Lusa datang lebih cepat dari yang Ratu siap.
Pagi di kantor biasa: kopi sachet, printer macet sekali, Desy curhat soal klien yang suka ubah keterangan. Ratu buka m-banking berkali-kali sebelum gaji masuk, sampai Desy bilang, 'Lo kayak nunggu bohong dari bank.' Saat notifikasi akhirnya muncul, dadanya campur lega dan sedih. Empat juta lebih. Ia langsung hitung di kertas sisa printer: satu juta ke Raja, listrik, makan, bensin motor, sisa tabungan yang tiba-tiba kurus seperti orang sakit.
Siang istirahat ia ketuk pintu Raja. Kali ini gorden terbuka. Pintu tidak dikunci. Ia pelajari pelajaran kemarin dengan cara yang menyakitkan.
'Transfer,' kata Ratu, meletakkan ponsel di meja tanpa duduk terlalu dekat. 'Satu juta. Bukti di chat. Sisa bulan depan, tanggal yang sama. Deal kemarin. Saya nggak nego lagi. Saya nggak senyum tipis.'
Raja cek notifikasi. Mengangguk. Wajahnya profesional. 'Masuk. Good. Lo nggak pinjol?'
'Tidak. Saya urung. Desy hampir jadi sales pinjol, saya tolak.'
'Skor,' kata Raja singkat, lalu seperti menyesal terdengar terlalu akrab. Ia batuk. 'Maksud gue — bagus. Kerja siang. Ada draft somasi yang perlu lo rapikan. Faris tinggalin di meja lo. Deadline sore. Kalau lo butuh referensi pasal, tanya Faris dulu — atau gue, kalau Faris penuh.'
Ratu hampir keluar. Raja memanggil. 'Ratu.'
'Ya, Pak?'
'Lo masih cari kos?' Nada itu tidak seperti ancaman. Lebih seperti orang yang sedang menimbang sesuatu yang bukan urusannya, tapi terlanjur jadi urusan karena nenek dan atap yang sama.
Ratu terdiam. Jari memegang tali tas. 'Masih… mikir. Setelah bayar ini, tabungan saya tipis. Kos yang murah jauh dari kantor — bensin makan sisa. Yang dekat mahal. Saya belum putus. Saya juga nggak mau Nek Miftah kecewa. Beliau… sudah terlalu baik.'
Raja mengetuk pulpen di meja. Tatapannya ke jendela, bukan ke Ratu. 'Gue nggak nyuruh lo tinggal. Gue juga nggak nyuruh lo pergi. Nenek akan ribut kalau lo pergi tanpa kabar. Itu aja. Info. Jangan lo anggap gue lagi ngikat lo dengan cicilan supaya lo betah.'
'Saya tahu,' kata Ratu. 'Cicilan cicilan. Rumah rumah. Tapi serumah sama Bapak… rumit. Di kantor Bapak atasan. Di rumah Bapak… stranger yang pernah nyium saya. Kepala saya penuh.'
'Rumit karena gue, atau karena lo lagi patah hati dan gue kebetulan ada di lorong yang sama?' Raja bertanya datar. Matanya tajam, bukan mengejek. Lebih seperti orang yang tidak suka dikelabui.
Ratu menelan. Pipi panas. 'Dua-duanya. Izin kerja, Pak. Draft somasi menunggu.'
Sepulang kantor ia duduk di warung kopi murah dekat gang, bukan cafe seberang bengkel. Ia buka beberapa listing kos di ponsel: kamar 3x3, kamar mandi luar, dapur bersama, tetangga yang merokok di koridor, harga pas-pasan. Ia hitung lagi. Kalau bayar satu juta lagi bulan depan plus DP kos, ia bisa makan mie dan telur sebulan penuh. Ia tutup aplikasi. Bukan menyerah. Tertunda. Ia chat Desy: `Gajian masuk. Cicilan satu jalan. Kos tunda. Jangan pinjol.` Desy: `Pintar. Besok gue traktir kopi. Lo kelihatan kurus sejak nangis Bian.` Ratu: `Jangan sebut nama di chat kalau bisa.` Desy: `Hafal. Sensor.`
Malam di rumah, bau asap tipis dari dapur. Ratu keluar dari kamar dengan wajah curiga. Raja berdiri di depan kompor, kaos rumah, berusaha menyelamatkan telur yang terlalu matang di pinggir.
'Bapak bakar rumah Nek Miftah?'
'Sandwich kemarin lo tolak. Hari ini gue bikin telur. Mau? Bukan sisa. Belum gue sentuh. Deal ganti roti lo dulu — versi kurang nyebelin.'
Ratu ragu di ambang. Lapar menang atas gengsi. 'Mau. Tapi saya belanja telur ganti besok. Saya nggak mau hutang makanan lagi.'
'Drama,' gumam Raja, tapi menyisihkan piring kedua. Mereka makan di meja yang sama dengan jarak dua kursi kosong di antara. Diam. Bukan damai. Gencatan senjata dengan kuning telur.
Chat Bunda Della masuk saat Ratu cuci piring: `Ratu, Bian bilang susah hubungi kamu. Kamu sakit? Bunda kangen.` Ratu mengelap tangan, menatap lama. Balas: `Saya baik, Bunda. Lagi sibuk kantor. Nanti saya kabari. Cium Bunda.` Ia tidak buka pesan Bian yang masuk lewat nomor baru — sudah ia duga Raisa atau Bian sendiri. Blokir. Napas. Blokir sempurna butuh latihan, dan latihan itu menyakitkan.
Faris chat malam: `Draft somasi oke. Besok kita bahas pasal. Jangan lembur berlebihan — muka lo pucat.` Ratu: `Baik, Mas. Terima kasih.` Ia tersenyum kecil ke layar; pujian kerja lebih aman daripada perhatian Bian.
Sebelum tidur Ratu cek rekening lagi. Angka kurus terasa nyata di bawah lampu kamar yang kuning. Ia tulis di buku kas kecil: *gaji — cicilan 1 — makan — bensin — sisa.* Lalu bisik ke langit-langit rumah tua: 'Nek, maaf kalau saya ragu tinggal. Saya cuma takut hidup saya makin berantakan. Saya masih mau jaga rumah ini. Saya cuma… belum tahu caranya bareng cucu Bapak.' Tidak ada jawaban. Hanya bunyi AC di kamar tamu — Raja ternyata menyalakan milik Nek Miftah yang jarang dipakai, seolah ia juga belum sepenuhnya betah.
Dari balik dinding, samar bunyi telepon Raja — nada rendah, mungkin Yasa atau nenek. Ratu tidak menguping. Ia pakai earphone, putar lagu tanpa lirik, sampai mata berat.
Ratu menutup mata. Payday bukan kemenangan. Hanya satu langkah agar tidak tenggelam — dan agar stranger di seberang dinding tidak punya alasan tambahan untuk menguasai hidupnya dengan tagihan maupun dengan tatapan. Besok kerja. Lusa bukan bayar full lagi. Bulan depan sisa satu juta. Hidup dihitung per tanggal transfer — dan anehnya, itu membuatnya tetap berdiri.