Diam di antara mereka terasa lebih keras dari CCTV yang Raja tunjuk di sudut kanan atas.
Ratu menatap kamera kecil itu, lalu menatap Raja yang sudah berdiri dari kursi, dasi longgar, muka waspada campur salah paham. Wajahnya panas. Bukan karena niat mesum. Karena kalimat Raja barusan terdengar seperti tuduhan yang sama dengan gosip yang Desy bawa sore tadi — dan Ratu lelah dianggap perempuan yang “nekat” tiap kali ia hanya mencoba bertahan hidup.
'Bukan,' kata Ratu cepat. Suaranya serak. 'Saya nggak merayu Bapak. Saya nggak mau apa-apa yang aneh. Saya kunci pintu karena saya malu kalau ada yang lewat dengar saya minta cicilan. Gorden saya tutup karena dari luar kelihatan. Titik. Kalau Bapak mau teriak “skandal” — itu di kepala Bapak, bukan di niat saya.'
Raja mengangkat alis. Tangannya masih di dekat dasi, seolah siap menahan sesuatu yang tidak jadi datang. Ia menghela napas, lebih pelan. 'Cicilan.'
'Dua juta,' Ratu menelan ludah. Jari di tepi meja gemetar tipis. 'Gaji saya empat jutaan. Kalau saya bayar full lusa, saya nggak punya sisa buat makan wajar bulan ini. Saya hampir ambil pinjol. Desy kasih nama aplikasinya. Saya buka, saya baca bunga, saya tutup. Saya urung. Jadi saya ke sini. Bukan merayu. Memelas. Kalau Bapak mau bilang itu menyedihkan — silakan. Tapi jangan bilang saya nekat karena mau… itu. Saya masih marah soal ciuman pertama. Saya nggak bayar hutang dengan badan.'
Raja diam dua detik. Lalu menghela napas panjang, seperti seseorang yang baru sadar salah jalur. Ia menoleh ke kamera lagi, lalu ke Ratu, lalu ke pintu terkunci. Wajahnya berubah — waspada diganti malu yang jarang ia pakai di depan staf.
'CCTV itu…' katanya, lalu batuk kecil. 'Nyala di mata orang. Jadi lo beneran kelihatan ngeunci pintu. Bagus. Super. Kalau ada yang lewat dan dengar, gosip lo tambah satu episode.'
Ratu memucat. 'Ya ampun— saya buka sekarang—'
'Becanda setengah,' Raja memotong, senyum tipis dan malu. 'Maksud gue: itu kamera dummy. Hiasan. Bos lama suka gaya. Nggak rekam. Tapi orang yang lewat koridor tetap bisa dengar kalau lo teriak atau kalau gue salah paham terus ngomong kotor. Jadi buka pintu. Sekarang. Gorden buka. Kita bicara seperti manusia yang nggak mau jadi bahan satpam.'
Ratu buru-buru putar kunci. Bunyi logam. Gorden ia buka lagi dengan remote sampai cahaya koridor menyelinap tipis di bawah pintu. Napasnya baru longgar setelah itu. Ia berdiri lebih jauh dari meja Raja, menjaga jarak yang kemarin sempat hilang di zebra cross.
Raja duduk kembali, lebih formal, seolah mencoba mengembalikan jarak atasan-bawahan yang barusan hampir ambruk karena salah paham. Ia rapikan dasi. 'Oke. Deal. Lo cicil. Satu juta lusa. Satu juta bulan depan. Tanpa bunga. Tanpa ancaman. Tanpa lo kunci pintu gue lagi kayak lagi bikin skandal. Bukti transfer ke chat. Gue konfirmasi. Selesai.'
Ratu mengangguk cepat. Bahu turun. 'Deal. Terima kasih, Pak. Saya… minta maaf sudah bikin Bapak salah baca.'
'Dan,' Raja menatapnya tajam, tapi tidak mesum, 'jangan senyum tipis lagi kalau lo lagi minta duit. Kelihatan ambigu. Gue hampir… salah baca. Gue juga minta maaf soal itu. Bukan maaf besar soal ciuman — itu belakangan. Maaf soal barusan. Hafal?'
Pipi Ratu panas lagi. 'Hafal. Saya nggak sengaja senyum. Saraf.'
'Gue juga saraf,' kata Raja, lebih pelan. Kalimat itu menggantung. Ia tidak menjelaskan hampir apa. 'Pulang. Lo udah lewat jam. Kalau ada yang nanya kenapa lo masuk ke sini — bilang review berkas somasi. Bukan cicilan. Privasi. Gue nggak akan bahas duit di depan Nindy.'
'Baik, Pak.'
Ratu hampir keluar, lalu berhenti di ambang. 'Satu lagi. Kalau Bapak masih tinggal di rumah Nek Miftah… saya juga masih di sana. Tolong jangan bawa urusan kantor ke dapur. Tolong jangan nungguin saya di lobby. Dan tolong jangan… cium lagi. Saya masih marah soal itu. Saya masih… belum selesai sama kepala saya sendiri.'
Raja menatapnya lama. Tidak menyeringai seperti pagi pertama. Matanya lebih tenang, lebih jujur. 'Hafal. Ciuman itu salah. Gue akan urus itu nanti dengan cara yang nggak bikin lo nendang — atau nggak sama sekali kalau lo nggak mau. Rumah nenek: kita bagi. Dapur. Kamar mandi. Diam. Pulang, Ratu.'
Di koridor lampu setengah mati. Nindy sudah pergi. Ratu jalan cepat ke lift, jantung masih kencang. Di ponsel, chat Desy: `Lo pulang? Ada yang liat lo masuk ruangan bos.` Ratu: `Review berkas. Cicilan. BUKAN apa-apa. Nanti cerita. Pintu sempat terkunci — salah saya. Udah dibuka.` Desy: `Hati-hati. Mulut satpam nggak ada rem. Jangan kasih episode baru.`
Di parkiran Fortuner Raja belum berangkat. Ratu sengaja ambil motor dulu — kunci dari Pak Kardi masih di tas — supaya tidak turun bareng lagi. Mesin matic hidup. Malam Jakarta lengket. Di kepala ia ulang seperti mantera murah: bukan merayu. Cicilan. Dummy CCTV. Deal. Jangan kunci pintu lagi.
Di rumah, lampu ruang tamu menyala. Raja belum sampai. Ratu mandi cepat, makan roti tawar tanpa selai — stok nanas habis — menatap pintu kamar tamu yang kosong. Ia tulis di catatan ponsel: *1jt lusa. 1jt bulan depan. Jangan pinjol. Jangan kunci pintu lagi. Jangan harap Bian.* Lalu menghapus baris terakhir, karena terlalu menyakitkan untuk dibaca ulang, lalu menulis lagi lebih jujur: *Blokir tetap. Napas.*
Ketika bunyi mobil masuk garasi, Ratu sudah di dalam kamar. Ia tidak keluar. Raja tidak mengetuk. Hanya bunyi kunci, langkah, pintu kamar tamu. Malam itu mereka serumah tanpa perang — dan itu, anehnya, lebih menegangkan daripada ciuman yang sempat dicuri, karena sekarang ada perjanjian cicilan yang membuat mereka terikat tanpa menyentuh.