Pagi hujan gerimis yang membasahi daun di halaman rumah Belanda. Ratu sudah di garasi lebih dulu, memanasi matic, memeriksa goresan lama di stang yang sempat menyentuh Fortuner. Fortuner hitam terparkir rapat seperti hari pertama sial — seolah mengejek.
Raja keluar dengan jas dan payung. Melihatnya. 'Hujan. Naik. Motor lo basah nanti, lo sakit, divisi minus satu orang. Faris nggak mau gantiin kerjaan lo.'
'Tidak, Pak. Saya bawa jas hujan.' Ratu tunjukkan plastik murah di tas, agak malu karena kelihatan murahan di samping payung mahal. 'Saya nggak mau turun dari mobil Bapak lagi di lobby. Gosip kemarin belum mati. Desy bilang mulut satpam kayak emak-emak. Saya jaga diri. Bukan jual mahal.'
Raja menghela napas, menutup payung sebentar. 'Lo pikir gue senang jadi bahan omongan? Gue juga baru di sini. Citra gue juga dihitung.'
'Saya nggak bilang Bapak senang. Saya bilang saya jaga diri — dan Bapak juga ikut diuntungkan kalau saya nggak kasih amunisi.' Ia pakai helm, stater, keluar pelan supaya tidak gores lagi. Raja memperhatikan celah itu tanpa komentar pedas — kemajuan kecil yang Ratu pura-pura tidak lihat, meski dada agak aneh.
Di firma, resepsionis tersenyum terlalu tahu. Satpam angguk dengan mata yang berbicara. Ratu tegap, sepatu heels hati-hati di lantai basah. Desy seret lengannya ke toilet sebelum briefing.
'Lo beneran naik motor sendiri? Hujan gini?'
'Iya. Saya tolak tumpangan. Jas hujan. Hidup.'
'Good. Nindy tadi bilang ke orang accounting, “Ratu lagi dekat sama bos.” Gue potong di mesin kopi. Bilang lo bayar utang cat mobil. Point blank. Dia muka masam. Gue pura nggak lihat.'
Ratu memeluk Desy sebentar, cepat, sebelum ada yang masuk. 'Makasih. Kamu terlalu baik buat dunia ini.'
'Bayar kopi. Dan jangan kasih amunisi baru — jangan gandeng tangan di zebra, jangan kunci pintu bos, jangan senyum ambigu.' Desy mengedip. 'Gue denger versi lo kemarin. Cicilan. Hafal.'
Siang Faris minta ringkasan berkas pidana yang sempat tertunda sejak era Pak Bun. Ratu kerja fokus sampai lupa makan. Kepala panas, tapi enak — kerja lebih aman daripada pikir Bian. Raja lewat mejanya, taruh botol air mineral tanpa kata, lanjut ke ruangannya seolah botol itu jatuh dari langit. Nindy melihat dari meja sekretaris. Mulutnya mengeras. Ratu minum diam-diam, tidak bilang terima kasih di depan orang.
Sore Ratu ke lobby lebih awal, ambil motor di basement, pulang sebelum jam Raja keluar. Di jalan macet ia kena cipratan bus. Mengumpat pelan, lalu tertawa kecil di dalam helm — setidaknya bukan Fortuner, setidaknya keputusan sendiri.
Di rumah ia jemur jas hujan di teras dalam. Raja pulang belakangan, bahu jas basah, rambut sedikit berantakan oleh angin.
'Lo pulang duluan,' katanya dari pintu, melepas sepatu.
'Iya. Motor saya. Keputusan saya. Gosip dapat sedikit diet hari ini.'
Raja mengangguk. Meletakkan jas. 'Besok kalau hujan deras — lo tetap boleh nolak. Gue nggak paksa. Tapi jas hujan yang lebih tebal ada di lemari nenek, sebelah mantel. Pakai. Nenek marah kalau lo demam. Gue yang ditelefon.'
Ratu terdiam di teras, tangan masih di kain basah. '…Baik. Terima kasih info. Saya akan pakai kalau perlu. Bukan berarti saya naik mobil Bapak.'
'Hafal,' kata Raja. 'Mobil gue untuk utang cat dan kerja. Bukan untuk jadi bahan grup WA.'
Malam Desy kirim screenshot grup tidak resmi staf — seseorang tulis *turun bareng bos = cari muka*. Desy sudah balas *utang cat mobil, mind your business*. Ratu membalas: `Kamu hero. Mau bayar kopi besok.` Desy: `Plus croissant. Dan lo tidur. Mata lo masih jelek sejak nangis.`
Ratu ke dapur minum air dingin. Raja di sofa dengan laptop, lampu kuning. Tatapan mereka bertemu. Raja: 'Gosip?'
'Selalu,' kata Ratu. 'Saya nggak akan minta Bapak bela saya di grup. Itu bikin lebih ramai. Saya cuma minta Bapak nggak kasih bahan — jangan nungguin di lobby, jangan gandeng tangan di zebra cross lagi, jangan taruh air di meja saya kalau Nindy lagi liat… atau ya sudah, taruh saja, saya haus.'
Raja menutup laptop pelan. Ujung mulutnya bergerak. 'Hafal. Gue salah di zebra. Gue juga salah di ciuman pertama. Lo catat semuanya di otak pengacara, ya?'
'Perlu,' kata Ratu. 'Supaya saya nggak gila. Dan supaya Bapak nggak mengulang seperti orang yang lupa dunia ini timur.'
Raja hampir tersenyum — sungguh, bukan seringai mesum. 'Motor lo. Keputusan lo. Malam ini gue nggak ganggu. Selamat istirahat, Ratu.'
Ratu masuk kamar. Di luar, hujan reda jadi tetes di talang. Ia buka lemari Nek Miftah sebentar — benar, ada jas hujan tebal gelap, masih berbau kapur barus. Ia tidak memakainya malam itu; hanya memastikan ada. Cadangan. Seperti tabungan yang kurus: bukan mewah, tapi ada.
Chat Nindy ke grup divisi (bukan yang gelap): `Besok briefing pagi. Jangan telat.` Ratu suka tipikal formal itu lebih dari bisik di mesin kopi. Ia balas emoji centang. Kerja. Bukan drama.
Motor di garasi utuh. Helm dipegang di pangkuan sebentar sebelum ditaruh. Gosip belum mati. Satpam masih punya mulut. Tapi untuk hari ini, menolak tumpangan terasa seperti merebut kembali satu sendi hidup yang sempat lepas di antara goresan mobil dan mulut orang — dan Ratu, untuk pertama kali sejak pagi handuk itu, merasa sedikit lebih punya kendali atas jalannya sendiri.