Asher menghela napas dengan kasar. Ketika ia menginjakan kakinya untuk pertama kali disebuah perusahaan kolega Ethan. Seharusnya, Ethan yang menghadiri meeting. Karena hari ini adalah anniversary nya dengan Queenzee, mau tak mau Asher harus menggantikannya, mulai hari ini dan seterusnya karena surat penurunan jabatan sudah ditandatangai oleh mereka, ralat oleh Ethan saja.Meski Ethan belum merayakannya namun sudah terlihat bahwa pemimpin perusahaan sudah beralih padanya.
Biar kuceritakan sedikit,
Asher Haydon Landon. Seorang Demon keturunan Lucifer sang raja iblis.
Kakeknya ash adalah seorang Lucifer murni yang memiliki hubungan terlarang dengan seorang malaikat. Hubungan terlarang itu menghasilkan dua orang anak berparas rupawan, Ethan dan Paul.
Ethan menikah dengan Queenzee yang merupakan Asmodeus. Dan, lahirlah pria arogan bernama Asher kemudian lahir Viller --adik perempuan Asher. Tentu saja pria ini memiliki bentuk fisik yang sangat sempurna, dan kekuatannya yang unlimited. Terlepas dari tugasnya mengabdi pada Dewa, Asher sendiri sebagai sang Iblis, giat membuat Dewa geram.
"Mr.Landon." Asher menatap pria yang membungkuk hormat padanya menyapa. Ia menebak bahwa pria ini adalah salah satu sekretaris pribadi sang CEO yang diperintahkan untuk menjemputnya.
"Anda datang terlalu awal Mr." lanjutnya. Ash melirik jam yang bertengger di tangannya, hm benar juga ia lebih cepat dua menit dari jam seharusnya.
"Antar saya ke ruang meeting. Saya tidak punya banyak waktu." ujarnya. Suaranya yang dingin dan bergema menambah kesan cool dan maskulin yang ada pada dirinya. Selain itu, banyak para karyawan wanita yang terang-terangan menatapnya dengan tatapan kagum, bahkan seseorang tidak sengaja menabrak tong sampah dan menmpahkan kopi panas ke roknya yang berwarna putih. Dalam hati Asher menertawakannya sampai puas.
"Baik, ikuti saya."
______________________________________________________________________________________________________
"Jadi bagaimana? Apa meeting mu itu sukses?" Alexa memutar kursi kebesarannya, menghadap kearah sofa bed yang diatasnya terdapat Lucas dan Logan yang sedang berbaring. Mereka baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Alexa mngernyitkan kening ketika melihat sosok Logan.
"Oh, kau datang Logan?"
"Ya,aku terlambat sepuluh menit."
"Ok kids, kalian akan melaporkannya melalui email. Aku harap kalian mengirimkannya padaku sebelum matahari terbenam. Aku harus meeting.
"Dan, sore ini aku akan pulang ke Las Vegas untuk beberapa hari atas perintah Mommy. Kalian yang akan menggantikanku selama aku disana. "
"What?! Kenapa mommy hanya menyuruhmu saja untuk pulang?" Logan bangkit dan wajahnya terlihat murung. Ia sangat merindukan sosok mommy nya yang baik hati. Alexa menghampiri Logan kemudian mencubit hidungnya gemas.
"Ada sedikit masalah di rumah. Ini berkaitan antara hidup dan matiku."
"Oh Alexa, jangan membuatku sedih," Logan menatap Alexa cemas.
"Sudah, aku harus pergi. Kolega ku sudah menunggu. Bye twins!"
Lucas dan Logan akhirnya ditinggalkan diruangan yang super besar ini, mereka berdua memilih untuk menunggu Alexa. Sekalian mengucapkan hati-hati dijalan.
"Oh hey. Tadi kita sangat berwibawa ya." Lucas membuka suara.
"Bahkan semua staff hanya diam ketika kita menjelaskan presentasi. Kita memang cerdas," Logan membalas.
"Dan juga tampan."
Sedangkan disisi lain, Alexa hampir sampai di depan pintu otomatis. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Setelah gugupnya hilang ia langsung melangkah dengan percaya diri untuk masuk ke dalam. Keadaan yang semula berisik kini mendadak hening. Semua perhatian tertuju kepada Alexa. Wajahnya yang cantik tidak menunjukkan ekspresi apapun selain datar dengan tatapan tajam yang menintimidasi. Beberapa kolega berbisik bahwa Alexa sangat mirip dengan ayahnya. Dan tentu saja Alexa dapat mendengar itu dan langsung menatap mereka lekat.
"Sudah berbicaranya sir?" semuanya hening kembali. Namun yang tidak membuatnya fokus adalah aroma musk yang menelusup indra penciumannya. Aroma itu sangat kuat dan membuat kepalanya pening.
"Attention please," Alexa membuka acara, satu persatu ia jamah seluruh wajah koleganya, hingga netra biru lautnya terkunci di seorang pria yang juga tengah menatapnya dengan smirknya yang khas.
"Asher."
______________________________________________________________________________________________________
TO BE CONTINUED.....
Shanika Layung Medal Wangi | @shanikalmw