Senin pagi, ruang rapat internal lantai empat penuh dengan kopi dingin dan wajah-wajah yang sudah lelah sebelum jam sepuluh. Pintu ditutup rapat. AC terlalu dingin untuk perut yang cuma diisi roti panggang di dapur rumah Belanda — ujung meja, jarak dua kursi, selai nanas tipis, seperti deal Jumat malam yang masih hidup di kepala Ratu.
Di layar proyektor, slide kasus klien rewel minggu lalu masih terbuka: pidana pencemaran plus dugaan pengancaman, timeline tiga minggu, celah bukti digital. Faris memimpin ringkasan; Raja duduk di ujung meja dengan jas abu dan ekspresi datar yang sudah jadi standar ketua divisi baru. Ratu di barisan belakang dengan laptop, jari siap mengetik jika ada koreksi fakta — posisi magang yang familiar, bukan favorit, bukan hiasan.
Nindy duduk di barisan depan, binder rapi, pulpen di tangan, senyum profesional yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata. Setiap kali Raja mengangguk pada poin Faris, Nindy mencatat — bukan isi, tapi frekuensi. Ratu melihat itu dari sudut matanya dan memilih fokus ke slide.
Masalah mulai saat slide lima muncul: catatan follow-up ke klien via telepon konferensi. Di kolom 'PIC lapangan', nama Ratu Ananda Sahara.
Pak Hendro dari Divisi Litigasi — senior yang suka bicara panjang supaya terdengar penting — mengetuk meja dengan pulpen. 'Pak Raja, saya nggak mau nyinyir, tapi… magang bicara langsung ke klien yang temperamen seperti Pak Wijaya? Minggu lalu klien itu sempat naik suara ke staf. Risiko reputasi firma.'
Ruang hening sebentar. Ratu merasakan telinga panas — bukan malu romantis, malu profesional. Ia belum tidur cukup sejak Jumat malam: maaf ciuman di dapur, kata *andalan* di rapat klien, gerimis, nasi goreng tanpa drama. Semua itu tidak seharusnya masuk slide internal, tapi tubuhnya tetap kaku seperti sedang diperiksa.
'Magang Ratu yang handle call follow-up,' jelas Faris tenang. 'Isinya faktual. Klien mereda setelah dengar ringkasan pasal delapan puluh tujuh versi revisi. Itu catatan di log. Saya dengar rekaman — suara stabil, tidak provokatif.'
Pak Hendro mengangkat alis. 'Log bagus. Tapi kalau klien komplain lagi? Siapa yang tanggung jawab? Bukan saya remehin generasi muda, tapi… firma ini punya standar. Dulu magang cuma catat, nggak front line.'
'Standar firma,' kata Raja tanpa naik volume, 'adalah hasil. Bukan umur di KTP.'
Beberapa staf saling lirik. Nindy menunduk ke binder, bibir tipis — Ratu tidak bisa baca pasti, tapi nada ruangan sudah berubah.
'Kalau remehin, bilang langsung,' lanjut Raja. 'Magang Ratu presentasi di depan klien Jumat lalu. Fakta bersih. Strategi somasi balik disusun dari input dia. Saya sebut andalan karena kinerja, bukan karena saya suka roti panggangnya.'
Beberapa staf tertahan tawa. Ratu menunduk ke laptop supaya mata tidak ketahuan berkedip. Roti panggang — referensi yang tidak ada di slide manapun, tapi somehow masuk rapat pimpinan. Gosip akan lebih cepat dari elevator.
Faris menambah, profesional: 'Saya setuju Pak Raja. Ratu paling hafal timeline bukti digital di kasus ini. Kalau Hendro khawatir, kita pasang double check senior sebelum call — bukan cabut magang.'
'Double check senior artinya beban tambah,' gumam Pak Hendro.
'Beban profesional,' balas Faris datar. 'Bukan beban ego.'
Raja mengangguk sekali. 'Double check boleh. Cabut magang nggak. Pertanyaan lain soal kasus, bukan soal umur staf?'
Pak Hendro melipat tangan. 'Cukup. Saya cuma jaga firma.'
