Selasa siang, Desy menarik Ratu ke tangga darurat gedung — bukan karena kebakaran, tapi karena pantry terlalu ramai dan telinga Nindy terlalu tajam.
'Lo beda,' kata Desy tanpa preambul. 'Sama Raja. Di kantor. Di rumah — lo cerita wastafel, lo cerita nasi goreng Jumat. Lo bilang dia minta maaf soal ciuman. Lo bilang lo tunda kos. Itu bukan cuma kerja + stress rumah, Ra.'
Ratu bersandar di dinding beton dingin. Tangga darurat bau cat dan rokok ilegal staf lantai lima. 'Gue cuma… nyambung. Artinya otak lo nggak blank tiap ketemu dia. Artinya lo bisa kerja bareng tanpa mau lempar stapler.'
'Nyambung itu awal dari banyak hal.'
'Bukan awal pacaran.' Ratu menatap sepatunya. 'Gue masih blokir Bian. Masih inget Raisa. Masih cicilan satu juta bulan depan — deal Jumat minggu lalu, belum jatuh tempo tapi sudah ngebayangin dompet tipis. Masih kos yang ditunda, bukan dibatalin. Stress rumah? iya — ketuk pintu, jangan buka; jangan cium; jangan gandeng zebra. Itu aturan, bukan foreplay.'
Desy mengangkat bahu. 'Foreplay lo kaku banget ya hidupnya.'
'Des.'
'Oke. Gue cuma mau lo sadar: kalau lo nyaman, jangan malu. Kalau lo nggak nyaman, jangan pura-pura cuma karena dia andalan di rapat.'
Ratu mengangguk. 'Gue hafal. Andalan itu label kerja. Bukan label hati.'
Mereka kembali ke lantai kerja sebelum jam makan siang officially habis.
Hari itu kecil — email, footnote, printer macet sekali. Nindy tidak menyapa pagi; hanya meletakkan jadwal rapat di meja Ratu tanpa senyum. 'Jam tiga, ruang B. Pak Raja minta lo ikut — catat.' Bukan tanya. Bukan permintaan. Ratu jawab 'Baik' dan tidak tambah apa-apa.
Mesya, staf administrasi, bisik ke Desy di dekat pantry: 'Nindy bilang Ratu deket banget sama Pak Raja. Roti panggang katanya.' Desy menjawab keras: 'Printer lo macet. Fix.' Mesya pergi malu.
Ratu dengar separuh. Memilih tidak mengejar. Ledakan di pantry = episode baru.
Jam tiga, rapat singkat dengan klien via Zoom. Ratu catat; Raja pimpin; Faris backup. Nindy tidak masuk — luar biasa — sehingga koridor sedikit tenang. Layar Zoom kadang freeze di wajah klien yang masih rewel tapi lebih tenang dari Jumat lalu. Ratu mengetik setiap kali Raja menyebut 'fakta diverifikasi' — frasa favorit minggu ini.
Setelah selesai, Raja bilang ke Ratu: 'Bullet point lo rapi. Kirim ke Faris malam ini kalau sempat. Nggak wajib lembur.'
'Baik, Pak.'
'Tidak ada roti panggang di bullet point,' tambah Raja kering — hanya mereka berdua di ambang ruang meeting.
Ratu hampir tertawa. Tertahan. 'Saya hafal, Pak.'
'Good.' Raja pergi ke ruangannya. Nindy sudah menunggu dengan kopi — Ratu melihat dari jauh, lalu pura-pura sibuk di laptop.
Pulang lebih awal dari biasa karena tidak ada lembur. Jakarta sore macet; motor matic berdecak. Langit mulai abu-abu — hujan mungkin malam nanti.
Di rumah Belanda, lampu ruang tamu belum nyala. Ratu kunci pintu samping, bau hujan dan tanah basah.
Raja sudah di dapur — kaos abu, celana training, rambut masih agak basah. Ia buka kulkas, tutup lagi tanpa mengambil apa-apa.
