Kamis pagi, langit Jakarta abu-abu cerah. Ratu bangun lebih awal dari alarm — bukan karena rajin, tapi karena keputusan yang sudah menggantung sejak tadi malam.
Di dapur, ia tuang air panas ke cangkir, buka chat ibu kos, jari mengetik pelan:
`Maaf, Mbak. Saya tunda dulu. Terima kasih sudah ditunjukkan kamar.`
Balasan singkat datang lima menit kemudian: `Baik. Kalau jadi, kabari.`
Ratu taruh ponsel, napas panjang. Keputusan itu bukan cinta. Bukan menyerah pada Raja. Itu angka plus janji pada Nek Miftah plus rasa bahwa panik bukan fondasi pindah yang baik — dan bahwa pergi tanpa kabar akan menyakiti nenek yang sudah terlalu baik padanya.
Raja masuk dapur, sudah jas, rambut rapi, bau kopi instan. 'Lo…?'
'Tunda kos,' kata Ratu sebelum ditanya penuh. 'Bukan selamanya. Tunda. Nek Miftah. Dompet. Kepala. Saya tetap tinggal dulu. Bapak jangan rayakan. Jangan senyum seperti menang. Saya bebas. Bapak yang bilang.'
Raja mengangkat alis, lalu mengangguk pelan. Tidak senyum menang. Wajahnya datar — hampir lega yang disembunyikan di balik profesionalisme pagi. 'Bebas lo. Gue nggak rayakan. Gue cuma… oke. Listrik tetap bagi. Semut tetap lo cuci. Kerja tetap kerja. Cicilan tetap cicilan — satu juta bulan depan, deal kemarin. Rumah tetap rumah.'
'Deal,' kata Ratu. 'Dan Bapak tetap jangan cium. Tetap jangan gandeng di zebra. Tetap ketuk, jangan buka.'
'Deal,' sahut Raja. 'Upgrade tetap jalan. Pelan.'
Ia tidak mengulur tangan. Tidak tepuk pundak. Tidak bilang 'syukurlah'. Ratu memperhatikan itu — dan justru karena tidak ada perayaan, keputusannya terasa miliknya sendiri, bukan hadiah dari stranger yang pernah nyium tanpa izin.
Mereka sarapan roti tawar berbeda ujung meja — jarak dua kursi, seperti malam-malam belakangan. Ratu oles selai nanas tipis; stok baru dibeli kemarin. Raja minum kopi hitam tanpa gula. Radio dapur tidak nyala. Hanya bunyi sendok ke piring dan burung pagi di halaman belakang yang jarang Ratu sadari sudah jadi soundtrack rumah.
'Motor lo servis?' tanya Raja tiba-tiba, matanya ke jendela, bukan ke Ratu.
'Belum. Masih jalan. Pak Kardi bilang oli bulan depan.'
'Jangan telat. Lo pulang malam terus minggu ini.'
'Bukan perintah?' tanya Ratu setengah iseng — iseng yang hati-hati.
'Info,' jawab Raja. 'Gue nggak suka staf magang jatuh di jalan gara-gara ban aus. Itu HR, bukan… bukan yang lain.'
Ratu mengangguk. 'Baik, Pak.'
Di garasi, Fortuner dan motor matic berjejer lagi — celah sempit, hati-hati seperti selalu. Ratu keluar dulu. Raja lima menit kemudian. Tidak bareng. Tidak lobby. Deal kemarin masih hidup.
Di kantor, Desy langsung baca muka Ratu saat lift terbuka. 'Lo nggak pindah?'
'Tunda. Jangan sebar. Nindy jangan tahu — dia bikin jadi cerita "Ratu nggak bisa jauh dari bos".'
Desy mengunci mulut dengan gerakan kunci imajiner. 'Hafal. Croissant? Gue beli double. Lo muka lega tapi mata masih war.'
'Deadline,' jawab Ratu — setengah bohong, setengah benar.
Pagi itu Faris singgah sebentar dengan draft somasi baru. 'Lo tunda kos? Desy cerita setengah. Gue nggak nosy. Cuma — bagus. Lo butuh kepala tenang buat berkas pidana. Kalau lo pindah panik, lo salah footnote, klien menang di media.'
'Terima kasih, Mas. Saya… belum tenang total. Tapi lebih tenang dari kemarin.'
'Kerja dulu. Hati nanti,' Faris terkekeh, pergi sebelum jadi motivator Instagram.
