Rabu sore, jam kantor sudah lewat tapi Jakarta masih macet panas. Ratu tidak langsung pulang ke rumah Belanda. Ia belok ke daerah kos yang Desy rekomendasikan via chat siang tadi — bukan yang termurah, bukan yang dekat banget, kompromi antara dompet dan jarak ke firma hukum.
Gang sempit. Motor matic berdecak di batu tidak rata. Ibu kos menyambut di teras dengan senyum bisnis yang sudah latihan puluhan calon penyewa.
'Kamar di lantai dua,' jelas ibu kos sambil menaiki tangga. 'Tiga kali empat. Kamar mandi dalam. Jendela ke gang — ada angin, kadang bau gorengan. DP satu bulan, sewa satu bulan. Listrik token. Perempuan saja. Jam sepuluh gerbang ditutup.'
Ratu masuk kamar. Bau cat baru. Lantai keramik dingin. Ranjang tipis dengan kasur yang keras tapi datar — cukup untuk tidur setelah lembur, tidak cukup untuk menenangkan patah hati. Meja kecil di sudut. Colokan listrik dua. Jendela menghadap dinding tetangga dengan jarak selebrak tangan.
Ia mengukur dengan mata, membayangkan map berkas di meja kecil, membayangkan malam tanpa bunyi AC kamar tamu Raja, tanpa foto Nek Miftah muda di dinding ruang tamu, tanpa pertengkaran giliran kamar mandi yang anehnya sudah terasa seperti ritual rumah.
Dada campur lega dan kosong. Lega karena bisa kabur dari gosip kantor dan stranger di lorong. Kosong karena kabur juga berarti mulai dari nol — tanpa dapur besar, tanpa jas hujam tebal yang sudah ia gantung dekat pintu.
'Saya… pikir-pikir malam ini,' kata Ratu. 'Kabari besok.'
'Jangan lama, Mbak. Antrian. Besok ada yang mau lihat jam empat.'
Di warung bawah, Ratu minum es teh manis. Buka kalkulator di ponsel. Cicilan sisa satu juta bulan depan — deal dengan Raja, tanpa bunga, tanpa ancaman. DP kos plus sewa pertama. Listrik token. Makan. Bensin motor. Angka merah di kepala, tapi bukan mustahil. Tipis. Sangat tipis. Seperti hidup yang sudah ia jalani sejak lama.
Ia foto kamar — sudut ranjang, meja, jendela — kirim ke Desy: `Hampir. Enak. Aku pusing.`
Desy: `Pusing karena enak atau karena ninggalin rumah nenek?`
Ratu: `Dua.`
Desy: `Lo nggak wajib mutus malam ini. Napas. Jangan transfer DP kalau lo masih goyah.`
Ratu: `Hafal.`
Malam di rumah Belanda, lampu ruang tamu menyala. Ratu baru selesai mandi ketika ponsel berdering — suara, bukan video. Nek Miftah.
'Ratu, sayang.' Suara nenek lembut tapi tegas. 'Nenek dengar dari tetangga… ada yang bilang kamu survei kos di gang dekat pasar? Apa benar?'
Ratu membeku di sofa. Tetangga. Mulut gang. Jakarta kecil untuk gosip, besar untuk rahasia. 'Nek… saya cuma lihat-lihat. Belum bayar. Saya… lagi pikir.'
'Jangan,' kata Nek Miftah. 'Rumah itu untuk kamu juga. Nenek percaya kamu. Kalau soal Raja — nenek bicara sama dia. Jangan kamu yang pergi seperti diusir. Kamu tidak diusir. Kamu… keluarga nenek, meski bukan darah.'
'Bukan diusir,' bisik Ratu. Mata panas. 'Saya cuma… rumit, Nek. Di kantor dia atasan. Di rumah… ada banyak salah paham. Saya takut gosip. Saya takut saya sendiri — takut saya lemah kalau dekat, takut saya keras kalau jauh.'
'Takut itu manusia,' kata nenek. 'Pergi diam-diam itu menyakiti nenek. Tunggu nenek pulang. Atau tunggu sampai kamu benar-benar yakin — bukan karena panik. Janji, sayang?'
Ratu menelan air mata. 'Saya… coba janji. Saya belum transfer DP. Saya kabari kalau putus.'
'Nenek sayang kamu,' tutup Nek Miftah.
Setelah telepon, Ratu duduk lama di sofa. Pintu kamar tamu terbuka — Raja muncul dengan wajah yang menunjukkan ia mendengar cukup banyak tanpa sengaja. Lorong sempit. Suara nenek kadang bocor.
'Lo survei kos.'
Bukan tuduh. Fakta.
'Iya,' kata Ratu. 'Bapak bilang bebas. Saya pakai kebebasan itu. Nek Miftah minta saya jangan. Saya… ragu. Bukan karena Bapak merayu. Karena angka dan atap dan mulut orang. Karena saya belum selesai sama Bian — bukan mau balik, tapi belum selesai sakit.'
Raja mengangguk, tangan di saku kaos rumah. 'Gue nggak akan ancam cicilan supaya lo tinggal. Gue nggak akan bilang nenek. Lo yang putusin. Kalau lo pergi — bilang. Jangan tinggal kunci di meja seperti kabur. Hafal?'
'Hafal,' kata Ratu.
Raja tidak menambah apa-apa. Tidak bilang 'tinggal'. Tidak bilang 'pergi'. Ia ambil gelas dari lemari, isi air, kembali ke kamar tamu — langkah pelan, pintu menutup tanpa ketukan malam ini karena tidak ada urusan.
Ratu duduk lama di sofa setelah itu. Ia buka galeri: foto kamar kos, sudut ranjang, jendela sempit. Lalu buka foto lama — dirinya di teras rumah Belanda waktu Nek Miftah ulang tahun, senyum lebar, kue di tangan. Dua versi hidup. Dua atap. Satu dompet tipis.
Ia hitung lagi di notes, meski sudah hafal angkanya: gaji bulan depan minus satu juta cicilan minus makan minus bensin = sisa yang bisa hidup, tidak bisa pamer. Pindah kos = kebebasan gosip tapi kehilangan dapur besar, jas hujan tebal, foto nenek di dinding. Tinggal = rumit tapi familiar, stranger di lorong tapi atap yang sudah terasa seperti tempat pulang — meski belum ia akui keras.
Chat Desy masuk: `Gimana? Sudah transfer DP?` Ratu: `Belum. Nek nelpon. Raja tahu. Belum putus.` Desy: `Good. Lo nggak kabur malam ini. Tidur. Besok pikir dengan otak, bukan takut.`
Malam itu ia tidak tidur nyenyak. Bangun sekali, minum air, lihat daftar blokir — Bian masih ada, Raisa masih ada, nomor asing masih ia tolak tanpa membaca. Patah hati bukan sakit yang sembuh dengan pindah kamar. Tapi pindah kamar bisa memberi ruang napas.
Di antara foto kos dan chat nenek, stranger di seberang dinding tidak merayakan, tidak melarang — dan itu membuat keputusan lebih sulit, bukan lebih mudah, karena kebebasan yang sungguh tidak pernah datang dengan peta, hanya datang dengan konsekuensi yang harus ditulis sendiri.