Rapat berlanjut — jadwal, risiko banding, biaya — tapi Ratu hanya menyerap separuh. Sisa otaknya menempel pada satu kalimat: *bukan karena saya suka roti panggangnya*. Di kantor, itu lucu. Di koridor nanti, itu bahan. Di grup WhatsApp staf admin, itu headline.
Slide terakhir: action item. Nama Ratu tetap di follow-up call. Tidak dicabut. Tidak diganti. Ratu mengetik catatan cepat — bullet point, timeline, pasal — supaya tangan tidak gemetar.
Saat rapat bubar, Nindy lewat di samping Ratu dengan senyum yang terlalu tipis. 'Wah, dibela langsung sama Ketua. Roti panggang, ya? Lucu banget.' Bisikannya cukup untuk Desy dengar. 'Dulu Pak Bun juga gitu di awal — dekat banget sama magang. Hati-hati ya, Mbak.'
Nada itu asam — bukan concern, bukan teman. Ratu mengenali racun yang dibungkus permen.
Desy menoleh cepat. 'Nindy, arsip jadwal lo belum ke kirim ke admin. Fokus.'
Nindy pergi dengan langkah yang sengaja terdengar. Di ambang pintu, ia sempat menoleh ke Raja yang masih berbicara dengan Faris — senyum sekretaris paling manis, paling cepat, paling mahal.
Di pantry, Desy nyelip ke samping Ratu. 'Lo dengar tadi?'
'Dengar,' jawab Ratu pelan. 'Bangga. Takut. Dua-duanya.'
'Valid.'
'Pak Raja bilang profesional. Saya percaya — mostly. Tapi mulut kantor nggak punya filter. Roti panggang bisa jadi headline grup WhatsApp staf admin.'
Desy menghela napas. 'Lo nggak bawa roti ke kantor, kan?'
'Nggak.'
'Good. Lo kerja. Lo andalan. Gosip capek kalau lo nggak kasih api.'
Ratu mengangguk, tapi dadanya tidak selalu patuh pada mantra sahabat. Bangga karena kerja diakui di ruang pimpinan — pertama kali sejak magang, mungkin, dengan suara seluruh divisi mendengar. Takut karena dibela oleh atasan yang juga stranger di rumah, juga pencuri ciuman pertama, juga pria yang Jumat malam minta maaf pelan di dapur.
Siang, Raja lewat meja Ratu tanpa berhenti. Sekali, ia menaruh printout jadwal rapat eksternal di sudut meja — tangan cepat, tidak ada kontak mata. 'Besok call klien jam sebelas. Lo siapkan bullet point. Bukan karena roti. Karena lo yang paling hafal.'
'Baik, Pak.'
Ratu tidak bilang terima kasih di depan Nindy yang pura-pura fotokopi di dekat printer. Hafal.
Sore, Faris singgah sebentar. 'Lo tenang aja. Hendro memang suka gong. Hasil lo yang jawab.'
'Terima kasih, Mas. Saya cuma… nggak mau jadi beban drama.'
'Lo bukan drama. Lo berkas.' Faris tepuk meja sekali, pergi.
Pulang, motor matic melintas macet. Ratu memikirkan rapat tadi — Pak Hendro, Faris, Raja. Trio yang membuatnya tetap di peta kasus, bukan di sudut ruangan. Tapi juga trio yang memberi Nindy amunisi baru.
Di lampu merah, chat masuk dari Desy: `Lo survive rapat?` Ratu: `Dibela. Roti jadi joke.` Desy: `Tai. Lo jangan bawa roti besok. Lo bawa otak.` Ratu: `Hafal.`
Malam di rumah Belanda, Ratu masak mie instan — upgrade telur karena gaji belum minus cicilan bulan depan. Raja belum pulang. Ia duduk di meja makan dengan ponsel terbalik, catatan ponsel terbuka: *andalan = kerja. roti = jangan jadi gosip. Nindy asam.*
Bangga dan takut duduk berdampingan di kursi yang sama, seperti dua tamu yang tidak diundang tapi juga tidak bisa diusir dari dada sendiri.