Ratu buka laptop. Highlight kuning. Printer sekali macet, ia tepuk pelan — ritual magang yang sudah familiar. Sekitar jam sebelas, Raja lewat meja tanpa berhenti — tapi botol air mineral muncul di sudut meja Ratu lagi. Nindy melihat. Ratu minum diam-diam, tidak bilang terima kasih di depan orang. Hafal.
Siang, Nindy tetap mencoba. 'Mbak Ratu, tumben muka lega. Ada kabar baik? Atasan kasih proyek besar?'
'Berkas,' kata Ratu datar. 'Deadline. Nindy, jadwal rapat jam tiga sudah saya kirim ke shared calendar. Tolong konfirmasi ruang meeting.'
Nindy mengeras. 'Siap, Mbak.'
Sore, Faris minta Ratu ikut rapat singkat dengan klien lama yang rewel — yang suka ubah keterangan setiap minggu. Raja memimpin; Ratu catat di laptop; Faris menenangkan ketika suara klien naik.
Sekali, ketika klien menyindir 'magang cewek cuma hiasan', Raja bilang tanpa melihat Nindy: 'Pendapat Magang Ratu kemarin soal celah pasal — pakai itu. Lo baca, Pak. Fakta.'
Klien mengangguk kaku. Nindy mencatat jadwal dengan bibir tipis. Ratu menunduk ke notes, telinga panas — bukan karena romansa, karena tanggung jawab yang tiba-tiba terasa berat dan… benar.
Setelah rapat, Faris menepuk bahu Ratu pelan — satu kali, profesional. 'Lo tadi tajam. Jangan kebawa pulang. Itu klien lama, bukan sidang hidup lo.'
'Baik, Mas.'
Di lift turun, Desy bisik: 'Nindy udah spread versi "magang dekat bos" ke staf admin. Lo tenang aja. Lo kerja bagus. Gosip capek sendiri kalau lo nggak kasih bahan.'
'Lo spy?' tanya Ratu.
'Lo sahabat. Gue radar,' jawab Desy bangga.
Sepulang kantor, gerimis tipis. Ratu pakai jas hujan nenek, motor melintas genangan kecil. Di rumah, lampu ruang tamu sudah nyala — Raja pulang lebih dulu, jarang, tapi hari ini ia duduk di sofa dengan map terbuka, seolah rumah juga tempat kerja overflow.
'Jangan lembur di sofa,' kata Ratu melepas sandal. 'Nenek marah kalau kertas berantakan.'
'Lo pulang cepat,' sahut Raja, merapikan map. 'Bagus. Ada sayur?'
'Ada. Saya masak.'
Malam di rumah, Ratu masak tumis sayur sederhana. Raja turun dari kamar tamu karena bau bawang. 'Ada cadangan nasi?'
'Ada. Bapak ambil sendiri. Piring biru.'
Mereka makan dengan jarak dua kursi — konsisten. Raja: 'Nenek sudah lo balas?'
'Sudah. Saya bilang masih di rumah. Beliau senang. Saya… masih hati-hati.'
'Hati-hati sah,' kata Raja. 'Gue juga. Selamat malam, Ratu.'
'Sebut nama saya di rumah… aneh,' gumam Ratu setelah sendok terakhir.
'Lebih baik daripada "Nona" atau "hantu",' sahut Raja kering.
Ratu hampir tertawa. Tertahan. Ia cuci piring; Raja mengeringkan tanpa diminta — sinkronisasi wastafel yang sudah mulai terasa biasa, bukan intim.
Sebelum tidur, Ratu chat Nek Miftah singkat: `Nek, saya masih di rumah. Baik-baik saja. Kerja ramai.` Balasan nenek: `Nenek senang. Jaga diri. Raja juga jaga — nenek percaya dia belajar.`
Ratu baca dua kali. Tidak forward ke Raja. Privasi nenek, privasi dirinya.
Di catatan ponsel, ia tulis: *tunda kos. deal aturan ulang. tetap tinggal — sementara.* Lalu hapus 'sementara' karena terlalu seperti countdown, lalu biarkan kosong.
Tetap tinggal, untuk sekarang, terasa seperti gencatan yang dipilih — bukan kekalahan, bukan kemenangan, hanya atap yang sama dengan aturan yang semakin jelas, stranger di seberang dinding yang belajar ketuk tanpa buka, dan magang yang besok harus bangun pagi karena Jumat bukan hari untuk lari dari meja sendiri.