Jumat pagi, klien baru datang dengan muka perang. Pengusaha menengah yang merasa digiring ke meja pidana tanpa salah — setidaknya menurut versinya. Suaranya memenuhi ruang meeting lantai empat sebelum kursi panas sempat terasa. Nindy sudah siapkan kopi — Ratu lihat dari sudut mata — tapi klien tidak minum, terlalu sibuk marah.
'Firma ini harusnya bela saya, bukan menguliahi!' bentak klien, mengetuk meja dengan jari gemuk. 'Saya bayar mahal! Saya kenal orang!'
Faris menenangkan dengan suara rendah, tangan terbuka — gestur pengacara yang sudah latihan ratusan klien emosional. Raja duduk tenang di ujung meja — tidak naik volume, tidak turun martabat. Jas abu, dasi rapi, mata dingin tapi tidak menghina. Ratu di sudut dengan laptop, jari siap di keyboard, napas diatur seperti sebelum sidang simulasi di fakultas dulu. Desy di belakang, catat; Nindy di dekat pintu, senyum profesional.
'Pak, kami di sini bukan untuk menghakimi,' kata Faris. 'Kami di sini untuk melihat celah dan jalan keluar.'
'Tidak ada celah! Saya korban!' klien masih keras.
Raja menatap klien. 'Kami bela dengan strategi, bukan dengan teriak. Magang Ratu — bacakan ringkasan fakta yang sudah diverifikasi. Bukan opini. Fakta.'
Ratu berdiri. Kursi berderit pelan. Suara stabil meski jantung berdegup kencang — bukan takut klien, takut salah baca di depan orang yang bisa menentukan apakah ia layak disebut pengacara suatu hari nanti.
Ia baca poin demi poin: kronologi publikasi artikel, bukti screenshot yang sudah diverifikasi forensik digital, pasal yang berbahaya bagi klien, pasal yang bisa dilawan, timeline tiga minggu yang tidak bisa diputar balik.
Klien mulai diam. Alis berkerut — bukan marah, menghitung.
Faris tersenyum tipis ke layar. Desy, yang ikut catat di belakang, mengangkat jempol kecil di balik map.
Di akhir, Raja bilang — jelas, untuk ruangan dan untuk staf yang suka menyimpan momen: 'Itu yang saya maksud andalan. Lanjut, Faris — strategi somasi balik.'
Setelah rapat, koridor ramai sebentar lalu sepi. Desy nyelip di samping Ratu menuju pantry. 'Lo beda sama dia. Dulu lo kaku tiap ketemu bos baru. Sekarang lo… nyambung. Bukan gosip. Observasi sahabat.'
'Kerja,' kata Ratu cepat. 'Jangan mulai.'
'Saya belum bilang jatuh cinta. Saya bilang nyambung. Hafal beda.' Desy mengedip pergi.
Siang, Nindy 'tidak sengaja' bilang ke staf lain di dekat mesin kopi — cukup keras untuk Ratu dengar dari meja magang: 'Wah, dipanggil andalan. Tumben magang dipuji di depan klien. Mungkin memang… dekat ya.'
Ratu masuk toilet, napas tiga kali di depan cermin, keluar lagi. Tidak meledak. Ledakan = episode gosip baru. Di meja magang, ia buka berkas lain — distraction sehat — sampai Faris lempar sticky note: *Lo andalan hari ini. Weekend off. Serius.*
Sore, jam hampir lima, Raja panggil via intercom — formal. 'Magang Ratu, ke ruangan saya.'
Pintu ruang Raja terbuka lebar. Gorden terbuka. Meja rapi. Tidak ada Nindy di ambang pintu.
'Lo bagus tadi,' kata Raja. 'Gue bilang di rapat karena benar, bukan karena serumah. Kalau orang omong, biar. Kerja lo yang jawab. Weekend jangan buka berkas kecuali emergency. Mata lo masih utang tidur sejak lembur Senin.'
'Baik, Pak. Terima kasih sudah… tidak membiarkan klien menginjak saya.'
Raja terdiam sebentar. Jari mengetuk meja sekali. 'Gue nggak suka orang teriak ke tim gue. Itu profesional. Bukan favoritisme. Pulang. Motor. Hujan?'
'Gerimis. Jas nenek.' Ratu tersenyum tipis — tidak ambigu, lelah bangga. 'Saya pulang.'
Di parkiran, ia sengaja tidak menunggu Fortuner. Motor hidup. Gerimis mengetuk jas. Chat Desy: `Andalan verified. Lo pantas.` Ratu: `Kerja. Bukan verified couple.` Desy: `Hafal. Makan malam. Jangan mie doang.`
Malam, tanpa janji, mereka bertemu di dapur. Ratu masak nasi goreng sisa sayur kemarin; bau bawang dan kecap memenuhi rumah tua. Raja turun dari kamar tamu karena hidung tidak bisa pura-pura.
'Gue ikutan. Bayar telur besok,' katanya, duduk di kursi yang sudah jadi 'milik' malam hari — bukan dekat, bukan jauh.
'Drama,' sahut Ratu, tapi menyisihkan piring biru untuknya.
Mereka makan. Diam beberapa suap. Lalu Raja berbicara tanpa menatap penuh, seperti orang yang memaksa mulutnya jujur sebelum kebiasaan lama menang.
'Soal ciuman pertama… gue minta maaf. Bukan setengah. Salah. Lo berhak marah. Gue nggak akan ulang tanpa… tanpa lo bilang mau. Yang mana sekarang lo belum. Hafal.'
Ratu meletakkan sendok. Dada ramai — bukan flirting, bukan undangan. Penyelesaian utang yang belum lunas. 'Diterima. Pelan. Saya belum lupa. Saya juga belum… selesai sama kepala lain. Jangan harap maaf ini jadi tiket.'
'Nggak tiket,' kata Raja. 'Cuma utang yang harus dibayar dengan cara yang benar. Selamat malam.'
'Selamat malam.'
Ratu cuci piring; Raja mengeringkan — ritme wastafel yang sudah familiar sejak malam listrik padam. Di luar, gerimis tipis. Anjing tetangga menggonggong sekali lalu diam.
Sebelum masuk kamar, Ratu berhenti di lorong. Raja juga berhenti di ambang kamar tamu — jarak dua meter, lampu koridor redup.
'Pak,' kata Ratu pelan. 'Andalan… di rapat tadi. Saya nggak lupa itu kata kerja, bukan… bukan label.'
'Gue tahu,' jawab Raja. 'Gue juga nggak lupa lo belum bilang mau apa-apa selain deal rumah. Tidur. Senin ada draft baru.'
'Baik.'
Di kamar, Ratu buka catatan: *andalan = kerja. maaf ciuman = diterima, bukan tiket. nasi goreng Jumat.* Ia tidak hapus. Terlalu jujur untuk dihapus malam ini.
Di dalam, kata *andalan* dan maaf yang sungguh duduk di meja yang sama tanpa saling mengklaim — dekat tanpa nama, tepat di ambang sesuatu yang belum boleh disebut, dan cukup manusia untuk Jumat malam yang tidak perlu diakhiri dengan drama.