.
______________________________________________________________________________________________________
Ketika Alexa dan Lucas melangkahkan kakinya kedalam loby, pandangan sepenuhnya tersita kepada mereka.
"s**t, aku lupa ruangan yang dipakai meeting pertama." Alexa mendesis. Sejujurnya ia malas jika harus bertanya kepada resepsionis, apalagi sepertinya kali ini resepsionisnya baru lagi.
"Taylor tidak bisa dihubungi." gumamnya. Lucas hanya diam, sejujurnya ia masih canggung karena baru pertama kali ia masuk ke gedung utama perusahaan. Sebelumnya ia hanya mengerjakan pekerjaannya di rumah secara online.
"Kau terlihat seperti anak ayam."
"Ugh. Aku belum terbiasa." ujar Lucas. "Hubungi Taylor untuk segera menjemput kita di Loby aku akan membicarakan sesuatu kepada kalian berdua." Alexa bergumam lalu berjalan menuju meja resepsionis.
"Meeting hari ini di lantai berapa?" kali ini yang shift pertama adalah sorang perempuan dengan name tag Karina. Dilihat dari wajahnya ia memiliki paras yang manis, namun tidak memiliki seulas senyum sedikitpun. Alexa menilai dalam hati.
"Maaf, sebelumnya setiap meeting di perusahaan kami tentunya tidak sembarang orang yang tahu. Hanya para kepala direksi dan juga petinggi lainnya yang dapat mengetahui dimana meeting ini akan dilaksanakan. Lagi pula pastinya mereka sudah tahu di ruangan mana mereka akan rapat." jelasnya panjang lebar dengan nadanya yang merendahkan. Alexa mendengarkan sesekali memandangi jam yang bertengger di lengan kirinya. Perempuan ini terlalu banyak bicara.
"Baiklah, jadi di lantai berapa? Aku lupa," Alexa bertanya sekali lagi. Netranya menatap tajam resepsionis di hadapannya.
"Sudah saya katakan bahwa yang dapat menghadiri rapat tersebut hanya orang yang sudah saya sebutkan." balasnya. Kini nada bicaranya semakin ketus.
"Karina." sebuah suara membuat Alexa dan Karina menoleh. Ternyata Taylor.
"Beliau adalah.."
"Sudah tidak usah diteruskan. Ayo pergi. Kita sudah terlambat dua menit." Taylor membungkukan badannya lantas mempersilahkan Alexa dan Lucas naik lift terlebih dahulu. Sebelum ia menyusul, Taylor terlebih dahulu menghampiri Karina yang bingung.
"Kau melakukan kesalahan besar. Dia Alexa." Taylor mengembuskan napasnya kasar. Sedangkan Karina terpaku ditempat. Kini perasaannya tidak enak.
Suasana dalam lift hanya diam. Lift yang keseluruhannya dibuat dari kaca berbentuk kapsul. Mereka dapat melihat langsung pemandangan setiap lantai yang mereka lewati.
"Taylor, kuharap kau mendidik lagi resepsionis tadi. Aku tidak suka nada bicaranya. Dia tidak punya etiket. Aku tidak ingin para tamu ku diberlakukan sepertiku tadi." Taylor mengangguk
"Baik nona muda. Apa saya perlu memecatnya?"
"Ah tidak perlu sejauh itu. Ajari saja dia."
"Baik." balas Taylor. Sejujurnya ada hal lain yang takutkan selain amukan Alexa. Alexa yang dapat membaca pikiran Taylor langsung tersenyum simpul.
"Aku tidak akan melaporkannya pada dad. Lagipula aku bukan anak kecil lagi Taylor."
"Tapi, tadi itu sudah merendahkan anda yang secara tidak langsung, juga keluarga anda nona,"
"Lupakan saja Taylor. Aku juga sangat payah karena melupakan hal penting seperti itu."
"Ini salahku." Lucas akhirnya bersuara.
"Kenapa salahmu?" Alexa bertanya.
"Seharusnya aku membantu semua pekerjaan yang ditangguhkan untuk kita, aku dan Logan malah mengabaikan mu. Maafkan aku." Alexa tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut Lucas dengan lembut.
"Kalian masih kecil. Tidak perlu dipikirkan. Bukan salah kita. Tapi ini semua salah ayah kita yang gila."
Alexa dan Lucas tertawa mengabaikan Taylor yang diam-diam tersenyum melihat kelakuan sepasang saudara yang mengolok-olok ayahnya sendiri yang sampai hari ini disegani oleh karyawannya termasuk Taylor.
______________________________________________________________________________________________________
PIC (Person In Charge) : Penanggung jawab sebuah diskusi.
Deadlock : Situasi dimana sebuah rapat tidak mengasilkan kesimpulan atau suara yang bulat.
TO BE CONTINUED....................
Shanika Layung Medal Wangi | @shanikalmw