'Ada sayur,' kata Ratu sambil melepas sandal. 'Saya masak nanti. Bapak… cari apa?'
'Nggak tahu,' jawab Raja jujur. 'Lapar tapi males mikir.'
Awkward — kata yang tepat untuk dapur jam setengah tujuh. Mereka sudah pernah makan nasi goreng Jumat, sudah pernah deal aturan, sudah pernah maaf ciuman. Tapi belum pernah berdiri berdua di dapur dengan keheningan yang terasa seperti ujian.
Ratu cuci tangan, ambil wortel dan telur. 'Saya bikin telur dadar sama tumis sayur. Bapak boleh ambil nasi kalau ada sisa.'
'Ada.' Raja mengambil panci kecil — gerakan yang sudah mulai familiar sejak malam-malam cuci piring bareng. 'Gue rebus telur cadangan. Lo nggak suka kalau dadar terlalu matang, kan?'
Ratu membeku setengah detik. 'Siapa bilang?'
'Lo potong dadar Jumat sebelum kuningnya kering. Observasi, bukan stalking.'
'Observasi chef rumah tangga ilegal,' gumam Ratu, tapi tidak marah.
Mereka masak berdampingan — tidak berimpit, tidak terlalu jauh. Wortel berderit di talenan. Minyak panas. Radio dapur tidak nyala; hanya bunyi kompor dan exhaust fan tua.
'Di kantor hari ini… Nindy dingin,' kata Ratu tiba-tiba, mata ke wortel.
'Nindy dingin ke banyak orang kalau nggak dapat perhatian,' sahut Raja. 'Jangan bawa pulang.'
'Susah nggak bawa pulang kalau tinggal satu atap sama bos.'
Raja berhenti mengaduk telur rebus. 'Gue bukan bos di dapur.'
'Di dapur Bapak tetap Rajasa Atma Gunadhya.'
'Dan lo tetap Ratu yang blokir cowok jahat dan bayar cicilan mobil gue pelan-pelan.' Raja menatap panci, bukan Ratu. 'Di dapur, kita cuma dua orang capek. Deal?'
Ratu mengangguk pelan. 'Deal. Tapi Bapak tetap jangan buka pintu kamar saya.'
'Ketuk. Hafal.'
Raja angkat telur rebus, dinginkan di air. 'Nenek bilang dapur itu jantung rumah. Kalau jantung awkward, rumah nggak mati — cuma irama aneh.'
'Nek Miftah suka metafora,' sahut Ratu. 'Saya lebih suka dapur yang jelas: lo masak lo, saya masak saya, wastafel bareng kalau perlu.'
'Jelas oke.'
Makan malam di meja — jarak dua kursi, konsisten. Tumis sayur, telur dadar setengah matang, nasi hangat. Raja: 'Enak.' Ratu: 'Jangan bilang roti panggang.'
'Nggak. Gue bilang telur dadar.'
Ratu hampir tersenyum. Tertahan lagi.
Setelah makan, Ratu cuci piring; Raja mengeringkan. Sinkronisasi wastafel yang sudah terasa seperti rutinitas, bukan romantis — atau belum romantis, kata aman di kepala Ratu.
Malam, di kamar, Ratu buka chat Bian — masih diblokir, jadi hanya tampilan kosong di log. Ia buka notes: *nyambung = kerja + dapur awkward. Bian blokir. cicilan 1jt bulan depan.*
Chat Desy: `Gimana rumah?` Ratu: `Awkward dapur. Telur dadar.` Desy: `Progress?` Ratu: `Progress kerja. Bukan progress cinta.` Desy: `Sure.` Ratu: `Des.` Desy: `Hafal. Tidur.`
Di seberang dinding, Raja belum tidur. Ponsel Yasa berkedip — tapi itu urusan bab lain.
Ratu matikan lampu. Nyambung — kata Desy. Awkward — kata dapur. Keduanya benar. Keduanya belum cukup untuk disebut apa-apa.